Posted in Sedikit Ilmu

Tentang Sejarah Bahasa Indonesia

Menurut H. Steinhard dalam buku Masa Lampau Bahasa Indonesia dijelaskan mengenai alasan pemilihan bahasa Melayu yang selanjutnya menjadi bahasa Indonesia. Sebelum bahasa Melayu ditetapkan sebagai bahasa nasional bangsa Indonesia, bangsa Indonesia telah menetapkan bahasa Jawa sebagai bahasa resmi yang dipakai oleh rakyat Indonesia. Namun, pemilihan bahasa Jawa sebagai bahasa nasional bangsa Indonesia memiliki banyak kendala, yaitu pertama bahasa Jawa akan dianggap sebagai pengistimewaan yang berlebihan, seperti yang dikemukakan oleh Prentice bahwa pengambil alihan bahasa Jawa sebagai bahasa nasional bangsa Indonesia merupakan tindak pengambil-alihan. Hal ini dapat menyebabkan gerakan separatisme sehingga bahasa Jawa tidak diambil sebagai bahasa nasional Indonesia. Alasan kedua, bahasa Melayu lebih dapat diterima daripada bahasa Jawa. Bahasa Melayu memiliki kemudahan bersifat linguistik, tidak hanya secara fonetis dan morfologis, tetapi juga bersifat leksikal. Bahasa Jawa memiliki ribuan morfem leksikal dan bersifat gramatikal, ini artinya bahasa Jawa memiliki ciri yang kompleks. Selain itu, situasi penggunaan bahasa Jawa akan menunjukkan status sosial. Hal itu akan mencerminkan masyarakat feodal.Oleh sebab itu, penggunaan bahasa Jawa bertentangan dengan persamaan derajat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Selain alasan yang telah dikemukakan di atas, alasan terpenting adalah kenyataan bahwa bahasa Melayu mempunyai sejarah yang panjang sebagai Lingua Franca.Hal ini dapat dilihat dari sejarah-sejarah yang telah dijelaskan oleh sumber-sumber Cina kuno dan sumber dari Persia serta Arab. Sumber yang ditemukan di sekitar Palembang dan Pulau Bangka menuliskan bahwa bahasa yang dipakai oleh kerajaan Sriwijaya lebih dekat dengan bahasa Melayu klasik daripada bahasa Austronesia. Selain itu, dua inskripsi kuna yang ditemukan di Jawa Tengah juga ditulis dalam bahasa yang sama.

Bahasa Melayu yang dipakai di Jakarta pada saat itu, diduga tumbuh pada masa kolonial. Namun, bahasa itu menunjukkan sifat yang arkais seperti bertahannya oposisi antara /ə/ dan /a/ pada suku kata dasar yang tertutup. Hal yang menyebabkan bahasa melayu Jakarta *ə melebur adalah pengaruh bahasa Jawa, Sunda, dan Bali. Selain itu, warisan langsung dari dialek Melayu arkais yang tidak dikenal.

Menurut A.Teuuw (1959:153) bahasa Melayu merupakan bahasa elit sampai abad ini. Menurut Vorhoeve (1955:22) bahasa Melayu memiliki ragam bahasa sastra yang dimiliki di Lampung. Di luar Sumatra, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa sastra, seperti di kesultanan Banjarmasin, Brunei, dan Kutai di Kalimantan serta Bima di Sumbawa. Hal tersebut dapat dibuktikan oleh pernyataan Blagden bahwa Sultan Ternate pernah mengirim surat kepada Raja Portugal, padahal kedua orang tersebut bukan orang Melayu.

Menurut William Marsden, seorang pakar masalah Sumatra berkebangsaan Inggris, menyatakan bahwa bahasa Melayu memiliki empat “gaya”, yaitu gaya istana, gaya golongan sopan, gaya perniagaan, dan gaya campuran jargon pasar. Gaya istana dan gaya golongan memiliki sedikit perbedaan, perbedaan terletak pada penggunaan kata-kata yang sedikit yang diperuntukkan untuk raja. Kedua campuran gaya istana dan gaya golongan sopan akan membentuk gaya sastra. Gaya perniagaan digunakan oleh pedagang antarpulau dan ditandai sebagai gaya yang kurang anggun dan elegan dibandingkan dengan gaya istana dan golongan sopan. Selain itu, gaya campuran jargon pasar digunakan di kota pelabuhan sebagai alat konvensi.

