Posted in Cerpen

Kelak di Surga Nanti

Kalau bukan karena bulan keenam. 21 Juni 2007. Kalau bukan karena aku jawab ya. Kalau bukan karena aku jawab baiklah. Kalau bukan karena bulan kesembilan ada kata tidak. Kalau bukan karena aku dan dia…..
Tak akan ada kisah…..
 
Namaku Sumayah. Biasa dipanggil chuu. Cukup. Itu saja. Aku punya satu kisah. Kisahku tentang cinta. Akh, cinta…… terlalu banyak orang yang bercerita tentang cinta dan kau…. mungkin sudah bisa menebak akan seperti apa kisahku ini. Karena pada awalnya bulan keenam, pertemuan antara aku dan cinta mulai terajut. Karena pada awalnya bulan keenam ada kata “Ya” dalam pertemuan itu. Karena pada awalnya bulan keenam ada kata “Baiklah” pada perjumpaan itu. Karena pada bulan keenam aku melihat dunia seperti lapangan luas yang dipenuhi oleh bunga yang bermekaran, berwarna-warni, harum, dan kau bisa bayangkan betapa indahnya bunga yang bermekaran itu. Karena pada bulan keenam aku merasa menjadi cinderella yang telah menemukan pangerannya. Karena pada bulan keenam hidupku terasa semakin terang, dipenuhi oleh cahaya-cahaya cinta. Karena pada bulan keenam aku dan cinta menjadi satu. Hari itu tanggal 21 Juni 2007.
 
Pada bulan ketujuh, dunia terasa makin indah. Seindah matahari senja di sore hari. Seindah pemandangan yang kau lihat dari atas puncak gunung. Seindah…. akh, kau akan tau sendiri setelah merasakannya.
 
Pada bulan kedelapan, aku dan cinta memutuskan untuk mengikat janji. Sebuah janji. Janji yang disampaikan oleh cinta di danau itu, dengan suara gemericik air terdengar kembali di telinga. Di danau itu beberapa orang bercanda, tertawa. Sayup-sayup kulihat mereka disana memicingkan mata, tanda jauhnya mereka dihadapanku, sedangkan kami disini, di sekeliling pohon penuh kanopi, berdua saling berhadapan. Di urai dengan rangkaian kata puitis dan romantis. Dia, cinta, berkata “Kuikrarkan sebuah janji….yang kusampaikan di depan daun yang enggan lepas dari dahannya…. yang kuucapkan dihadapan wanita penuh sajak kelembutan.” Aku diam terpaku. Menatap bola matanya yang dibinari cahaya ketulusan. Sambil tersenyum manis, dia, cinta, melanjutkan kembali untaian kata indahnya. “Kalaulah aku… kan mencintaimu sampai Tuhan melarangku mencintaimu, kalaulah aku, terus menyayangimu hingga bulan mencium bumi, kalaulah aku dan janjiku. Itu saja” Kau tahu….. ada sihir dalam setiap kata-katanya. Dan aku, semakin yakin bahwa dia benar-benar pangeranku seperti yang diceritakan dalam dongeng klasik Cinderella.

Aku tersenyum. Dalam hati aku mengucap, aamiin. Semoga aku dan dia menjadi satu.
 
Pada bulan kesembilan, tiba saatnya cinta akan melamarku. Meminta orangtuaku untuk memercayakan aku padanya. Meminta orangtuaku, agar aku dan dia disatukan dalam satu ikatan yang suci. Meminta orangtuaku, agar senantiasa memberikan kami keridhoannya. Namun, tak pernah disangka. Mereka menjawab tidak! tidak bisa! tidak boleh! tidak akan! Aku diam mematung. Membisu. Terasa ada petir yang menyambarku. Aku tak mengerti, aku tak paham. Aku tak yakin apakah kata itu benar-benar keluar dari mulut orangtuaku.

Setelah kejadian itu, hari-hariku hanya diisi dengan tangisan….. Tangisan dan tangisan. Satu hal yang sangat sakit adalah karena orangtuaku menganggap bahwa dia, cinta. Tidak akan bisa membahagiakan aku hanya karena dia memiliki satu kekurangan. Kekurangan yang mungkin bagi orangtuaku merupakan suatu aib jika memiliki menantu seperti dia. Kau tahu, hanya satu kekurangan yang dimiliki oleh cinta. Dia memiliki ayah seorang mantan napi. Tak perlu kujelaskan lebih rinci mengapa mereka menolaknya. Mereka hanya menganggap bahwa buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.
 
Pada bulan kesepuluh, aku mendapati bahwa cinta juga mengalami kesusahan seperti aku. Susah yang berpayah-payah. Susah karena kami, harus menurut pada takdir. Takdir yang menuliskan bahwa kami, bukanlah satu, tapi dua. Tak akan pernah jadi satu, tetap dua. Pernah kami memaksa untuk menjadi satu, tapi tetap berakhir menjadi dua. Pada pertengahan di bulan kesepuluh. Suatu pagi, saat aku sedang membereskan kamar, aku menemukan potongan kertas putih tergeletak di bawah jendela kamarku. Aku membungkuk, mengambilnya, dan membuka lipatan kertasnya. Pada potongan kertas itu, kertas dengan empat lipatan, kertas yang entah darimana asalnya tak bertanda, ada barisan kalimat yang menyesakkan. Begitu menyesakkan.
 
“Awal dari pertemuan kita di sore itu, awal dari melihatmu di taman itu. Kamulah wanita yang bisa menyentuh hatiku. Kamulah alasan mengapa aku merasa tak sendiri selama ini. Kamulah wanita yang dapat membuatku tersenyum. Kamulah seseorang yang dapat membuatku bahagia. Tapi, mengapa kita tak bisa bersama? Aku ingin selalu memilikimu. Aku ingin selalu di dekatmu. Aku ingin selalu bersandar padamu. Apakah ini sebuah keserakahan? Apakah ini salah? Aku mencintaimu sampai mati. Aku menginginkanmu sampai mati. Aku hanya mencintaimu. Aku hanya mengingatmu. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu? Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu? Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu? Aku merindukanmu seperti orang gila. Namun, kenapa aku tak bisa memilikimu? Kenapa kita tak bisa bersama? mungkin, inilah takdirku di dunia. Tak bisa memilikimu.
 
Tapi, aku yakin. Kelak di surga. Takdirku adalah bersamamu. Aku yakin, kelak di surga kau yang akan menjadi bidadariku. Aku yakin, kelak di surga kau akan menemaniku. Aku menantimu, Kelak di surga.”
 
Aku terduduk lemas. Tak terasa air mataku mengalir. Semakin lama semakin deras. Aku menangis sesenggukan tiada henti. Aku….. akan berusaha menjadi bidadarimu, kelak di surga nanti.
 

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s