Posted in curhat, Pesan Ayah

Sabtu Malam

Laki-laki itu duduk bersila di atas hamparan  benda berbentuk persegi panjang. Duduk bersila memandangi kami bertiga, aku, kakakku, dan adikku. Di atas hamparan sejadah itu ia lamat-lamat memandangi kami, ketiga anaknya yang kini sudah beranjak dewasa. Dengan senyum simpulnya, lelaki yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu pun memulai sebuah pembicaraan. Untuk kami, anak-anaknya.

Bagiku, sabtu malam adalah malam yang biasa. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada yang istimewa. Ketika orang-orang mungkin sibuk menghabiskan waktu dengan urusan mereka di luar rumah. Keluargaku justru menghabiskan sabtu malam hanya di rumah saja. Ada sebuah kajian yang selalu kami lalui untuk menghabiskan sabtu malam. Sebuah kajian dimana ayahku, aku, kakakku, adikku, dan  ibuku menghabiskan waktu bersama-sama sejak azan magrib berkumandang hingga selepas isya. Seperti biasa, kami solat magrib berjamaah kemudian membaca surat-surat al-quran sambil menunggu isya. Inilah penghabisan sabtu malam dengan cara keluargak, sejak tiga tahun yang lalu.

Lelaki yang tengah duduk bersila di depanku kini memulai pembicaraannya. Ia berbicara dengan suara datar. Ia katakan beberapa hal yang sering dikatakannya lalu-lalu. Ia katakan hal-hal yang sewajarnya dikatakan oleh orangtua kepada anak-anaknya. Jadilah anak yang pintar; ingatlah terus kepada Allah dimana pun kita berada; lakukan hal-hal yang baik pada orang-orang. Ya, pesan-pesan seperti itu biasa ia katakan selepas isya setiap sabtu malam. Namun, malam ini ada sesuatu yang lain. Lelaki berbaju koko kuning muda itu menyampaikan kalimat-kalimat yang membuat memori masa-masa SMPku menyusup ke dalam otak.

“Seperti layaknya komputer, tidak akan bisa bekerja seandainya kita tidak menghidupkan tombol On, ya kan? itu karena komputer ada yang menciptakan, siapa yang menciptakannya? Kita juga kan? begitu pula dengan manusia, tidak akan bisa bekerja jika tidak ada yang menghidupkan atau menjalankannya. Siapa yang berhak menjalankan kita ini?” lelaki itu bertanya, matanya perlahan-lahan menjelajahi tiap pandangan kami.

Kami bertiga diam. Hanya saling memandang satu sama lain.

“Kita dijalankan oleh Allah, pemilik alam semesta sekaligus beserta isinya…..” ucap lelaki itu. Kalimatnya menggantung

“Lalu?” tanyaku, sedikit penasaran.

“Dengan cara apa agar kita bisa digerakkan dengan baik?”

Lagi-lagi kami bertiga diam dan hanya saling berpandangan.

“Perbanyaklah berdzikir….. dengan mengingat-Nya tentu segala perbuatan kita akan digerakkan-Nya dengan baik. Cukup baca itu asmaul husna, kalau kalian rutin baca insyaAllah…. ”

Mendengar kalimat lelaki itu membuat memori ku menari-nari mencari kenangan yang tertinggal semasa SMP. “Kemana hafalan asmaul husna yang sering aku baca kala itu? kemanakah hafalan juz 30 ku? sejak kapan aku melupakan dan tidak mengulang-ulang lagi? kemanakah semuanya?” aku bertanya sendiri.

Lelaki berkoko kuning mengatur pergerakan duduknya seperti hendak menyelesaikan sesuatu. Sementara aku masih memperhatikannya sambil memikirkan banyak hal yang tiba-tiba masuk berdesakan ke dalam memoriku.

“Coba diingat-ingat lagi…. dibaca-baca lagi….”

Hanya itu kalimat yang diucapkan setelahnya. Kemudian ia berdiri dan beranjak pergi menuju sebuah ruangan.

 

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s