Posted in Cerpen, Pesan Ayah

Nyanyian Pisang Epe

Perempuan itu lahir empat puluh lima tahun lalu, tetapi wajahnya seolah menyiratkan usianya yang lebih dari setengah abad. Baik ketika tertawa maupun ketika dalam keadaan biasa, beberapa kerut di sekitar wajahnya sudah jelas terlihat di kening, bawah mata, dan kedua pipinya. Perempuan itu berpakaian sederhana dan nyaris tak pernah memakai bedak. Sepertinya ia jarang membersihkan wajahnya. Mungkin ia juga acuh pada hal-hal yang berbau bedak dan kosmetik lainnya.

“Salim,” panggilnya. “bawakan pisang epe untuk istri dan anak-anakmu,” lanjutnya menyodorkan sebungkus plastik besar pisang epe.

Pisang epe adalah makanan khas kampung saya yang terbuat dari pisang kepok yang mengkal, dibakar, dan dipipihkan.  Pisang epe disajikan dengan kuah air gula merah yang biasanya telah dicampur dengan durian atau nangka yang aromanya dapat membangkitkan selera. Epe berasal dari bahasa Makassar yang berarti jepit, jadi pisang epe memiliki arti pisang bakar yang dijepit dan menjadi gepeng. Setiap menjelang senja di pinggir pantai Losari terdapat puluhan penjual pisang epe berjejer rapi dengan gerobaknya masing-masing, salah satu di antaranya adalah perempuan itu.

Setiap kali menginjakkan kaki ke Makassar, ia selalu memberi saya oleh-oleh. Padahal saya seringkali pulang kampung hanya dengan tangan kosong. Kalau saya membawa sesuatu, ia akan menerimanya dengan senang hati. Begitu pun jika saya tidak membawakan apa-apa, ia tak pernah kecewa dan tetap tersenyum. Artinya, ia tak mengharapkan oleh-oleh dari saya. Namun, ia selalu tak pernah absen memberi saya sesuatu. Kalau bukan pisang, ia akan memberi saya durian atau nangka, bahkan beberapa kilo tepung beras.

Sewaktu kecil, saya seringkali menyaksikan bagaimana terampil dan lincahnya perempuan itu saat membuat pisang epe. Sekarang keterampilannya itu saya saksikan lagi. Ketika ia mengupas kulit-kulit pisang, seolah saya melihat pertunjukkan kehidupan yang sedang dimainkan. Ketika ia memipihkan, seolah saya mendengar musik kehidupan yang bertalu-talu. Ketika ia membakarnya, seolah saya mencium aroma wangi kehidupan. Percampuran itu semua bagai menyuguhkan suatu kesan menarik tentang kehidupan yang khusuk. Sambil berdiri, dengan kedua tangannya ia membolak-balik pisang bagai seorang koki restoran yang sedang mempertunjukkan aksinya.

Perempuan itu bukan sedang mempertunjukkan aksinya. Bukan! Di hadapannya hanya terdapat sebuah alat pembakar makanan. Alat pembakar makanan yang terbuat dari tembikar yang diletakkan di gerobak. Di bawah alat pembakar itu ada arang-arang kayu yang menumpuk. Di dalamnya dinyalakan api dengan umpan bakaran arang kayu. Senantiasa, setelah api menyala, hangat, dan arang memanas. Lalu ia memasukkan beberapa buah pisang kepok yang diambil dari kebun belakang rumah.

Dengan memakan waktu beberapa menit, pisang itu dibakar setengah matang. Setelah cukup lembek, pisang diletakkan di atas jepitan yang terbuat dari kayu dan dilapisi alumunium untuk kemudian ditekan sampai pipih. Proses pembakaran dua kali. Pisang dibakar lagi di atas arang kayu yang panas agar lebih empuk dan renyah. Pisang yang sudah matang disajikan di atas piring kemudian disiram dengan lelehan gula merah seperti gula aren cair yang sudah diberi pandan. Rasa pisang epe antara renyah dan manis. Arang kayu membuat warna pisang menjadi putih kehitaman.  Setelah disiram gula aren, pisang epe akan terasa manis asli tanpa pemanis. Apalagi ditambah lelehan rasa durian, campuran antara aroma durian dan gula aren sangat meleleh di lidah.

