Posted in Cerpen, curhat

Seperti Batuk

Bukankah hanya seperti terbatuk kita jatuh cinta? Mengumpat sakit itu. Namun pasti terjangkit juga, hanya karena kita duduk bersama virus itu. Bercengkrama, lalu jatuh cinta. Seperti virus yang kemudian menjangkit.

 

Bukankah batuk dan asmara, sama-sama bergelora tanpa batas? Tak mau ditahan, karena jika tertahan akan nyeri rasa dada. Seperti udara yang ditarik keluar dari permukaan atmosfer. Bisa saja jika mau, tapi apa sanggup menahan pilunya? Kemudian menjelmalah cinta jadi candu, sepeprti batuk yang tumbuh menjadi rutinitas.Tak bisa tak memulai hari tanpa batuk. Takbisa pergi terlelap tanpa melepas batuk. Batuk batuk batuk. Dan cinta bedanya hanya pada konsonan dan vokal. Namun rasanya menjangkit walau sakit yang tak mengenal batasan. Sebab tak seorangpun menghiraukan bunyi batuk. Seperti sebuah cinta yang bisu.

Aku merasakan samar-samar pesonamu memenuhi ruang gerak nafasku. Mencuri seinci demi inci keluasaan dan volum udara. Menyesakkan dada, menimbulkan riuh di koridor utama paru-paruku. Nafasku memburu bayangan tubuhmu jauh ke angkasa. Mencoba menariknya kembali ke dalam rengkuhan tanganku. Membayangkan tubuhmu terikat di rongga hidungku, melepaskan nafas yang memburu tertahan di nadi. Aahhh…Seketika sensasi-sensasi itu berubah menjadi nada batuk yang termuntah pelan-pelan melalui kerongkonganku. Satu batuk, dua batuk. Dan batuk-batuk itu semakin mencanduku dengan keragu-raguannya mencerna kenyataan. Tidak peduli betapa perih rasa batuk itu, aku tetap memuntahkannya. Berharap dalam tiap nada batuk itu, ada kamu. Ada sensasi bercinta denganmu di rongga hidung atau angkasa raya.

Aku tidak bercita-cita menyembuhkan batuk ini segera, karena kenikmatan batuk ini memang begitu mencandu. Membuat perlahan-lahan organ tubuhku ketergantungan. Gila-gilaan menginginkannya lagi, dan lagi. Hingga lupa bagaimana dulu aku pernah bersumpah serapah mengutuki sakit malang ini, sakit batuk. Yang kataku penyakit rendahan. Penyakit orang tak berdaging. Hanya kenal udara dan debu, kotor dan nista. Padahal sekarang, jelas-jelas aku selalu ingin lebih dan lebih lagi batuk menghinggapiku. Menampilkan bayangan-bayangan siluet tubuhnya. Tubuhmu,sayangku. Herannya, kau di situ. Mendengarkan aku terbatuk-batuk bercerita soalmu.

Semakin kencang batukku, semakin besar kedua pupil mataku membelalak menyaksikan keindahan pada paras wajahmu. Kau tertawa, aku terbatuk. Bahkan kau mencair dan aku tetap terbatuk. Seolah sakit anugerah untuk menghadirkan tawa dan bayangan diirmu. Percayalah, sepanjang usia ini aku telah banyak mentertawai jenis-jenis batuk. Tapi kini, tidak ada satu detik pun dalam hidupku, yang kutinggalkan tanpa jejak nada batukku. Otakku berteriak “BATUKLAH!”. Hatiku memaksa “BATUK DENGAN GEMPITALAH”. Dan sum-sum jiwaku menjerit, “BATUK DAN HADIRKAN DIA” Aku menolak. Berusaha sekuat tenaga mengacaukan jagat angkasa raya milikku. Hentikan batuk, walau aku ingin. Walau tubuhku tak berhenti merasakan rindu padanya. Jangan sentuh, jangan ambil, tolong tinggalkan setangkup batuk itu di sana. Aku memang menikmati batuk, tapi tubuhku didera perlahan tanpa kusadari. Seperti candu yang melumat dalam jarak waktu yang panjang. Aku ingin menyudahi batuk karena tak tahu pangkal dari terbatuk-batuk.Sebab batukku adalah kekaguman padamu. Puji-pujian dan rindu ynag setinggi langit dan sedalam sanubari. Tak tersaingi, tak terarungi. Namun sunyi. Seluruhnya menjelma menjadi nada-nada sumbang dalam bunyi batukku. Sepertu itulah rasa ini hadir. Seperti batuk yang kuumpat. Yang kemudian melumat. Menerbangkan aku pada khayangan tingkat tujuh. Aku percaya suatau hari batuk ini harus sembuh. Tapi aku tidak mau terbangun, pada detik aku sadari batuk telah pergi dari seluruh tubuhku. Dan aku berhenti terbatuk-batuk. Kaulah jenis virus yang menjangkit dan menjelma dalam serangkaian batukku.

Bukankah hanya seperti terbatuk kita jatuh cinta? Mengumpat sakit itu. Namun pasti terjangkit juga, hanya karena kita duduk bersama virus itu. Bercengkrama, lalu jatuh cinta. Seperti virus yang kemudian menjangkit. Bukankah batuk dan asmara, sama-sama bergelora tanpa batas? Tak mau ditahan, karena jika tertahan akan nyeri rasa dada. Seperti udara yang ditarik keluar dari permukaan atmosfer. Bisa saja jika mau, tapi apa sanggup menahan pilunya? Kemudian menjelmalah cinta jadi candu, sepeprti batuk yang tumbuh menjadi rutinitas. Tak bisa tak memulai hari tanpa batuk. Takbisa pergi terlelap tanpa melepas batuk. Batuk batuk batuk. Dan cinta bedanya hanya pada konsonan dan vokal. Namun rasanya menjangkit walau sakit yang tak mengenal batasan. Sebab tak seorangpun menghiraukan bunyi batuk. Seperti sebuah cinta yang bisu.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

2 thoughts on “Seperti Batuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s