Posted in curhat

Teh Buatan Tomi

Hal inilah yang terkadang membuatku bingung untuk menerka betapa besarnya kasih sayang Tomi. Ia selalu mampu menunjukkan sisi cueknya padaku, tetapi di satu sisi ia juga begitu perhatian. Aku tahu, sebenarnya, selama ini ia begitu sabar membantuku dan menjagaku. Namun, di satu sisi sikap cueknya selalu membuatku merasa gemas dan tidak tahu harus berbuat apa padanya. Ia hanya diam dengan segala sesuatu yang justru kuanggap penting, pokoknya selalu membuatku gemas.

 

Misalnya, sisi pedulinya bisa kurasa pagi ini. Walau kurasa ini hanya sakit biasa. Tapi, ia begitu telaten mengurusiku. Padahal aku tidak mengeluh dan berkata kalau aku sedang sakit. Namun, pagi ini Tomi segera membawakan secangkir teh panas untuk memulihkan staminaku.

 

Sepertinya ia tau, kalo pagi ini aku tidak seperti biasanya.

Ia meraba keningku dan berkata, “Apa yang kamu rasakan? kamu demam ya?”

Aku hanya tersenyum. Ia pun pergi ke dapur dan aku ikut membuntutinya.

Di dapur, aku memperhatikannya mengambil sebuah cangkir berwarna putih dan bungkusan teh di dalam sebuah kotak.

 

Aku selalu bingung setiap kali dia membuatkan teh untukku.

Kalau boleh jujur, sebenarnya, Tomi tu aneh. Membingungkan. Tomi itu suka nanggung kalau bikin teh, gak jelas. Kadang bikin teh manis dan kadang  bikin teh tawar. Jadi, dia mau bikin teh tawar atau teh manis? Kalau dia mau bikin teh manis, kenapa setelah diberi gula, dia tidak segera mengaduknya?

 

“Nih, tehnya…”

“Kok gak diaduk dulu?” meski sudah dibuatkan teh, aku tetap saja protes dengan cara dia membuat teh.

 

Tuh, lihat. Gulanya saja belum diaduk, masa musti kuminta dulu? kalau begitu caranya, kapan gula itu larut? kapan teh itu akan manis? oh, mungkin saja ia mau membuat teh tawar untukku. Ia memang sengaja tidak membuat teh itu manis, karena mungkin ia tahu setiap teh akan berakhir dengan rasa pahit. Itu sebabnya, ia sengaja membiarkan gula pasir mengendap di dasar cangkir agar nanti teh ini berakhir dengan rasa manis.

 

“Kau sengaja ya tidak suka mengaduk gula setiap kali bikin teh ?” tanyaku sambil meliriknya.

Dia hanya diam. Lagi-lagi sikap cueknya kumat. Bikin gemas saja.

 

Ah, nih anak! diam lagi, diam lagi.

Meskipun demikian, asal tahu saja, entah itu manis, tawar,  ataupun setengah manis, setengah tawar. Aku  akan selalu suka teh buatannya. Kau tahu tidak, Tom?

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s