Posted in Sedikit Ilmu

Fungsi dan Makna Afiks Informal Bahasa Indonesia Pada Majalah Kort

Seiring dengan perkembangan zaman membuat munculnya kata-kata baru. Kata-kata baru tersebut mulai mengalami perubahan karena perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan manusia yang terus menerus berubah. Perkembangan bahasa tidak bisa lepas dari media terutama media cetak. Peran media cetak sangat penting dalam pengembangan kosakata. Berbagai kosakata baru akan lebih mudah diperkenalkan kepada masyarakat lewat media massa dibandingkan dengan melalui jurnal ilmiah atau hasil penelitian. Oleh sebab itu, perkembangan bahasa dapat dilihat dari majalah yang berada di masyarakat.

Majalah yang berkembang di masyarakat banyak menggunakan ragam yang bervariasi tergantung dengan sasaran pembacanya. Di dalam ragam yang digunakan tersebut terdapat kata-kata yang sering digunakan dalam bahasa percakapan. Ragam gaul digunakan majalah Kort untuk menarik minat pembacanya. Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis fungsi dan makna afiks informal yang sering digunakan dalam bahasa percakapan dan digunakan pada majalah Kort. Untuk mencapai tujuan tersebut, penulis mengumpulkan data berupa artikel yang terdapat dalam majalah Kort.

Morfologi adalah ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata. Dalam morfologi terdapat proses pembentukan kata. Proses pembentukan kata tersebut melibatkan proses pembentukan kata seperti reduplikasi, afiksasi, penggabungan melalui proses komposisi, dan pengubahan status dalam proses konversi.

Afiks adalah morfem yang tidak dapat menjadi dasar dalam penbentukkan kata, tetapi hanya menjadi unsur pembentuk dalam proses afiksasi. (Chaer, 2008: 23). Afiks dalam bahasa Indonesia mempunyai peran yang sangat penting sebab kehadiran afiks pada sebuah dasar (kata) dapat mengubah bentuk, fungsi, kategori, dan makna dasar atau kata yang dilekatinya. Terkait dari berbagai macam proses pembentukan tersebut, terdapat proses pembentukan afiksasi yang dapat dibedakan atas prefiksasi, sufiksasi, infiksasi, konfiksasi, dan simulfiksasi.

Simulfiksasi, yaitu proses penambahan afiks yang tidak berbentuk suku kata, yang dileburkan dalam morfem dasar. Di dalam artikel majalah Kort terdapat satu kata yang mengalami proses simulfiks. Kata yang mengalami proses simulfiks dalam majalah Kort antara lain:

No Kata
1 Ngasih

–          Proses pembentukan kata “ngasih” dalam majalah Kort terbentuk dari bentuk dasar sekaligus akar kata“kasih” yang ditambah dengan simulfiks ng-.

Penggambaran : bentuk dasar “kasih” + simulfiks -ng => “ngasih”.

Makna dalam kata “ngasih” adalah memberikan sesuatu.

Fungsi prefiks ng- dalam kata “ngasih” sebagai pembentuk verba atau kata kerja dan membentuk kata transitif.

Dalam kata “ngasih” terdapat perubahan kelas kata. Dimulai dari bentuk dasar “kasih” yang mengalami peluluhan fonem /k/ dan merupakan kelas kata ajektiva kemudian ditambah dengan simulfiks ng- sehingga mengalami perubahan menjadi kelas kata kerja. Artinya simulfiks ng- merupakan afiks infleksi yang dapat merubah kelas kata.

Prefiksasi, yaitu imbuhan yang dilekatkan di depan dasar atau kata dasar. Di dalam artikel majalah Kort terdapat beberapa kata yang mengalami proses prefiksasi nge- yang sepadan dengan prefiks meng-. Kata-kata yang mengalami proses prefiks dalam majalah Kort antara lain:

No Kata
1 Nge-drop
2 Nge-hook
3 Ngerasa

–          Proses pembentukan kata “nge-drop” dalam majalah Kort terbentuk dari bentuk dasar sekaligus akar kata “drop” yang ditambah dengan prefiks nge-.

Penggambaran : bentuk dasar “drop” + prefiks -nge (meng-) => “nge-drop”.

Makna dalam kata “nge-drop” adalah membuat kecewa.

