Awal Timbulnya Bahasa

Awal Mula Timbulnya Bahasa

 

Data Publikasi :

-          Judul buku                              : Linguistik Bandingan Historis

-          Penulis                                     : Gorys Keraf

-          Nama dan kota penerbit          : PT Gramedia, Jakarta

-          Tebal buku                              : 239 halaman

 

Sekitar dua juta tahun yang lalu, terdapat sejenis makhluk yang termasuk dalam kelas makhluk yang memiliki bentuk yang mirip dengan manusia, yaitu hominoid. Makhluk ini telah mampu membuat dan menggunakan peralatan kasar dari batu. Dengan ditemukannya peralatan kasar dari batu itu memunculkan kebudayaan yang memberi sugesti bahwa seharusnya sudah ada bahasa pada waktu itu, karena bahasa merupakan pra-syarat bagi pewarisan tradisional dan pertumbuhan kebudayaan.

Menurut Dr. Jacob yang tertulis pada buku Linguistik Bandingan Historis bahwa

“Bahasa berkembang perlahan-lahan dari sistem tertutup ke sistem terbuka antara 2 juta hingga setengah tahun yang lalu, tetapi baru dapat dianggap sebagai proto-lingua antara 100.00 hingga 40.000 tahun yang lalu. Perkembangan yang penting baru terjadi sejak Homo Sapiens, tetapi perkembangan bahasa yang pesat barulah di zaman pertanian.” (Keraf, 1984: hlm. 4)

Dengan tidak adanya data-data tertulis mengenai timbulnya bahasa, dikemukakanlah teori-teori mengenai timbulnya bahasa oleh para ahli, di antaranya adalah:

  1. Teori Tekanan Sosial

Teori ini dikemukakan oleh Adam Smith. Isi dari teori ini menyatakan bahwa bahasa manusia timbul karena manusia primitif dihadapkan pada kebutuhan untuk saling memahami. Apabila mereka ingin menyatakan objek tertentu, mereka terdorong untuk mengucapkan bunyi-bunyi tertentu.

  1. Teori Onomatopetik atau Ekoik

Teori ini dikemukakan oleh J.G. Herder. Dia menyatakan bahwa objek-objek diberi nama sesuai dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh objek tersebut. Maksud objek ini adalah bunyi-bunyi binatang atau peristiwa alam. Teori ini ditentang oleh Max Muller yang menjuluki teori ini dengan nama teori bow-wow. Selain itu, Sapir pun menentang teori ini karena menurutnya esensi bahasa sangat sedikit bertalian dengan imitasi. Walaupun ada kritik dari beberapa sarjana lain atas teori onomatopetik, kenyataannya memang unsur-unsur bahasa yang diciptakan manusia karena usaha meniru bunyi binatang atau gejala alam di sekitar manusia.

  1. Teori Interyeksi

Teori ini mulai dikemukakan oleh sejumlah filsuf, antara lain Etienne Bonnet Condillac. Melalui usaha Whitney, teori ini mulai diterima. Whitney menghubungkan teori ini dengan teori onomatopetiknya dan mengemukakan bahwa karena ketakutan, kegembiraan, dan sebagainya binatang atau manusia akan mengucapkan ujaran tertentu dan ujaran itu ditiru oleh manusia lainnya. Penentang teori ini adalah Sapir dan Jespersen. Sapir menyatakan bahwa interyeksi tidak bersifat simbolik. Interyeksi merupakan bagian dan kulit dari emosi itu sendiri. Sementara itu, Jespersen menyatakan bahwa interyeksi sangat spontan dan sering mengandung bunyi-bunyi yang tidak digunakan oleh bahasa itu sendiri.

  1. Teori Nativistik atau Tipe Fonetik

Teori ini dikemukakan oleh Max Muller yang mengasumsikan bahwa terdapat suatu hukum yang meliputi hampir seluruh alam ini, yaitu tiap barang akan mengeluarkan bunyi bila dipukul atau akan memberikan reaksi tertentu bila ada suatu stimulus. Max Muller tidak bermaksud untuk menyamakan manusia dengan barang, dia hanya mengatakan bahwa setiap bunyi akan menimbulkan reaksi . Reaksi manusia berbentuk vokal sehingga akan membentuk tipe-tipe fonetik yang menjadi akar bagi perkembangan bahasa. Teori Max Muller ini diberi nama dengan teori ding-dong.

  1. Teori ‘Yo-He-Ho’

Max Muller telah mengemukakan teori Yo-He-Ho antara tahun 1861-1863, tetapi teori yang dikemukakan ini bukan merupakan teori asal-usul bahasa. Sekitar tahun 1891, Muller memberikan suatu keterangan bahwa ia meminjam ide mengenai tipe fonetik dari Noire, seorang sarjana filologi Prancis. Teori Noire ini bertolak dari suatu anggapan bahwa kegiatan otot-otot yang kuat mengakibatkan usaha pelepasan melalui pernapasan secara keras. Pelepasan melalui pernapasan ini menyebabkan perangkat mekanisme pita suara bergetar  karena getaran itu timbullah bunyi ujaran.

