1

Ketika Peneliti Harus “Bercerita” tentang Tradisi Lisan

 

Pengantar

Ditemukan kenyataan punahnya dan mulai menghilangnya berbagai tradisi lisan dalam kehidupan masyarakat pendukungnya, ternyata di sisi lain tampak bahwa tradisi lisan memiliki potensi untuk tetap dapat bertahan hidup dengan berbagai cara dan wahana, antara lain melalui media budaya aktual, seperti televisi, iklan, dan internet. Pertunjukan atau pementasan tidak hanya seni panggung yang ditonton oleh khalayaknya, tetapi juga sebagai peristiwa sosial budaya. Dalam revitalisasi tradisi lisan, ada kendala metodologis yang ditemui ketika melakukan pendekripsian kembali sebuah pertunjukan atau pementasan.

Kendala Metodologis

Kendala metodologis dari revitalisasi tradisi lisan adalah cara peneliti untuk dapat menceritakan kembali dan memaparkan suatu tradisi lisan dengan jelas sehingga seakan-akan pembaca menyaksikan tradisi lisan tersebut secara langsung. Hal itu karena rekaman hanya mewakili sebagian dari pementasan tradisi lisan. Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk merevitalisasi tradisi lisan, yaitu pendokumentasian perekaman, pelibatan sebanyak mungkin pendukung tradisi lisan tersebut, dan pementasan sebanyak mungkin di berbagai situasi dengan penonton yang berbeda-beda pula. Revitalisasi tradisi lisan dianggap berhasil jika tradisi lisan yang direvitalisasi tersebut dapat dihidupi dan menghidupi masyarakat pendukungnya.

Hagemoni “Panggung” atau “Kekuasaan”

Dalam meneliti tradisi lisan, peneliti bisa saja tidak mendapatkan apa yang diharapkannya dari pertunjukan tradisi lisan. Kadang peneliti bisa menganggap sebuah pertunjukan tradisi lisan cacat. Misalnya, suatu pertunjukan tradisi lisan dianggap tidak mempunyai alur yang lengkap (tidak mempunyai awal dan akhir) oleh peneliti, tetapi  para pemainnya menganggap itulah makna pertunjukan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, peneliti harus memeriksa lagi seperti apa kelengkapan suatu pertunjukan tradisi lisan dan posisi cerita dalam pertunjukan tersebut. Ada baiknya seorang peneliti tidak memaksakan teori atau konsep dalam menganalisis pertunjukan tradisi lisan.

Peneliti tidak mempunyai kuasa untuk ikut campur dalam pertunjukan lisan. Namun, sebuah pertunjukan tradisi lisan dapat dikuasai oleh unsur luar yang lain. Pertunjukan tradisi lisan dapat “dikuasai” oleh orang yang mensponsori pertunjukan tradisi lisan tersebut.

 

Daftar Pustaka

MPSS, Pudentia. 1998. Ketika Peneliti Harus “Bercerita” tentang Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.