Posted in curhat

Sebuah Keinginan

Pernah ayahku bertanya tentang masa depanku.

“Setelah ini kau mau bagaimana?”

Aku hanya menjawab dengan diam. Jujur, aku memiliki sebuah kenginan. Namun, entah mengapa aku masih saja ragu untuk mengungkapkan.

“Setiap kali kamu punya keinginan, jangan lupa dicatat. Tulisanlah yang akan mengingatkanmu, ketika kamu lupa akan sesuatu.”

Sejenak aku berpikir. Ya, memang aku seringkali melupakan sesuatu. Itu sebabnya aku suka menulis, walau hanya tulisan remeh temeh.

“Masih belum punya keinginan?”

“Punya.” Jawabku, sedikit ragu dan malu. Aku tak yakin dengan perkataan yang akan aku lontarkan atau mungkin aku takut.

“Apa?”

“Aku ingin punya sekolah.”

Kulihat ukiran senyum terukir di wajah panjang ayahku.

“Bagaimana kamu mewujudkannya?”

“Mmm….” malu-malu aku menjawab pertanyaan ayahku. Aku benar-benar tak yakin. Bahkan memiliki keinginan saja aku takut. Bagaimana aku bisa berjuang untuk menggapainya? Kulihat kondisi keluargaku yang sederhana. Aku juga tidak memiliki penghasilan untuk ditabung. Otakku juga tidak encer. Lalu kenapa aku bisa memiliki keinginan punya sekolah? bukankah itu terlalu muluk-muluk?

“Kamu tahu do’a itu mujarab kan?”

“Ya.”

“Papa tahu, mungkin kamu merasa keinginanmu terlalu muluk. Bisa kelihatan dari nada bicaramu yang ragu-ragu. Apa salahnya? Keinginan kamu itu mulia, kenapa harus takut?”

Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Aku terlalu bingung. Aku hanya ingin punya sekolah. Tetapi untuk mewujudkannya? Bagaimana?

“Begini, kenginanmu itu….. mantapkan dalam hati. Caranya bagaimana? Kamu bilang ingin punya sekolah kan? Punya sekolah itu, jangan tanggung-tanggung! Kau minta untuk bisa memiliki sekolah seperti kampusmu sekarang.”

“Caranya?”

“Setiap kali kamu bersender di tiang, tembok, atau apapun di kampusmu. Jangan lupa untuk membaca shalawat atas Nabi. Bicara saja dalam hati, Ya Allah…. kelak aku ingin memiliki gedung seperti ini. Aku ingin memiliki sekolah.” Begitu kata ayahku sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Mencoba mempraktikkan cara agar aku bisa menirunya.

Entah kenapa, walau kalimat itu sederhana. Dadaku langsung berdesir. Mataku berkaca-kaca. Walau kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu mendalam untukku. Ya, Pah. InsyaAllah aku akan mengikuti petunjukmu.

 

Dua minggu setelah ucapan sederhana itu. Aku mengikuti sebuah seminar entrepreneurship yang dilaksanakan oleh Ust. Yusuf Mansur. Beliau mengatakan sesuatu yang hampir sama dengan ayahku. “Ketika kau memiliki kenginan, berdo’a lah pada Allah, mintalah pada Allah. Bershalawatlah. Sederhana kan?” Sekali lagi, aku diingatkan. Sebuah kalimat sederhana yang jika kita ucapkan secara istiqomah. InsyaAllah, InsyaAllah akan terkabul. Begitu janji-Nya.

 

Allah berfirman, ” Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan, dan siapa yang memohon kepada-Ku, pasti Kuberikan, dan siapa yang memohon ampun pada-Ku, pasti akan Aku ampuni.” (Hadits Bukhari, Muslim, Maliki, Tirmidzi)

 

Ya Allah, aku ingin memiliki sekolah suatu hari nanti. Kau bisa mengabulkannya, kan? Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu. Aamiin yaa Robbal aalamin.

 

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s