Posted in curhat

Bertemu “Abdullah” tetapi bukan

Novel-novel fenomenal karya Kang Abik, seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Di Atas Sajadah Cinta, Bumi Cinta, Ketika Cinta Berbau Surga dan sebagainya. Masing-masing memiliki penokohan, alur, tema, setting, dan amanat yang berbeda-beda juga unik. Namun, ada satu tokoh yang mempaut hati saya dari sekian tokoh yang digambarkan Kang Abik dari banyaknya novel yang pernah ia buat. Tokoh yang saya suka itu bernama Abdullah Khaerul Azzam, ia adalah tokoh yang sederhana dan bertanggungjawab dengan keluarganya. Satu hal yang membuat saya jatuh cinta pada tokoh AbdullahπŸ™‚ adalah ucapannya pada Eliana:

“Saya juga memiliki prinsip. Prinsip hidup. Prinsip hidup Saya itu saya dasarkan pada Islam. Sebab saya paling yakin dengan ajaran Islam. Di antara ajaran Islam yang saya yakini adalah ajaran tentang menjaga kesucian. Kesucian lahir dan kesucian batin. Kenapa dalam buku-buku fikih pelajaran pertama pasti tentang thaharah. Tentang bersuci. Adalah agar pemeluk Islam senantiasa menjaga kesuciar lahir dan batin. Di antara kesucian-kesucian yang dijaga oleh Islam adalah kesucian hubungan antara pria dan wanita. Islam sama sekali tidak membolehkan ada persentuhan intim antara pria dan wanita kecuali itu adalah suami isteri yang sah. Dan ciuman gaya Prancis itu bagi saya sudah termasuk kalegori sentuhan sangat intim. Yang dalam Islam tidak boleh dilakukan kecuali oleh pasangan suami isteri. Ini demi menjaga kesucian. Kesucian kaum pria dan kaum wanita.. Ketika saya mengatakan bahwa jika sampai saya melakukan ciuman itu dengan wanita yang tidak halal bagi saya, maka saya telah menodai kesucian saya sendiri dan menodai kesucian wanita itu. Dan itu bagi saya adalah suatu musibah yang luar biasa besarnya. Saya telah kehilangan kesucian bibir saya. Tidak hanya itu, saya juga kehilangan kesucian jiwa saya. Jiwa saya telah terkotori oleh dosa yang entah bagaimana cara menghapusnya. Jika bibir ini kotor oleh gincu bisa dibersihkan dengar air atau yang lainnya. Tapi jika terkotori oleh bibir yang tidak halal, kotor yang tidak tampak bagaimana cara membersihkannya. Meskipun bisa beristighfar, meminta ampun kepada Allah tetap saja bibir ini pernah kotor, pernah ternoda, pernah melakukan dosa yang menjijikkan. Saya tidak mau melakukan hal itu. Saya ingin menjaga kesucian diri saya seluruhnya. Saya ingin menghadiahkan kesucian ini kepada isteri saya kelak. Biar dialah yang menyentuhnya pertama kali. Biar dialah yang akan mewangikan jiwa dan raga ini dengan sentuhan-sentuhan yang mendatangkan pahala. Itulah prinsip yang caya yakini. Mungkin saya akan dikatakan pemuda kolot. Pemuda primitif. Pemuda kampungan. Pemuda tidak tahu perkembangan dan lain sebagainya. Tapi saya tidak peduli. Saya bahagia dengan apa yang saya yakini kebenarannya. Dan saya yakin Mbak Eliana yang pernah belajar di negeri yang mengagungkan kebebasan berpendapat itu akan bisa menghargai pendapat saya.”

Setiap manusia, baik perempuan atau laki-laki pasti ingin bertemu dan memiliki pasangan yang demikian. Kalau perempuan, mungkin ingin yang seperti Abdullah. Kalau yang laki-laki, mungkin ingin yang seperti Anna. Semua itu wajar. Tetapi bukan mengenai itu yang ingin saya tuliskan. Saya hanya ingin bercerita pengalaman yang saya alami di bus sekitar enam bulan yang lalu.

