Posted in Cerpen

Tak Jadi Kukirim, Karena Tak Kan Terbalas

Ada masanya di saat aku selalu mencuri waktuku untuk hanya sekedar menyita perhatianmu. Semata-mata supaya aku bisa bermain kecil bersamamu.Sudah hampir tiga tahun aku begini. Tiga puluh bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Sampai akhirnya kau akan dapatkan angka 4.665.600.000.

Itulah angka yang harus aku korbankan sejak pertama kali aku jatuh cinta padamu. Kau tahu, sejak saat itu. Sebenarnya, tulisan ini bukan untuk merayu atau berkeluh kesah. Aku hanya ingin jujur. Angka miliaran tadi adalah fakta matematis. Empiris. Semua orang pasti berkata cinta tidak logis. Cinta bisa masuk merambah dimensi angka dan rasa sekaligus.

Sebenarnya, seringkali aku bertentangan dengan diriku sendiri. Setengah dariku ini menginginkan agar kamu datang, menjemputmu, bercanda,dan bersuka ria.Kau ulurkan tikar di bawah rindangnya pohon dan memberikan pundakmu agar aku bisa bersandar walau hanya beberapa detik saja.Kau bawakan aku payung kala lebatnya hujan dan teriknya matahari. Kau nyanyikan aku tentang lagu senja di sore hari. Kau janjikan aku untuk tidak pernah pergi dan selalu menuntun kala aku tersesat.Semuanya tentang hidupku, hidupmu,dan hidup kita yang begitu indah. Kita saling jatuh cinta lagi, jatuh cinta lagi, dan lagi.

Setengah diriku menginginkan hal yang lain. Kau datang padaku, mengejekku, mencaciku, membenciku, menertawakanku, bahkan menyumpahiku. Berkata bahwa aku ini gila. Aku yang begitu menyedihkan. Aku yang selalu rapuh, tidak berdaya. Aku yang tidak berguna. Kau pergi dan meninggalkanku. Berjanji untuk tidak ingin lagi melihat dan membersamaiku. Aku dan kau semuanya hilang.

Kau tahu, banyak surat-surat yang kutulis tentangmu. Namun, pada akhirnya tak pernah terkirim, karena sebenarnya aku hanya ingin berbicara pada kata dan lembar-lembar kertas saja.  Bercanda pada angin dan berdiskusi pada sunyinya malam.

Dalam hati aku takut. Aku takut, tetapi ingin jujur. Dan kejujuran ini membuatku meragu. Kadang aku selalu memutar kembali otakku dan menyadari bahwa pengalaman selalu saja mengikat hubungan oleh sebuah tali yang bernama perasaan. Lama bagiku untuk tak menoleh lagi ke belakang. Menghitung kembali, berapa banyakkah pengalaman yang sudah kita alami bersama?

Ingin sekali memencet tombol berhenti. Ingin berhenti dari tak beriramanya denyut nadi ini. Berhenti dari sesaknya udara yang masuk tak pernah beraturan dari organ ini. Pada akhirnya….. hanya berhenti di sebuah meja dan kata yang dikelilingi oleh tulisan tanganku. Pada akhirnya…. aku menangis sejadi-jadinya dan tak pernah bisa menghentikan irama tak beraturan ini.

Kamu tak pernah menyimpan rupaku dalam memori. Aku yang selalu tersiksa menatapmu lama-lama. Aku yang hanya bisa berbagi kesedihan, kerapuhan, ketidakrelaan, dan sulitnya perpisahan yang kulakukan sendiri.  Sudahi saja, sudahi saja merangkai kata dalam surat. Sudah cukup. Tak jadi kukirim. Karena begitu menyedihkan, menyadari tidak ada jaminan surat-surat ini kan terbalas.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Ditandai:

One thought on “Tak Jadi Kukirim, Karena Tak Kan Terbalas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s