Posted in Puisi

Puisi Favorit Saya

Dari sekian banyak penyair puisi terkenal di dunia dan di Indonesia. Ada beberapa penyair yang menjadi favorit saya, seperti pak Sapardi Djoko Damono, W.S Rendra, Jalaludin ar Rumi, Shakespeare, dan Kahlil Gibran. Salah satu antara yang saya suka adalah Jalaluddin Muhammad bin Muhammad Al-Balkhi Al-Qunuwi atau yang lebih dikenal dengan Jalaludin ar Rumi.

Rumi ini dilahirkan di Kota Balkh, Afghanistan, pada 30 September 1207 M/604 H dan wafat di Kota Konya, Turki, pada 17 Desember 1273 M/672 H. Sejak kecil, penyair favorit saya ini terbiasa hidup berpindah-pindah dengan keluarganya dari satu tempat ke tempat lain.  Keluarganya pernah tinggal di Nisabur (Iran timur laut), Baghdad, Makkah, Malatya (Turki), Laranda (Iran tenggara), dan Konya. Meski hidup berpindah-pindah tempat, namun sebagian besar hidup Rumi dihabiskan di Konya, yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).

Banyak para penyair yang memang memiliki otak yang cerdas. Sama seperti Rumi, ia dikenal karena kedalaman ilmu yang dimilikinya serta kemampuannya dalam mengungkapkan perasaannya dalam bentuk puisi yang sangat indah serta memiliki makna mistis yang sangat dalam. Karena kebanyakan puisi Rumi bersifat sufistik, maka puisi yang dibuatnya kebanyakan mengajarkan tentang cinta sejati (Tuhan). Lirik-lirik puisinya banyak mengedepankan perasaan cinta yang dalam kepada Tuhan. Makanya tak mengherankan jika ia mengungguli banyak penyair sufi, baik sebelum maupun sesudahnya.

Karya-karya puisi Rumi juga mengandung filsafat dan gambaran tentang inti tasawuf yang dianutnya. Tasawufnya didasarkan pada paham wahdah al-wujud (penyatuan wujud). Saya sendiri belum begitu mengerti tentang paham wahdah al-wujud. Namun, bagi Rumi, Tuhan adalah Wujud Yang Meliputi. Keyakinan ini tidak selalu merupakan keyakinan terhadap kesatuan wujud yang menyatakan bahwa segala seuatu itu adalah Allah atau bahwa Allah adalah segala sesuatu. Kesatuan hamba dengan Tuhan, dalam tasawuf Rumi, dipatrikan oleh rasa cinta yang murni.

Dari banyaknya puisi cinta dan puisi sufi Rumi yang begitu indah dan dalam ini, ada satu yang berkesan buat saya. Puisinya pernah dibacakan oleh Anna Althafunnisa di film Ketika Cinta Bertasbih. Puisi Rumi yang Dibacakan Anna

Cinta adalah kekuatan
yang mampu
mengubah duri jadi mawar
mengubah cuka jadi anggur
mengubah sedih jadi riang
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah jadi muhibbah
itulah cinta

Sekalipun cinta telah ku uraikan
dan ku jelaskan panjang lebar,
namun jika cinta ku datangi,
aku jadi malu pada keteranganku sendiri

meskipun lidahku telah mampu menguraikan,
namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang..
sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya..

Kata-kata pecah berkeping-keping
begitu sampai kepada cinta..

dalam menguraikan cinta,
akal terbaring tak berdaya,
bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan..

Masih banyak puisi Rumi yang bagus, menyentuh, dan sarat makna. Sebenarnya saya memiliki banyak favorit puisi Rumi, tetapi yang ini memang berkesan. Karena puisi ini juga yang dibacakan dalam Ketika Cinta Bertasbih. Menurut saya, puisi ini juga hampir sama dengan puisi yang ditulis oleh Sitok Srengenge “Menulis Cinta”.

Kauminta aku menulis cinta
Aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya
Kubolak-balik seluruh abjad
Kata-kata yang cacat yang kudapat

Jangan lagi minta aku menulis cinta
Huruf-hurufku, kau tahu,
bahkan tak cukup untuk namamu

Sebab cinta adalah kau, yang tak mampu kusebut
kecuali dengan denyut

Saya jadi berpikir, sebagian besar penyair pun berkata kalau cinta tak kan pernah bisa diuraikan dengan kata-kata. Cinta tidak bisa dibahasakan oleh apapun kecuali dengan rasa. Jadi, seandainya saya ditanya soal cinta, mungkin saya akan menjawabnya dengan puisi Rumi.😀

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s