Posted in Sedikit Ilmu

Antara Anak Perempuan dan Anak Laki-Laki

Pentingnya memiliki anak laki-laki. Hal inilah yang mungkin ingin dikaji oleh Guntur Alam dalam cerpennya yang berjudul Mar Beranak di Limas Isa.  Saya tertarik dengan cerpen yang pernah dimuat dalam harian Kompas ini. Cerpen dengan tema yang mengusung patriarkhi ini dikemas begitu baik dengan mengangkat ide kecil dan sederhana, tetapi memiliki kesan yang mendalam. Seperti yang kita ketahui, dalam tulisannya. Guntur Alam menceritakan perihal seorang perempuan yang bisa dikatakan sudah cukup tua untuk melahirkan seorang anak, tetapi tetap disuruh melahirkan lantaran belum memiliki apa yang diinginkan oleh suaminya, yakni seorang anak laki-laki. Dalam cerpen ini, Bi Mar diceritakan sudah memiliki belasan anak perempuan, tetapi belum juga dikaruniai seorang anak laki-laki. Walaupun dirinya sudah kepayahan,  sebagai seorang perempuan, Bi Mar tidak dapat melakukan apapun “selain tunduk kepada suami dan adat yang mengikat.”

Seperti yang kita ketahui bahwa menuruti perintah suami merupakan anjuran agama. Hal ini sudah merupakan tugas seorang istri yang harus memenuhi semua perintah dan selalu bersikap baik pada suami. Namun, dalam cerpen karya Guntur Alam ini bukan hal itu yang ingin ditonjolkan. Melainkan sebuah pandangan masyarakat tentang betapa pentingnya memiliki anak laki-laki dalam keluarga mereka. Fenomena seperti inilah yang diangkat dalam cerpen Guntur Alam.

“Kalau kita ada anak bujang. Ada yang menunggu limas, memboyong istri dan anaknya di sini, bersama kita. Mengurus kebun duku-durian, menyadap balam pagi-pagi kelam. Kita hanya tinggal di rumah saja, bermain dengan cucu-cucu yang banyak…” Begitulah ungkapan Mang Isa kepada Bi Mar mengenai keuntungan memiliki anak laki-laki. Memiliki anak laki-laki merupakan keistimewaan tersendiri pada setiap keluarga. Permasalahannya adalah mengapa slogan tersebut begitu kuat tertanam dalam otak Mang Isa? Padahal, jika melihat realita saat ini, anak perempuan lah yang lebih dapat mengurus orang tua mereka dan anak perempuan pula yang cenderung lebih pintar dan lebih rajin daripada anak laki-laki. Lalu, mengapa masih ada anggapan bahwa anak laki-laki memiliki posisi yang penting?

Melihat gambaran cerita dalam cerpen Mar Beranak di Limas Isa. Pada masa itu, memiliki anak perempuan hampir tak ada gunanya. Anak perempuan cenderung diambil oleh keluarga pria dan meninggalkan orang tuanya sehingga keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki menganggap tidak akan ada yang menjaga mereka saat tua nanti. Selain itu, status sosial keluarga juga tidak begitu terangkat hanya karena memiliki anak perempuan.

Memang ada kalanya memiliki seorang anak laki-laki akan lebih berguna, karena mereka memiliki emosi yang cukup kuat dan dapat memberikan keamanan dalam sebuah keluarga. Namun, anggapan seperti ini hendaknya perlu dipikirkan kembali. Sebab, keamanan dalam sebuah keluarga tidak bisa ditentukan oleh banyak atau tidaknya anak laki-laki dalam keluarga tersebut. Tetapi, berkaitan dengan cara yang bisa dilakukan untuk menjaga keamanan dalam keluarga itu sendiri. Walaupun dalam sebuah keluarga hanya memiliki seorang anak perempuan, tetapi jika mereka tahu bagaimana cara yang tepat untuk tetap bertahan hal ini tentu tidak akan jadi masalah.

Damono mengungkapkan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antar masyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang (2003:1). Pandangan bahwa memiliki anak laki-laki lebih menguntungkan merupakan gambaran umum kehidupan yang dianut oleh sebagian besar keluarga Cina, keluarga Batak, dan sebagian besar penduduk Amerika. Dalam keluarga China misalnya, mereka perlu memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan nama marga keluarga mereka. Tanpa anak laki-laki, nama marga keluarga mereka akan hilang dan tidak akan bisa meneruskan ke jenjang generasi berikutnya. Bahkan, sebagian penduduk China menganggap rendah jika bayi yang dimilikinya adalah perempuan. Astaghfirullah.

Bagaimanapun, anggapan memiliki anak laki-laki begitu penting hendaknya mulai dikikis, sebab saat ini zaman sudah modern. Menurut saya, memiliki anak laki-laki atau perempuan adalah setara.Sama saja. Tidak ada bedanya. Kehormatan kepada keluarga tidak lagi di perlihatkan banyak atau tidaknya anak laki-laki yang dimiliki. Keberhasilan orangtua tidak lagi dilihat dari berapa banyak jumlah anak laki-laki yang dimiliki. Kuat atau amannya sebuah keluarga juga tidak dilihat dari kuantitas anak laki-laki yang dimiliki. Semua hal tersebut dilihat dari pengajaran yang diberikan orangtua kepada anaknya dan kebijaksanaan orangtua yang dapat berfikir bahwa memiliki anak, baik itu perempuan maupun laki-laki, adalah hal yang sama dan merupakan pemberian Allah yang akan selalu ada hikmah dibaliknya. Insya Allah.🙂

Gambar

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

2 thoughts on “Antara Anak Perempuan dan Anak Laki-Laki

  1. sepakat. bukan lelaki atau perempuan, masing-masing memiliki peran dan kelebihan. bukan juga kuantitas, tetapi lebih pada kualitas.

    perempuan ataupun laki-laki memiliki kedudukan yang sama di mata Allah, memiliki fungsi dan peran yang sama pula, untuk ibadah dan sebagai khalifah di muka bumi.

    seharusnya kita tidak perlu mempertentangkan akan anak perempuan atau laki2, yang harusnya kita prioritaskan dalam pikiran dan perhatian kita adalah bagaimana kita mengoptimalkan peran ataupun kualitas anak yang telah Allah amanahkan pada kita (entah L/P) menjadi anak/orang yang berjasa di masa depannya untuk bangsa dan Agama.🙂

    1. Betul, setuju dengan Kak Dwi.😀
      Terkadang suka miris jika ada orangtua yang membandingkan anak-anaknya hanya karena perbedaan jenis kelamin. Padahal, pada dasarnya semua yang telah diciptakan Allah sudah memiliki kebaikannya dan kelebihannya masing-masing. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s