Di setiap perjalanan, mungkin kita akan menemui banyak hal, banyak pelajaran, dan banyak makna jika kita dapat melihatnya lebih bijak. Setiap peristiwa, walaupun kelihatan sepele dan biasa saja terkadang bisa membuat kita terkesan. Setiap saya naik bus, selama perjalanan kadang suka memperhatikan tingkah orang-orang. Nah, dari tingkah-tingkah mereka itu lah yang mungkin bisa kita jadikan pelajaran. Ada yang cuek, ada yang ringan tangan walau tak kenal, ada yang dermawan, dan ada yang gentleman.

Setiap kali saya naik bus, saya paling suka duduk di pojok dekat jendela. Tapi paling tidak suka duduk sebelahan sama laki-laki. Terkadang suka risih. Tidak nyaman. Makanya sebisa mungkin saya selalu menghindar, tetapi 6 bulan yang lalu saat naik bus yang penumpangnya sudah lumayan penuh. Mau gak mau saya duduk di sebelah lelaki. Nah, biasanya setiap saya duduk, selalu, yang menjaga jarak itu saya. Kalau bisa pundak saya gak saling bersentuhan. Tetapi lelaki yang ini beda, saat saya duduk di sampingnya. Tak lama kemudian, dia mulai menunjukkan tingkah aneh. Dia seringkali minum dan bergeser menjauhi saya. Kelihatan gugup. Duduknya tidak tenang. Saya jadi bingung. “Apa saya salah? apa saya ada yang aneh? Apa saya bau?”. Tak lama kemudian, ada seorang ibu bersama anak kecil yang naik tetapi tidak kebagian tempat duduk. Spontan, lelaki di sebelah saya itu langsung berdiri. Saya pikir dia mau turun, ternyata tidak. Dia menawarkan tempat duduknya untuk ibu itu. Saat dia lewat di depan saya, selintas, sambil melirik. “Ooh, ternyata dia seorang ikhwan.” Ada dua buah tanda hitam di keningnya, di dagunya timbul bulu yang cukup lebat, dan baju di punggungnya bertuliskan “Save Palestine”. “Pantas saja kalau dia risih dekat saya,” saya pikir begitu.

Nah, ibu yang kini duduk di samping saya ini memiliki anak yang cerdas. Tipe anak yang aktif dan berani. Selama duduk di samping saya, anak itu selalu mengatakan banyak hal. Hingga saya bisa tahu kalau anak itu bernama Fatan dan umurnya tiga tahun . Saya seringkali tersenyum melihat tingkah dan mendengar ocehan anak itu. Satu hal yang membuat saya terkesan dengan anak itu adalah di umurnya yang masih muda, dia sudah lancar azan, iqamah, dan shalawat. Dengan percaya diri, dia praktekkan azan, iqamah, dan shalawat di dalam bus dengan suara khas anak-anak yang nyaring. Saya sempat bermain kecil dengan anak itu. Beberapa pasang mata ikut memperhatikan saya, ibu, dan anak itu. Senang bisa bertemu dengan mereka.

Ketika tujuan saya hampir sampai, saya pun izin dengan ibu serta Fatan. Saya berjalan menyusuri tiap-tiap bangku untuk turun dari bis. Tanpa sadar ada yang terjatuh dari dalam tas saya. Nah, sebelum saya turun, ada yang menyusul saya dan memanggil “mbak, mbak” ternyata dia lelaki yang sempat duduk dengan saya. Dia berikan sapu tangan yang jatuh dari tas saya itu. Wah, terima kasih sekali pada pemuda itu. Saya pun akhirnya turun dari bus.Β  Di jalan, saya teringat cuplikan dalam film KCB “Mas, namanya siapa?”, “Abdullah!”. Sayangnya, saya tak sempat menanyakan namanya. Namun, dari sekian banyak hal peristiwa di dalam bus. Peristiwa ini lah yang masih saya ingat hingga sekarang.πŸ˜€ (nyengir)

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

7 thoughts on “Bertemu “Abdullah” tetapi bukan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s