Menguliti, membakar, memipihkan, membolak-balik di atas alat pemanggang, itulah kepandaiannya yang saya kagumi. Rasa kekaguman saya sama halnya ketika saya menonton pertunjukkan teater ternama sedang mementaskan dramanya. Mengubah pisang kepok menjadi pisang epe dan kemudian menjajakannya, mendatangkan sedikit laba. Sedikit laba itulah yang diharapkan perempuan itu agar mampu menghidupi keluarganya. Kecuali membuat pisang epe, kepeduliannya terhadap hal lain tidak ada. Kepandaiannya membuat pisang epe, disadari atau tidak, benar-benar melambangkan cinta dan kasih sayang yang besar terhadap pekerjaannya.

Sebenarnya, perempuan itu adalah sepupu saya. Ia adalah anak tertua dari kakak ibu saya yang telah lama meninggal. Oleh karena itu, saya memanggil perempuan itu sebagai kakak atau daeng. Walaupun dia sepupu saya, sedari kecil dalam kehidupan sehari-hari kami, ia secara pasti menganggap saya sebagai adiknya, adik kandungnya. Ibunya yang berprofesi sebagai penjual pisang epe,sementara ibu saya seorang pengrajin sarung sutra. Ayahnya, sebagaimana ayah saya, seorang petani. Dari perpaduan antara seorang petani dengan pengrajin sarung sutra dan perkawinan antara seorang petani dengan penjual pisang epe, menghasilkan anak-anak yang berbeda. Seperti saya yang akhirnya terlempar ke kota. Perempuan itu, daeng saya masih menetap di kampung meneruskan pekerjaan ibunya–menjadi penjual pisang epe dari sore hari hingga malam.

Di masa anak-anak, kami berdua sekolah di SD yang sama, tentu saja dalam tahun yang berbeda. Daeng saya hanya bersekolah hingga kelas lima dan kemudian ia berlatih membuat pisang epe. Tiga tahun setelah itu, tepatnya ketika saya kelas enam SD. Ia dijodohkan dengan seorang petani. Saya sendiri nyaris berhenti sekolah jika tidak diingatkan orangtua bahwa pendidikan itu penting. Saya memang menamatkan  SMP. Kemudian, saya nekat kabur dari rumah untuk meneruskan SMA saya di kota sambil bekerja. Sejak berada di kota dan sesekali saya pulang ke kampung untuk menemui orangtua dan saudara-saudara. Sejak itu pula daeng saya memiliki sikap selalu memberi. Dengan memberi pisang epe atau buah-buahan, ia seolah-olah telah memberikan sesuatu yang ia punya apa adanya. Ia merasa gembira dan terhormat karena telah mampu memberi saya sesuatu.

Selama tiga hari ini ada festival jajanan yang berlangsung di kecamatan. Daeng saya itu menjual dagangannya dari pagi hingga siang hari. Lumayan menguntungkan baginya. Setelah itu ia pun melanjutkan berjualan di sore hari hingga malam di pinggir pantai Losari. Suasana liburan, seperti hari Sabtu-Minggu, lebaran, tujuh-belas-agustusan, dan malam tahun baru selalu ia manfaatkan secara optimal. Ia, berani bertanggang sampai dinihari kalau memang suasana pantai Losari begitu ramai. Kantuk dan lelah tak dihiraukannya. Mengeluh terhadap kantuk dan mengeluh pada lelah berarti mengeluh pada tantangan kehidupan yang mesti dijalankan. Berdamai dengan kantuk dan lelah termasuk resiko; ia harus mengabaikan anak-anaknya dan keluarganya. Ia sebenarnya tidak ingin mengorbankan mereka. Secara tak sadar, mungkin ia telah bertetapan hati untuk mengorbankan dirinya demi anak-anak dan keluarganya.

