Posted in curhat

Sebuah Pertemuan

Panas matahari tak menggetarkanku untuk datang menemui kawan tercinta. Setelah sekian lama tak bersua, kini saatnya pertemuan itu datang kembali. Peluh keringat tak terasa membasahi pipiku. Menunggu seseorang memang tidak mudah, butuh kesabaran di dalamnya. Kali ini aku menunggu kawan yang memang tak pernah kutemui lagi walau kami sekolah di satu kampus yang sama. Entah karena jadwal yang begitu padat hingga menyibukkan diri kami masing-masing atau hanya keengganan untuk memberikan sedikit waktu bersama-sama. Aku tetap menunggu dia, di depan halte busway. Tempat favorit kami dulu setiap kali berjanji untuk menghabiskan uang dan waktu kami. Entah untuk pergi kemana dan untuk apa.

“Hei!” tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang.

“Eh kamu….” belum sempat menyelesaikan ucapanku. Gadis di depanku langsung menarik lenganku menuju pembayaran tiket.

“Cepetan nanti Winda keburu kelewatan!”

Tanpa basa-basi segera kurogoh dompet mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan. Sengaja kuambil uang itu agar dapat pecahan puluh ribuan lain.

“Mana Windanya?” aku masih bingung maksud gadis di depanku ini. Rupanya ia hanya datang sendiri. Tidak seperti perjanjian sebelumnya. “Phepe mana?”

“Dia gak ikut. Di suruh jaga rumah ama ibunya.” jawab Panca, gadis yang sudah duduk di sampingku kini.

Selang beberapa lama waktu kemudian.

“Eh… eh, itu Winda! Windaaaaa”

Masih saja! anak-anak itu kalau sudah bertemu seperti kerumulan anak TK yang hendak dikasih permen! Padahal mereka hanya berdua, tetapi volume suara mereka seakan-akan berada di kerumunan banyak orang. Ramai sekali. Sementara aku hanya diam. Seperti biasa seulas senyum kulukis di wajahku. Menyambut Winda beserta Rosa. Mereka berdua pernah belajar di satu kelas yang sama semasa SMA dulu. Panca, Rosa, Winda, serta dua temanku lainnya yang sekarang sudah berada di tempat kita janjian.

Masih sama. Walau sudah dua tahun kami tidak bersua. Sifat mereka masih juga sama. Tak ada yang berubah. Panca masih tetap dengan sifat energiknya. Winda dengan kehebohannya. Sementara Rosa, ia hampir sama denganku. Sedikit ekspresi.

Singkat cerita. Setengah jam setelah “reunian kecil”ku dengan mereka. Kami berempat kembali bertemu dengan dua gadis cantik. Mereka adalah Ratu dan juga Diyan. Masih sama. Tetap tidak yang berubah walau dua tahun tak bersua. Mungkin rentang waktu dua belum cukup membuat sebuah “perubahan” yang signifikan dalam diri kami masing-masing. Karakter Ratu tetap sama centilnya dan sifat Diyan yang tetap dengan cuek khasnya.

Detik-detik berlalu mengawali pertemuan kita. Waktu berlalu dengan obrolan-obrolan ringan seputar kehidupan kami selama dua tahun belakangan ini. Semuanya berlalu dengan memberikan pengalaman-pengalaman yang berbeda. Aku, Panca, dan Winda yang masih dalam satu universitas yang sama memiliki cerita yang luar biasa untuk diceritakan pada Rosa, Ratu, dan juga Diyan. Sementara Rosa, Ratu, dan Diyan yang masing-masing kuliah di tempat yang berbeda juga memiliki pengalaman yang tak kalah hebatnya. Aku cukup senang dengan pertemuan ini. Walau di antara kami masih belum terlihat “berbeda”, tetapi masing-masing dari kami memiliki banyak pengalaman yang hebat.

Dengan gaya khasnya,  Winda memiliki ide yang untuk mencoba masuk dalam sebuah “arena bermain”. Arena bermain yang masih terlalu asing untuk kami semua. Ice Skating. Pertama kali mendengar kata itu. Hal yang pertama kali kupikirkan adalah bagaimana cara meluncur di atas es? sedangkan aku sama sekali belum pernah. Entahlah, aku hanya bisa meyakinkan diri bahwa ide Winda cukup mengejutkanku!

Ternyata apa yang terjadi ketika enam orang gadis yang tidak berpengalaman masuk ke dalam arena bermain? bukan, arena perang maksudku. Kami semua kalah! karena meluncur di atas es benar-benar membuat kami kewalahan! Lihat saja Rosa yang tidak pernah beranjak dari gagang pinggir yang melingkari seluruh arena permainan ini. Perhatikan juga Panca dan Winda yang sudah terjatuh tiga kali hanya karena permukaan es yang licin dan ketidakmampuan mereka dalam menyeimbangkan badan. Sementara aku, Ratu, dan Diyan masih bisa menguasai area. Namun tetap saja kami berenam jatuh dalam arena permainan itu! Apapun itu, sebuah pertemuan yang hanya berdurasi empat jam ini tetap kami nikmati! sebuah pertemuan singkat yang memberi makna.🙂

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s