Posted in curhat

Senja di Matamu (cerpen)

Lia memandangi seorang laki-laki yang tengah duduk di bawah bangku taman. Laki-laki itu begitu dikenalnya. Perlahan-lahan Lia mendekatinya. Bibirnya bergetar hebat menatap lelaki yang tengah duduk santai di hadapannya. Mendadak tangisnya pecah. Lia tak kuasa menahan segala hasrat pilu yang kian mengiris hatinya yang terluka atas kesedihannya. Ia berusaha menenangkan dirinya. Namun, semakin mendekati lelaki itu, derai air matanya makin deras.

Hujan rintik-rintik mulai membasahi baju Lia dan ia masih tetap berdiri mematung melihat sosok lelaki di hadapannya. Sepertinya tetesan-tetesan hujan membuat lelaki yang ada dihadapan Lia sadar bahwa hari mulai gerimis. Lelaki itu meraih sebuah tongkat yang tergeletak di sebelah kaki kanannya. Ia berdiri dan melangkahkan kakinya dengan bertumpu pada tongkat kayu yang sedang ia pegang dan melangkahkan kakinya perlahan-lahan sambil menutupi kepalanya dengan sebuah buku. Lelaki itu pergi sementara tangis Lia semakin pecah diikuti derasnya hujan. Tubuhnya terguncang menahan sedu sedan. Ia lumpuh pada kenyataan pahit yang tidak bisa ia hindari. Jiwanya semakin nestapa dan hatinya remuk oleh kepedihan yang tak kuasa tergambarkan.

Lia kemudian duduk di bangku taman yang sebelumnya diduduki oleh pria itu. Dia benar-benar merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada lelaki itu. Lia tak lagi pedulikan derasnya hujan yang semakin lebat. Dia ingin awan hitam menemani sedihnya dan rintik hujan menemani derai air matanya. Kedua tangan Lia menutupi wajahnya. Ia menutup matanya dan perlahan suatu gambar baru muncul dalam pikirannya.

Dalam ingatannya tergambar seorang gadis kecil dengan kepangan rambut di kanan-kirinya, membingkai wajah yang sendu karena kesedihan. Gambar itu semakin jelas, seolah-olah difokuskan dengan lensa berdiameter raksasa. Seorang anak laki-laki yang selalu berbagi canda dan tawa bersamanya akan pergi ke suatu tempat yang jauh bersama keluarganya. Gadis kecil dan anak laki-laki itu saling bersahabat, tetapi karena tuntutan pekerjaan ayah anak laki-laki itu, mereka pun harus berpisah. Namun, mereka saling bertukar sesuatu sebelum mereka berpisah. Gadis kecil memberikan sebuah buku cerita sedangkan lelaki kecil memberikan sebuah payung. Mereka berjanji akan saling memberi kabar lewat surat dan berjanji untuk tetap berhubungan satu sama lain. Mereka juga berjanji agar di kemudian hari mereka dapat bertemu.

Lia kembali mengingat masa kecilnya dulu. Di bawah guyuran hujan, dia terus menerus menangis mengingat kenangannya dengan seseorang. Setelah berbulan-bulan gadis kecil dan lelaki kecil berpisah. Gadis itu mengirimkan surat. Ia selalu menuliskan apa yang dialami di sekolahnya. Ia menuliskan apa yang terjadi pada dirinya dan keluarganya. Ia juga selalu menyelipkan fotonya. Tahun demi tahun berlalu. Mereka saling berbalas surat. Mereka pun berjanji untuk bertemu di pantai.

Empat tahun telah berlalu semenjak perpisahan mereka. Gadis kecil dan lelaki kecil itu tumbuh remaja. Lia, gadis kecil itu, tumbuh menjadi remaja yang cantik. Seorang remaja berjilbab yang pendiam dan anggun. Sementara Rio, lelaki kecil itu, tumbuh menjadi lelaki yang keren dan ganteng. Ketika liburan sekolah, mereka berjanji untuk bertemu melepas rindu. Lia pergi menemui sahabat kecilnya. Ia menunggu sahabat kecilnya itu di pantai, tempat perjanjian mereka.