  1. Teori Isyarat

Teori ini diajukan oleh Wilhelm Wundt. Teori tentang asal-usul bahasa ini didasarkan pada hukum psikologi bahwa tiap perasaan manusia mempunyai ekspresi yang khusus yang merupakan pertalian tertentu antara syaraf ‘reseptor’ dan syaraf ‘efektor’. Tiap ekspresi dihubungkan dengan syaraf tertentu untuk mengkomunikasikan kenyataan-kenyataan pada orang lain. Bahasa isyarat timbul dari emosi dan gerakan ekspresif yang tidak disadari dan menyertai emosi. Wundt juga mengatakan bahwa bahasa isyarat adalah bahasa primitif. Namun, tidak menegaskan bahwa bahasa artikulatoris (bahasa ujaran) berkembang dari bahasa isyarat. Wundt menganggap kedua bahasa tersebut dipakai bersama-sama, tetapi bahasa ujaran memperoleh status yang lebih tetap.

  1. Teori Permainan Vokal

Teori ini dikemukakan oleh Jespersen. Teori ini menguraikan tiga bidang penelitian: 1. Bahasa anak-anak, 2. Bahasa suku-suku primitif, dan 3. Sejarah bahasa-bahasa. Bahasa manusia mulanya berwujud dengungan dan senandung yang tak berkeputusan dan tidak meungkapkan pikiran apapun. Hal ini sama seperti suara orang tua untuk membuai dan menyenangkan seorang bayi. Dengan demikian, Jespersen beranggapan bahwa bahasa manusia lebih bersifat puitis, dalam permainan riang gembira. Teori Jespersen berusaha untuk menjembatani kesenjangan antara vokalisasi emosional dan ideasional.

  1. Teori Isyarat Oral

Teori ini dikemukakan oleh Sir Richard Paget dalam bukunya Human Speech.  Untuk menunjang teorinya, ia mengemukakan banyak bukti. Ia membuktikan dengan bertolak dari zaman bahasa isyarat. Ketika manusia mulai menggunakan peralatan, tangannya mulai dipenuhi barang-barang itu sehingga tangannya tidak bisa dipergunakan lagi dengan bebas dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, manusia memerlukan alat lain. Selanjutnya, Paget memperlihatkan kesamaan antara bunyi-bunyi ‘sintetik’ dan beberapa kata dari bahasa primitif. Teori ini memiliki dua kelemahan yang diperlihatkan oleh de Laguna, yaitu:

  1. Adanya asumsi bahwa bahasa ujaran berkembang sebagai fenomena individual yang tergantung pada ide-ide pengungkapan sedangkan bahasa adalah alat untuk mengungkapkan ide-ide itu.
  2. Adanya asumsi bahwa awal mula ujaran baru muncul sesudah adanya ras manusia. Ras manusia memiliki proses mental tertentu yang diperukan untuk berkomunikasi.
  3. Teori Kontrol Sosial

Teori ini dikemukakan oleh Grace Andrus de Laguna. Suatu medium yang besar yang memungkinkan manusia bekerja sama disebut dengan ujaran. De Laguna juga menganggap bahwa ujaran didasarkan pada aktivitas kehidupan yang sungguh-sungguh bukan sekedar permainan yang menyenangkan dan kesenangan remaja.

  1. Teori Kontak

Teori ini dikemukakan oleh G. Revesz. Sebagian kecil dari teori ini menyerupai teori tekanan sosial yang diajukan oleh Adam Smith. Teori ini memperlihatkan adanya kebutuhan untuk mengadakan kontak satu sama lain dan tidak pernah memberikan kepuasan antara individu-individu dari setiap spesies. Tahapan dalam teori ini adalah kontak spasial, yaitu kontak karena kerapatan jarak fisik. Kemudian kontak emosional yang ditandai dengan kepuasan akan tercapainya kedekatan emosional dengan orang lain. Kemudian kontak intelektual, yaitu aspek terakhir yang sangat esensial bagi perkembangan bahasa dan berfungsi untuk bertukar pikiran.

  1. Teori Hockett-Ascher

Teori ini dikemukakan oleh Charles F. Hockett dan Robert Ascher. Apa yang dikemukakan oleh kedua sarjana ini merupakan sintesa yang didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan oleh sarjana-sarjana lain. Hockett dan Ascher menerima bahwa sekitar dua sampai satu juta tahun yang lalu, proto hominoid sudah memiliki semacam ‘bahasa’. Primata ini memiliki sistem komunikasi yang disebut call (panggilan). Sistem call merupakan sistem yang sederhana, terdiri dari sekitar enam tanda distingtif. Keenam perbendaharaan call itu adalah

  1. Call untuk menanadakan adanya makanan;
  2. Call untuk menyatakan bahaya;
  3. Call untuk menyatakan keinginan bersahabat;
  4. Call untuk menunjukkan anggota kelompok berada;
  5. Call untuk perhatian seksual; dan
  6. Call untuk menyatakan kebutuhan akan perlindungan keibuan.

Menurut Hockett dan Ascher, sekitar satu juta tahun yang lalu, proto hominoid berkembang menjadi pra-kera dan pra-manusia karena suatu peristiwa yang sangat penting, yaitu ketika proto hominoid mulai membuat tempat kediaman mereka di tanah dengan cara yang kasar. Jadi, pra-bahasa menjadi bahasa karena timbulnya kekembaran pola pada pra-bahasa. Dengan demikian, mengubah pra-bahasa menjadi bahasa.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa awal mula timbulnya bahasa dikemukakan oleh banyak tokoh melalui berbagai macam teori dan bukti-bukti yang telah mendukung masing-masing teori.

2 pemikiran pada “Awal Timbulnya Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s