Posted in review, Sedikit Ilmu

Malam Jahanam

Malam Jahanam[1]

“Malam Jahanam” merupakan drama yang mengisahkan sebuah perselingkuhan yang dilakukan oleh Paijah dan Soleman. Paijah ialah istri Mat Kontan sedangkan Soleman ialah tetangga sekaligus sahabat Mat Kontan. Drama ini memiliki lima belas bagian dan memiliki latar  di sebuah perkampungan nelayan.

Drama “Malam Jahanam” mengisahkan seorang suami yakni Mat Kontan dan istrinya serta anaknya yang dipanggil Mat Kontan Kecil. Soleman, sahabat Mat Kontan, ialah seorang lajang dan tetangga mereka. Paijah mengkhawatirkan anaknya yang sedang sakit, tetapi Mat Kontan tidak memperdulikan anaknya dan hanya mengobrol dengan Soleman di teras rumahnya sambil menyombongkan burung perkututnya yang baru, serta istri dan anaknya. Karena tidak tahan dengan ucapan Mat Kontan, Soleman pun mengungkit ketakutan Mat Kontan ketika Mat Kontan hampir meninggal karena terperosok ke dalam pasir. Karena takut rahasianya dibongkar, Mat Kontan pun berbaik-baik pada Soleman.

Setelah itu, Mat Kontan tidak melihat burung beo kesayangannya. Utai, warga kampung yang setengah gila, mengaku pernah melihat bangkai burung beo di dekat sumur dengan leher tergorok. Mendengar hal itu, Mat Kontan menjadi marah dan mengajak Utai menemaninya ke tukang nujum untuk mengetahui siapa pembunuhnya. Hal ini membuat Paijah ketakutan, ia pun bertanya pada Soleman hal terbaik yang harus ia lakukan apabila Mat Kontan bertanya mengenai burung beo itu. Ternyata, Soleman lah yang membunuh burung beo Mat Kontan agar perselingkuhannya dengan Paijah tidak ketahuan dan Soleman berjanji akan melindungi Paijah.

Mat Kontan pun marah pada Paijah dan bertanya tentang pembunuh burung beonya. Paijah hanya mengungkapkan kekesalannya pada Mat Kontan yang tidak pernah memikirkan dan menyayangi keluarga, tetapi selalu membangga-banggakannya pada semua orang. Setelah itu, Soleman datang membela Paijah. Ia pun mengaku bahwa dia lah pembunuh burung beo Mat Kontan dan mengaku bahwa Soleman lah ayah dari anak Paijah, anak yang selama ini Mat Kontan bangga-banggakan sebagai anaknya.

Mat Kontan pun pergi dan menyerahkan Paijah serta anaknya pada Soleman. Karena khawatir Mat Kontan akan bunuh diri, Soleman pun menyusulnya. Ternyata, Mat Kontan dan Utai justru ingin membunuhnya. Soleman berhasil kabur dan pergi ke stasiun kereta api sedangkan Utai mati karena ditendang oleh Soleman. Setelah peristiwa itu, Mat Kontan kembali ke rumahnya dan ingin hidup dengan Paijah serta anak Soleman. Ia pergi memanggil dukun untuk mengobati penyakit anaknya. Namun, malam itu juga si bayi meninggal dunia.

 


[1] Motinggo Busye. Malam Jahanam. 1961. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Jakarta.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

2 thoughts on “Malam Jahanam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s