Matahari dan ombak sama-sama rendah, memberikan hamparan sempurna akan pasir putih yang mengelilingi pantai. Angin sepoi-sepoi yang sejuk mulai berhembus dan pantai begitu tenang serta terpencil secara menyeluruh. Lia dan Rio duduk bersama. Mereka saling bercerita dan bercanda. Berdua saling bercerita hal-hal yang mereka alami selama empat tahun. Lia ingat saat-saat Rio bertanya perihal payung yang pernah ia berikan.

“Kau tahu kenapa kuberikan payung pada saat perpisahan kita?”

“Tidak, memang kenapa?”

“Kau tahu apa gunanya payung?”

“Untuk melindungi dari panas dan hujan”

“Iya kamu benar. Di kala hujan, payung tidak akan membiarkan pakaianmu basah begitu pun di waktu cerah, dialah awan yang akan meneduhimu”

“Terus?”

“Aku tidak akan membiarkan kamu kebasahan ataupun kepanasan, aku akan berusaha melindungimu, tapi aku belum bisa, karena aku jauh. Makanya aku kasih kamu payung untuk melindungimu” terang Rio, senyum mengembang ditemani dua lesung pipit di pipinya.

Rio mengambil foto Lia di pantai itu. Mereka berfoto bersama. Di bawah penerangan sinar matahari senja, Rio memotret Lia dari samping. Sejenak Lia menoleh ke arah kamera kemudian tersenyum. Mata Lia tampak berkilauan disinari mentari sore. Rio berkali-kali memotret Lia. Jeprat! Jepret! Sekitar dua puluhan foto Lia berada dalam lensa kamera Rio.

Hujan telah silih berganti mengguyur dan reda. Lia mengangkat wajahnya perlahan-lahan. Memandang kosong ke depan. Ingatannya itu membuat dadanya makin sesak seakan tidak ada ruang kecil yang dapat memberikannya kesempatan untuk bernapas. Kenangan-kenangannya tergambar di tiap tetes hujan yang turun. Kini hujan mulai berhenti, tapi kenangan itu terus kembali satu per satu dan linangan air mata Lia tak juga berhenti.

“Maaf, teteh mau nyebrang ya?” tanya seseorang di belakang punggung Lia.

Lia mengangguk dan menoleh. Ia terkejut, ternyata Rio sudah ada di sampingnya.

Lia berada di samping kiri Rio. Tangan kiri Rio langsung memegang erat tangan Lia. Kepalanya menengok ke kanan sambil tangan kanannya memberi aba-aba agar kendaraan yang lewat mau mengalah. Perlahan, Lia dan Rio mulai menyebrang. Sampai di tengah jalan, Rio menoleh ke arah kiri. Satu mobil masih terlihat jauh. Sementara Lia menoleh ke arah kanan. Jalur kanan terlihat lengang, sebuah mobil Jeep dari arah berlawanan melaju cukup kencang. Lia menyadari bahwa mobil itu semakin dekat.

“Awaaaasss!!!”

Lia berteriak sambil mendorong tubuh Rio dengan sekuat tenaga. Tubuh Lia terhantam sangat keras. Mobil itu tak berhenti hingga membuat tubuhnya terseret beberapa meter dan kepalanya terbentur aspal jalanan. Mobil itu terus melaju hingga menabrak pembatas jalan sedangkan tubuh Lia bersimbah darah namun masih bergerak. Matanya sempat melihat Rio. Lia tersenyum.

Suasana hening menyelimuti lorong rumah sakit, yang terdengar hanya suara ibu Lia yang menangis di bahu adik Lia. Sementara ayah Lia berusaha tampak tenang, namun wajahnya menyaratkan ketegangan. Tak berapa lama kemudian ayah Lia dipanggil oleh dokter. Dokter mengatakan bahwa luka yang di alami Lia tidak terlalu serius. Luka fisiknya tak banyak, hanya lebam dan luka di sepanjang lutut ke tepi betis. Tapi, ternyata benturan di kepalanya parah. Akibat kecelakaan itu, saraf di otak yang tersambung dengan penglihatan Lia menjadi terganggu. Untuk beberapa lama kecelakaan itu akan membuat mata Lia sedikit rabun. Namun, dapat dipastikan lama kelamaan akan membuat kebutaan.

