Posted in curhat

Karena Masa Lalu: 21 Juni 2007

Masa lalu. Terkadang membuat kita tergelitik sekaligus termenung. Ia adalah kenangan yang senantiasa mengingatkan kita akan sesuatu yang telah lama hilang.

Beberapa hari lalu aku menemukan selembar kertas kecil terselip di antara buku-buku SMP. Iseng membereskan rak buku. Barangkali aku bisa menemukan sesuatu. Ternyata benar.

Aku menemukan selembar kertas yang sudah lusuh, acak-acakan, warna tintanya kian pudar tetapi masih bisa terbaca. Kubaca deretan kata yang tertulis dalam kertas itu.

Aku terdiam. Senyumku mulai mengembang. Isi dalam kertas itu benar-benar membuat hatiku tergelitik. Tertulis pada tanggal 21 Juni 2007.

Isinya seperti ini:

Kucoba kembali memutar otakku beberapa tahun yang lalu. Aku ingat, ternyata tulisan itu kubuat setelah aku menerima sebuah amplop pink dari Zaky. Ia adalah kakak dari temanku. Mungkin umurnya saat ini sekitar 27 tahun dan mungkin saat ini juga ia sudah menikah. Membaca surat itu juga mengingatkan aku dengan surat-surat lainnya. Dulu, aku pertama kali dapat surat cinta saat kelas enam SD. Surat itu dari teman kakakku yang ada di pesantren. Namanya Abul, orang Aceh. Isinya aku lupa, karena memang pada saat itu aku belum mengerti dan hanya membaca sekilas saja. Surat itu hanya aku diamkan dan tak pernah kubalas. Cuma hadiah darinya masih kugantung di ruang tamu sampai sekarang.  Aku dengar dari mas Panji, sekarang dia sudah ada di Mesir. Setelah Abul, kembali ada seseorang yang mengirimi aku surat cinta. Ia teman SMP ku. Namanya Restu.

Walau aku anak yang cukup pendiam, tetapi aku cukup dikenal saat masih SMP. Itu sebabnya aku sering disuruh menemui guru-guru yang sedang mengajar di kelas. Mungkin dari situ si Restu mulai mengenalku. Ia mengirim surat itu melalui teman akrabku yang kebetulan satu kelas dengannya. Waktu itu, aku masih kelas satu SMP. Menurutku Restu itu anak yang berandalan, setiap kali bertemu dengannya aku hanya berpura-pura tidak melihatnya. Si Restu kelihatan suka sekali padaku sampai-sampai namaku ditulis besar-besar di dinding belakang kantin sekolah. Diledekkin teman-teman, tentu. Malu, sudah pasti. Namun, hanya aku diamkan saja. Tak pernah kujawab atau kubalas. Setelah Restu, baru lah aku bertemu dengan si Zaky. Dalam suratnya, ia bilang kalau ia suka sama aku sejak pandangan pertama. Ia titipkan surat itu lewat adiknya, temanku juga. Aku ingat,dapat surat itu setelah ujian nasional. Ketika dapat surat dari Zaky, hatiku rasanya deg-degan. Tahu gak kenapa? karena aku begitu takut. Zaky itu sudah kuliah dan kupikir ia terlalu dewasa untukku. Saking takutnya ama si Zaky. Diam-diam, tanpa pikir panjang, surat itu langsung aku buang. Aku benar-benar gak tahu musti ngapain. Aku tidak ingin sampai teman-temanku yang lain tahu. Setelah itu, setiap kali aku bertemu dengan adiknya. Aku hanya diam. Tak memberi respon apa-apa. Kupikir dengan diam, ia akan tahu jawabanku apa. Baru setelah perpisahan SMP, 21 Juni 2007. Aku menulis surat di selembar kertas untuk suamiku kelak. Nah, surat cinta terakhir yang kudapat itu berasal dari Eka. Ia teman SMP sekaligus teman SMA ku. Aku ingat, waktu dia ngasih surat itu saat malam hari. Ia datang ke rumahku hanya untuk memberikan amplop biru kemudian segera pergi. Saat itu aku sudah selesai UAN SMA. Kucoba ingat-ingat rangkaian kata yang ditulis Eka. Ia bilang kalau ia sudah mulai menyukaiku sejak SMP, tetapi baru berani mengungkapkannya setelah UAN SMA. Entah kenapa ya, setiap kali ada surat cinta yang datang, aku tidak pernah bisa menjawab. Tetapi anehnya, surat-surat dari sahabat pena selalu bisa kujawab. Mungkin karena aku bingung menjawab surat cinta. Lagipula memang aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada Eka, Abul, Restu, dan Zaky. Akhirnya, lagi-lagi surat Eka kujawab dengan diam. Sebenarnya kasihan juga sih mereka. Capek-capek merangkai kata tapi tak kujawab dan hanya kudiamkan. Mungkin di antara mereka ada yang tulus. Eka misalnya, sampai sekarang masih suka bertanya kabar. Namun, tak pernah ada yang bisa meyakinkan aku.