Budi Utomo yang didirikan tahun 1908 merupakan gerakan yang mendasari persamaan hak. Walaupun perkumpulan ini diilhami oleh kebudayaan Jawa, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu sehingga terjangkau oleh penduduk Pulau Jawa yang berbahasa Sunda dan Madura, hal ini dapat mengurangi pemakaian tingkat-tingkat bahasa Jawa. Bahasa Melayu memiliki empat pengelompokkan, yaitu bahasa melayu yang digunakan di sejumlah besar daerah inti Melayu dan sepanjang pantai Kalimantan. Bahasa-bahasa yang mirip dengan bahasa Melayu tetapi memiliki dialek tersendiri seperti Minangkabau dan Kerinci. Bahasa Melayu Jakarta yang dipengaruhi oleh bahasa non-Melayu serta bahasa pijin yang memiliki lebih dari satu varietas.

Bahasa pijin menyebabkan berkembangnya berbagai varietas kreol, terutama di Indonesia Timur. Bahasa kreol yang berada di Indonesia Timur perlu diperhatikan, terutama leksikon yang dipakai dan unsur Melayu yang terdapat di dalamnya. Selain itu, bahasa kreol yang patut diperhatikan adalah bahasa Melayu Baba, yaitu bahasa percakapan yang digunakan oleh orang Cina kelahiran sekitar selat Malaka. Tumbuhnya keberagaman kreol disebabkan oleh politik perdagangan dan kependudukan penguasa kolonial. Kegiatan mereka menyebabkan berakhirnya kesusastraan Melayu klasik.

Bahasa Indonesia modern mulai berkembang dengan cepat pada masa pendudukan Jepang. Pada saat itu, Jepang menghapus semua hal yang berkaitan dengan Belanda sehingga menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi. Pada tahun 1972 Indonesia mengadakan negosiasi perubahan pengejaan, negosiasi tersebut mengakhiri perbedaan ragam tulis antara bahasa Indonesia dengan bahasa Malaysia.

Masa awal kemerdekaan Indonesia memunculkan sejumlah tata bahasa yang normatif. Tata bahasa tersebut tidak terlalu berbeda dalam gejala diperikannya maupun dalam lambang-lambang yang dikenakan pada bahasa itu. Dibandingkan dengan tata bahasa sebelumnya, hanya beberapa pembaharuan yang diterima. Contoh pembaharuan tersebut adalah proses nominalisasi dengan sufiks-nya yang berasal dari Jawa dan pada saat ini dianggap sangat produktif. Pembaharuan lain adalah penggunaan dasar verba yang didahului oleh pelaku dalam klausa kausa relatif.

Peningkatan pemakaian bahasa Indonesia memiliki beberapa alasan, yaitu disebabkan oleh hierarki sosial berubah secara dramatis sehingga penggunaan tingkatan bahasa menjadi sulit. Mobilitas penduduk yang meningkat menyebakan bertambahnya jumlah perkawinan antaretnis sehingga dalam keluarga tersebut harus menggunakan bahasa yang sama. Jumlah orang tua yang membesarkan anaknya menggunakan bahasa Indonesia makin banyak. Pertumbuhan urbanisasi mendekatkan banyak orang yang memiliki etnis berbeda menggunakan komunikasi antaretnis dengan bahasa Indonesia.

Faktor-faktor yang telah disebutkan di atas menyebabkan bahasa-bahasa Melayu lokal pada akhirnya melebur menjadi bahasa Indonesia resmi. Bahasa Indonesia resmi dipakai pada peristiwa-peristiwa resmi. Selain itu, bahasa Indonesia resmi digunakan juga dalam lingkungan yang lebih wajar, yaitu pemerintahan dan pendidikan. Namun, penggunaan bahasa Indonesia di dunia pendidikan tidak menyebabkan pemakaiannya menjadi umum. Dalam kumpulan artikel yang ditulis antara tahun 1966 dan 1974, Harimukti Kridalaksana (terbitan ketiga tahun 1960) mengkritik pendekatan pendidikan terhadap bahasa Indonesia. Himbauan Harimukti Kridalaksana adalah penggunaan bahasa Indonesia baku di kalangan pelajar.

Perkembangan bahasa Indonesia di masa depan akan dipengaruhi oleh bahasa Jawa di dalam pembentukkan istilah baru. Namun, pengaruh bahasa Melayu Jakarta masih lebih kuat daripada bahasa Jawa. Hal ini karena bahasa Melayu Jakarta merupakan bahasa ibukota, bahasa ini merupakan  lambang kemajuan dan modern. Dampak perkembangan struktur dan kosakata bahasa Indonesia dan untuk peta bahasa Indonesia tidak dapat diramalkan. Ini memerlukan waktu sebelum bahasa Indonesia mantap untuk pemerian sinkronis yang sahih bagi mayoritas penduduknya dan dapat bertahan lama.

Daftar Pustaka :
Kridalaksana, Harimurti. (1991). Masa Lampau Bahasa Indonesia : Sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Kanisius.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s