Ibu Lia setia menunggu anaknya. Ia duduk di samping tempat tidur, tempat Lia berbaring. Selama Lia terbaring, bulir-bulir air bening terus mengalir dari pelupuk mata ibunya. Ia begitu sedih melihat keadaan Lia.

“Bu… kok Lia merasa gak jelas melihat sesuatu ya?” tanya Lia, penglihatannya terasa kabur.

Ibunya diam saja. Tak menjawab apa-apa. Ia hanya mengusap air mata yang tak tertahan.

“Ibu kenapa?” Lia mulai gelisah. “Kenapa ibu menangis?”

Di tengah-tengah percakapan antara Lia dan ibunya, Rio pun datang.

“Bagaimana Lia?” tanya Rio “Aku bawa ini buat kamu” Rio meletakkan buah yang dibawanya di atas meja.

“Alhamdulillah, aku sudah mendingan, cuma penglihatanku sedikit…”

PLAK!

Tiba-tiba saja ibu Lia menampar Rio. Lia langsung menarik tangan ibunya.

“Ibu….!” pekik Lia “Kenapa ibu menampar Rio? Apa salahnya?”

“Kenapa kamu ceroboh!?” tanya ibu Lia pada Rio. “Kenapa kamu gak bisa melindungi anak saya!?” teriaknya histeris. “Kamu tahu akibat kecelakaan ini apa, huh!?”

“Ibu…..”suara Lia parau dan lemah. Sementara Rio hanya diam tak berkutik.

“Kamu tahu sayang…. akibat kecelakaan itu, matamu…” Ibu menatap Lia. Air mata semakin deras mengaliri pipinya.

“Kenapa bu? Mataku kenapa?” Lia panik.

“Matamu…matamu…” ibunya menangis sedu sedan. “Lama kelamaan matamu akan buta nak…” ibu Lia sesenggukan, tangannya menggenggam erat lengan Lia.

Serasa disambar petir mendengar perkataan ibunya. Ia akan buta? Tidak bisa, bagaimana ia akan menjalani hidupnya jika nanti ia buta? Lia memejamkan matanya, tiba-tiba badannya lemah. Kepalanya mendadak pening. Samar-samar ia pandangi wajah Rio dan ibunya. Wajah Rio tampak tercenung dan tertegun, sepertinya Rio sama terkejutnya dengan Lia.

“Lia….”ucap Rio lirih “Tante, saya…. saya minta maaf” setetes air bening mengalir dari pelupuk matanya. “ Saya… saya akui, saya tidak bisa melindungi Lia, saya minta maaf”

“Kamu minta maaf pun tidak bisa mengubah apa-apa. Lebih baik kamu pergi, pergi….!!” ibu Lia histeris sambil mendorong tubuh Rio keluar pintu.

“Maafkan aku Lia, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu..” pekik Rio kemudian pergi.

Masih ada sejuta kenangan Lia tentang Rio yang memenuhi sudut-sudut benaknya, kenangannya menyeruak lebih banyak lagi.

Lia ingat setelah peristiwa itu, pandangan matanya mulai mengabur. Lia berusaha untuk menguatkan hatinya, sabar, dan ikhlas menerima kehendak-Nya. Lia yakin Allah pasti punya tujuan lain dibalik kecelakaan ini. Ia mencoba segala cara untuk memulihkan penglihatannya. Ia jalani semua pengobatan mata tapi tidak ada yang berhasil. Di saat seperti itu, Lia sangat membutuhkan dukungan Rio. Namun, semenjak peristiwa itu, Rio menghilang. Lia tidak tahu kemana Rio pergi. Kepergian Rio benar-benar membuat Lia sedih, ia terus-menerus menangis dan penglihatannya makin kabur.