Jika kuingat-ingat lagi. Dulu itu aku punya prinsip “Hatiku ini hanya satu dan akan kuberikan hanya untuk suamiku kelak. Aku ingin memiliki pendamping yang baik, untuk itu aku harus jadi wanita yang baik. Oleh karenanya, aku hanya akan memberikan satu hatiku ini untuk satu orang, dialah suamiku kelak. Aku, hanya untuk suamiku.” Mungkin itulah sebabnya aku selalu menolak tamu-tamu yang pernah mencoba datang ke sudut ruang kecil ini. Bagiku, prinsip itu benar-benar membuatku terjaga. Tidak ada yang namanya keinginan untuk pacaran. Dahulu, kupikir manusia itu hanya akan jatuh cinta satu kali. Itu sebabnya aku berusaha untuk tidak jatuh cinta di saat yang belum tepat. Padahal, waktu SMP dan SMA aku anak yang biasa-biasa saja. Tidak alim, hanya seperti remaja-remaja lainnya, memiliki kenginan punya pacar dan mencoba-coba sesuatu. Tetapi aku ini tipe orang yang serius, menjunjung tinggi sebuah kesucian dan kesetiaan. Makanya aku gak mau coba-coba. Lagipula aku tidak mau dicoba-coba. Aku kurang suka barang “second” itu sebabnya aku tidak mau jadi barang “second”. Terdengar sadis ya? Tapi memang begitu yang aku pikirkan dulu.

Namun, dua tahun yang lalu, tidak lama setelah masuk kuliah, aku jatuh cinta. Bisa dibilang cinta pertamaku. (telat puber) -_-. Ada seseorang yang bisa mengetuk pintu ini. Terketuk karena pertanyaannya yang aneh itu -_-. Sampai sekarang pertanyaan aneh itu masih kuingat dan akan kujadikan arsip pribadi. Entah kenapa sejak saat itu aku mulai mengikuti kemana pun ia berjalan. Walaupun sejak awal aku tahu, dia mencintai orang lain. Aku tahu, sebab dia pernah bertanya di forum, “Saya mencintai seseorang, tetapi tak berniat menikahi atau pun berpacaran dengannya. Bolehkah aku tetap menyayanginya?”. Kalimat yang masih kuingat sampai saat ini. Bahkan jawaban dari pertanyaan itu sampai membuatnya menangis. Dan aku sadar, betapa besar cintanya pada perempuan itu. Tetapi pertanyaan itu, entah kenapa, bukannya membuat hati ini makin ciut. Justru semakin besar. Terlebih ketika aku tahu namanya. Aku makin sering membuat tulisan. Puisi pertama untuknya berjudul “IPK” ditulis tanggal 11 Januari. Puisi kedua berjudul “Teh” kubuat untuknya sebab aku suka minum teh. Segala macam tulisanku mulai saat itu adalah tentang dia. Mengeja dia, dia, dan segala yang berhubungan dengan dia.

Sekarang, saat membaca tulisan yang kubuat tanggal 21 Juni 2007, sepertinya tidak hanya hatiku yang tergelitik. Aku juga termenung. Ada sesuatu yang menyadarkanku. Sepertinya aku telah lama melupakan prinsip yang pernah kupegang itu. Aku jatuh cinta dengan seseorang yang semu, samar, dan tidak terjangkau olehku. Entah kenapa rasanya kok sedih ya? Sedih bukan karena orang yang kucintai itu tidak terjangkau olehku. Tetapi lebih karena orang yang aku cintai pertama kali bukanlah calon suamiku. Aku merasa kok, sepertinya telah mengkhianati seseorang ya? Seseorang yang entah siapa dan ada dimana.

Kemanakah kesetiaan yang dulu pernah kupegang? Mungkin memang, aku tidak pernah berpacaran. Tetapi hatiku ini kiranya pernah tersentuh oleh orang lain, dan orang pertama yang menyentuh ruang itu (sepertinya) bukan calon suamiku kelak.

Untuk suamiku kelak,

Maafkan aku. Mungkin kamu bukanlah orang pertama yang telah menyentuh hatiku. Maafkan aku ya.

Maafkan aku yang tidak bisa menjaga seutuhnya hati ini hanya untukmu. Kamu mau memaafkan aku kan?

Sudikah kau jika tetap kutunggu?

with love,

istrimu kelak

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Ditandai:

2 thoughts on “Karena Masa Lalu: 21 Juni 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s