Posted in Cerpen

Seseorang di Batas Sana Seperti Hujan

Ketika kuberdiri di bawah langit sore

sambil terpekur sendiri

Dari balik senja, muncul seseorang

tanpa peduli

aku acuhkan orang itu

Tanganku hanya menggapai-gapai langit jingga

tapi tak bisa kuraih langit itu

“Ah, belum,” kataku kepada diriku sendiri

“Memang belum saatnya,” hanya itu yang bisa ku katakan

Seseorang duduk di sampingku

Tangannya sama-sama menggapai langit sepertiku

“Belum terjangkau,”katanya

Aku menatap dia,

lama sekali

Ia berkata, “Aku ini lemah sekali,

hanya bisa melihat hujan di luar sana

tanpa sedikit pun merasakannya di tubuhku.”

Aku terdiam

kupikir aku sama dengannya

 

Dia: “Aku menyukai hujan dan seseorang, di batas sana seperti hujan”, katanya

Aku: “Apa yang kamu suka dari hujan?”, tanyaku dengan raut muka ingin tahu

Dia: sambil tersenyum dia menjawab, “Kau tahu.. hujan datang dari langit.”

Aku: “Masa?” potongku

“Menurut hukum geohidrologi, hujan itu berasal dari sirkulasi air. Ia datang dari laut, permukaan tanah dan tumbuh-tumbuhan , yang yang berasal dari proses evaporasi dan traspirasi, yang lalu berkondensasi, dan..”

Dia: “Dalam kasusku, hujan datang dari langit” selanya lagi. “Bagaimana nona manis? kamu polos sekali.”

Aku: “Oh….” sesaat seperti orang yang baru sadar dari hipnotis. “Rasanya aku mulai mengerti kalimatnya.”

 

Aku hanya tersenyum memandangnya

Ia seseorang yang lucu dan manis

Mungkin kita sedang berbicara tentang hati?

 

Dia: “Ya, hujan datang dari langit. dia turun dengan gerimis kecil dengan keindahan bersamanya. Hujan membawa alam menuju keteduhan, memberinya kehidupan,” ia terdiam sejenak, melanjutkan, “Lalu awan menyerebak, membawa sinar sang surya pada hujan. Menggariskan pelangi. Keindahan itu lah yang terukir dan hujan itu lah yang memberi arti hidup pada bumi.”

Aku: “Hm.. jadi, kalau seseorang di batas sana adalah hujan, berarti kamu adalah mentari?” tanyaku polos.

Dia: tersenyum mendengar pertanyaanku, lalu menjawab” Bukan. Aku adalah bumi. Mentari itu adalah Tuhan, Allah Sang Maha Kuasa. Dia lah yang telah mengutus hujan kepada bumi.”

Aku: “Lalu hujan itu…..”

Dia: “Seseorang di batas sana, entah siapa…”

Aku berucap dalam hati, “Aku? Bisakah aku menjadi hujan?ah, mungkin hanya angin kering, untuk seseorang di batas yang lain.”

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

5 thoughts on “Seseorang di Batas Sana Seperti Hujan

  1. …, “Aku? Bisakah aku menjadi hujan?…”

    bisaaa, kalau optimis..:D
    kadang kita sendiri tidak sadar, bahwa kita itu sebagai hujan atau pelangi buat orang diluar sana..:)

    gara2nya, ‘orang diluar sana’ tidak bilang siihh..

    1. Betul betul….
      Saya suka komentar kak Seniiiiiiiiiii >.<
      Namun, terkadang bila seseorang terlalu fokus terhadap sesuatu dan tidak didapatkannya, kemungkinan yang terjadi adalah timbul rasa pesimis dan gak sadar kalau sebenarnya dia bisa jadi hujan dan pelangi untuk yang lain.😀

      1. saia juga suka komentar kak ‘sepasangkata’…:D
        makanya disitulah peran orang-orang terdekat kita, apa itu temen, keluarga dsb yang saling mengingatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s