Sampai akhirnya dokter yang merawat Lia memberitahukan Lia bahwa ada seseorang yang akan mendonorkan matanya. Lia sangat bahagia dan bersyukur mendengar kabar itu. Tak berapa lama kemudian, Lia menjalani operasi mata.

Setelah menjalani operasi mata. Perlahan-lahan penglihatan Lia mulai pulih. Ia kembali bisa memandang indahnya sinar mentari di pagi hari, birunya langit, putihnya awan yang berarak, dan kemilaunya cahaya bulan di malam hari. Semuanya bisa dilihat Lia dengan jelas, tapi satu hal yang sangat ingin dilihatnya adalah Rio. Lia berkali-kali mengirim surat untuk Rio tapi tak juga dibalas. Lia pergi ke rumah Rio dan berharap bisa bertemu dengannya, tapi Rio tidak ada. Rio sudah pindah ke tempat lain dan tidak mengabarkan apa-apa.

Setelah ingatan Lia akan peristiwa itu, air mata Lia tumpah tanpa ragu. Semua emosi Lia kembali tumpah ruah bersamaan dengan tetesan air mata yang mengalir deras, membawa berjuta kesedihan, berjuta kekecewaan, berjuta kehampaan, dan berjuta hempasan mimpi yang mengabut. Semuanya meninggalkan berjuta harapannya bersama Rio.

Lia ingat setiap kali ia bercermin, ia selalu mengamati kedua bola matanya. Pantulan sinar bola matanya seolah-olah membekas di permukaan cermin. Lia selalu ingin tahu siapakah orang yang telah memberikan kedua bola mata padanya. Ia terus memandangi bola matanya. Hingga pada suatu ketika ia pergi ke rumah sakit tempat ia dirawat dulu. Lia mendesak pihak rumah sakit untuk memberi tahu identitas orang yang telah mendonorkan matanya.

“Suster, saya ingin tahu alamat orang yang telah mendonorkan mata untuk saya” pinta Lia, sedikit memelas.

“Tidak bisa mbak, ini sudah jadi privasi” terang suster.

“Ayolah mbak, ini penting buat saya” Lia memaksa.

“Tetap tidak bisa. Lagipula orang yang mendonorkan juga tidak ingin diketahui”

“Tolong saya mbak….” air mata Lia mulai menggantung di pelupuk matanya.

Suster tersebut kelihatan ragu.

“Sus…. saya mohon. Saya benar-benar ingin berterima kasih pada orang itu. Tolong bantu saya sus….”

Berkali-kali Lia memohon dan meminta alamat pendonor mata, tapi berkali-kali juga suster menolaknya. Lia mencoba bertahan di rumah sakit hanya untuk mendapat alamat pendonor matanya. Sampai pada akhirnya seorang suster memberikan secarik kertas berisi deretan kata. Setelah mendapat alamat pendonor matanya, Lia tidak langsung menemui orang itu. Sebelum berterima kasih, Lia ingin tahu terlebih dahulu siapa pendonor matanya. Lia memutar otak agar orang itu tidak mengetahui siapa Lia sebenarnya.

Lia mulai mengamati rumah orang yang mendonorkan matanya. Hampir setiap sore ia selalu datang melihat rumah itu, berharap ada penghuninya yang keluar tapi rumah itu terlalu sepi, seperti tidak ada orang yang tinggal di sana. Cukup lama Lia mengamati rumah itu. Hampir seminggu lebih Lia mengamati rumah pendonor matanya tapi tak menemukan hasil. Lia benar-benar dilanda rasa penasaran. Ia berpikir tidak akan pernah bisa bertemu dengan orang yang telah mendonorkan mata untuknya jika hanya mengamati dari luar. Dia harus bertemu dengan orang itu!. Walau masih ragu-ragu dan takut, Lia memberanikan diri untuk menemui pendonor matanya.