Saya sebenarnya tak mampu memikirkan bagaimana daeng saya itu merodakan kehidupan seperti itu secara terus-menerus. Maksud saya, dalam berjualan pisang epe, ia tidak pernah mendapat rugi, sesekali pulang pokok. Tetapi bagaimana menghitung tenaga dan waktu yang ia habiskan. Satu tandan pisang yang ada di kebun, sesudah dikurangi modal, dengan menjual satu porsi pisang epe seharga lima ribu memungkinkan dia hanya memperoleh untung sepuluh-dua puluh ribu rupiah saja. Dengan untuk sebanyak itu, sebenarnya ia juga memodalkan waktu untuk satu hari berjualan, keringat, dan rasa lelah serta kantuk. Ia bahkan memodalkan paru-paru dan rongga dadanya yang dimasuki debu dan udara tak segar dari asap bakaran pisang.

Sebelum pulang kampung hari ini, saya telah menyiapkan sedikit oleh-oleh untuk daeng saya itu. Saya sengaja membelikan selembar sarung sutra Makassar yang agak mahal. Saya tak tahu pasti mengapa tiba-tiba saya ingin membawakannya oleh-oleh.

Sesampai di pekarangan, pada senja itu saya langsung melihat seseorang yang tengah berdiri sambil menguliti pisang. Saya berhenti, tertegun melihat sosok yang berbeda. Itu bukan daeng saya. Saya memperhatikan dari belakang, ternyata ia adalah suami daeng.

“Kakak sakit di rumah,” jelas suami daeng saya itu “saya yang menggantikan dia sementara ini.” Lanjutnya kembali meneruskan menguliti pisang.

Saya tak mengajukan pertanyaan, tetapi langsung masuk rumah. Lalu menemukan daeng yang tengah terbaring di atas selembar tikar usang dalam bilik dipan. Dengan bermodalkan penerangan senja lewat jendela yang menganga, saya saksikan seorang perempuan yang tertidur miring ke kanan menghadap kiblat, berselimutkan kain sarung tipis yang biasa dipakai saat berjualan. Wajahnya pucat dan kerut-kerut raut wajahnya makin jelas. Tubuhnya kurus, jauh lebih kurus dari sebelumnya. Napasnya mengalir agak kencang, tiba-tiba ia terbatuk. Batuk kerasnya itu menyebabkan ia terbangun. Kemudian, melalui mulutnya ia menumpahkan dahak segar, memperbanyak genangan dahak dalam sebuah mangkok dekat pembaringannya.

“E, Lim, kapan datang?” tanyanya pelan.

Mungkin daeng saya heran mengapa tiba-tiba saya berada di kamarnya. Saya melarangnya ketika dia berupaya untuk duduk. Tetapi saya gagal. Ia menguatkan diri untuk duduk, bahkan memanggil salah seorang anaknya untuk membuat segelas teh untuk saya.

“Ambilkan pisang epe untuk pamanmu,” lanjutnya lirih.

Saya tak tahu harus berbuat apa. Sungguh tak tahu. Bahkan dalam keadaan seperti itu pun dia masih memperhatikan orang lain. Kenyataan ini tiba-tiba berubah menjadi kehidupan amat lain, seperti ada sesuatu yang berkumandang dari rongga jiwa daeng saya. Nyanyian itu menusuk kalbu. Jangankan di waktu sakit, di waktu sehat pun saya nyaris tak sempat memperhatikan, apalagi menyantuni orang lain. Tetapi perempuan ini!?

“Kalau kembali ke kota, Salim, jangan lupa bawa pisang epe untuk istri dan anak-anakmu,” ujar kakak saya. Kemudian, ia menerima oleh-oleh yang saya bawakan dengan pertanyaan, “Kenapa membawa oleh-oleh segala? Saya tak mungkin hidup lama.”

Nyanyian itu makin menghujam batin nurani saya. Lamat-lamat kedua pipi saya terasa teraliri butir-butir air. Saya terharu mendengar nyanyian kehidupan perempuan ini dan sekaligus sedih atas kesedihan saya yang terlambat. Sampai setahun kemudian, saya diberitahu, bahwa kakak saya telah tiada.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

3 thoughts on “Nyanyian Pisang Epe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s