Lia melangkahkan kakinya perlahan-lahan dan sampai di depan pagar pendonor matanya. Ketika Lia ingin menekan bel masuk rumah, terdengar ada suara pintu yang dibuka seseorang. Lia terkejut dan membalikkan dirinya, memunggungi pagar. Ternyata dia belum cukup siap untuk mengetahui siapa pendonor matanya. Lama ia membalikkan badannya, tapi hanya terdengar geseran suara pagar. Lia ingin menoleh, tapi tidak berani memalingkan mukanya. Lia benar-benar takut. Ia menunggu sampai orang itu menyapa dirinya. Tidak ada reaksi. Lia pun menolehkan wajahnya dan didapatinya sebuah punggung lelaki sedang berjalan menuju suatu tempat. Tangan kanan lelaki itu tampak memegang sebuah tongkat kayu yang diarahkan ke depan sambil diketuk-ketuk sementara tangan kirinya menggenggam sebuah buku. Lia memandangi lelaki bertubuh jangkung itu hingga muncul dalam benak Lia untuk mengikutinya. Perlahan-lahan Lia ikuti langkah kaki orang itu hingga berhenti pada satu titik. Taman.

Lelaki jangkung itu terdiam lalu meraba-raba kursi yang ada di depannya. Dia duduk sangat hati-hati. Dari kejauhan, Lia tampak terkejut. Ia tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Bola matanya diperbesar berkali-kali lipat untuk memastikan siapa pria buta itu. Lia melangkahkan kakinya satu per satu. Mendekati lelaki itu dengan degup hati yang berdebar kencang. Kini jarak antara Lia dan lelaki itu hanya berkisar dua meter, tetapi lelaki itu tidak menyadari kehadiran Lia. Lia tak percaya dengan seseorang yang ada di hadapannya. Ia terdiam. Ia benar-benar mengenal siapa pendonor mata itu. Dialah Rio, si pendonor mata!

Ingatan itu membuat Lia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Lia begitu terpukul. Kini ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya, ternyata Rio lah orang yang telah mendonorkan matanya. Lia memegang kepalanya, kesedihan yang mendalam begitu tergurat di wajahnya.

Lia mengarahkan matanya ke tanah, tak sengaja melihat sesuatu yang tergenang di air hujan. Lia membungkuk lalu memungut benda itu kemudian membersihkannya. Benda itu ia pandangi lama sekali, ia pandangi seluruh gambar yang ada. Bibir dan giginya bergetar hebat, Lia menutup mulutnya dan terus memandangi sosok yang ada di gambar itu.

Gambar itu tak lain adalah wajahnya sendiri. Foto saat dirinya ada di pantai bersama Rio. Foto wajahnya yang sedang tersenyum di bawah sinar mentari sore. Dalam foto itu Lia kelihatan begitu bahagia. Senyumannya benar-benar cerah. Melihat wajahnya dalam foto itu membuat dirinya kembali menangis. Matanya benar-benar perih. Tidak ada air mata lagi yang bisa keluar. Batinnya remuk. Lia pun membalikkan fotonya. Ada tulisan tinta pudar tertulis di sana. Lia mencoba mengeringkan foto itu. Tulisannya terbaca begitu samar.

Hal yang paling kusuka dari foto ini adalah matamu.

Lia termenung. Tak seharusnya ia menangisi hal ini. Menangis hanya akan membuat mata ini sakit. Lia harus kuat demi pengorbanan Rio. Ia tak boleh terus menerus bersedih dan menyesal. Lia pun menghapus semua air matanya.

“Baiklah Rio, aku akan menjaga mata ini… Aku akan menjaga mata ini dengan sepenuh hati. Aku akan menjaga setiap pandangan dari hal-hal yang haram. Dengan mata ini, aku hanya akan melihat hal-hal yang indah Rio. Aku berjanji. Terima kasih atas pengorbananmu. Ya Allah, berikanlah yang terbaik untuk Rio, sayangi, dan jagalah Rio dari kesusahan. Aku ingin dia bahagia, hari ini, esok, dan selamanya”

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s