Fungsi prefiks nge- dalam kata “drop” sebagai pembentuk ajektiva dan membentuk kata transitif.

Kata nge-drop memiliki bentuk dasar drop ditambah afiks nge- sehingga membentuk kata kompleks berafiks. Ada perubahan makna leksikal ke makna gramatikal. Kata drop memiliki makna “turun” dan merupakan kata kerja, tetapi setelah dibentuk dengan prefiks nge- memiliki makna “menjadi turun” dan menjadi kata ajektiva. Namun, dalam konteks kalimat maknanya berubah menjadi “membuat kecewa”. Karena perubahan kelas kata yang semula verba menjadi ajektiva sehingga prefiks nge- merupakan afiks infleksi yang dapat merubah kelas kata. Afiks nge- yang dipakai dalam majalah Kort digunakan dalam situasi nonformal dan sepadan dengan prefiks meng-.

–          Proses pembentukan kata “nge-hook” dalam majalah Kort terbentuk dari bentuk dasar sekaligus akar kata“hook” yang ditambah dengan prefiks nge-.

Penggambaran : bentuk dasar “hook” + prefiks -nge (meng-) => “nge-hook”.

Makna dalam kata “nge-hook” adalah membuat sesuatu menjadi berkaitan.

Fungsi prefiks nge- dalam kata “hook” sebagai pembentuk kata kerja dan membentuk kata transitif.

Kata nge-hook memiliki bentuk dasar hook ditambah afiks nge- sehingga membentuk kata kompleks berafiks. Ada perubahan makna leksikal ke makna gramatikal. Kata hook memiliki makna “kait” yang merupakan kata nomina, setelah dibentuk dengan prefiks nge- memiliki makna “membuat berkaitan” dan menjadi kata kerja. Namun, dalam konteks kalimat maknanya berubah menjadi “membuat sesuatu menjadi berkaitan”. Karena perubahan kelas kata yang semula nomina menjadi verba sehingga prefiks nge- merupakan afiks infleksi yang dapat merubah kelas kata. Afiks nge- yang dipakai dalam majalah Kort digunakan dalam situasi nonformal dan sepadan dengan prefiks meng-.

–          Proses pembentukan kata “ngerasa” dalam majalah Kort terbentuk dari bentuk dasar sekaligus akar kata “rasa” yang ditambah dengan prefiks nge-.

Penggambaran : bentuk dasar “rasa” + prefiks nge- => “ngerasa”.

Makna dalam kata “ngerasa” adalah merasakan sesuatu.

Fungsi prefiks nge- dalam kata “ngerasa” sebagai pembentuk verba atau kata kerja dan membentuk kata transitif.

Dalam kata “ngerasa” terdapat perubahan kelas kata. Dimulai dari bentuk dasar “rasa” yang merupakan kelas kata nomina kemudian ditambah dengan prefiks nge- sehingga mengalami perubahan menjadi kelas kata kerja. Artinya prefiks nge- merupakan afiks infleksi yang dapat merubah kelas kata.

Sufiksasi, yaitu afiks yang ditambahkan pada bagian belakang kata dasar. Di dalam artikel majalah Kort terdapat beberapa kata yang mengalami proses prefiksasi nge- yang sepadan dengan prefiks meng-. Kata-kata yang mengalami proses sufiks dalam majalah Kort antara lain:

No Kata
1 dianterin
2 nyanyiin
3 dengerin

–          Proses pembentukan kata “dianterin” dalam majalah Kort terbentuk dari akar kata “anter” yang ditambah dengan prefiks di- menjadi bentuk dasar “dianter” kemudian kata “dianter” ditambah sufiks -in.

Penggambaran : akar kata “anter” + prefiks di- => “dianter”+ sufiks –in => dianterin

Makna dalam kata “dianterin” adalah diajak untuk mendengarkan sesuatu.

Fungsi sufiks in- dalam kata “dianterin” sebagai pembentuk verba atau kata kerja dan membentuk kata transitif pasif.

Dalam kata “dianterin” tidak terdapat perubahan kelas kata. Dimulai dari bentuk dasar “anter” yang merupakan kelas kata verba kemudian ditambah dengan prefiks di- dan sufiks -in. Artinya prefiks di- dan sufiks –in merupakan afiks derivatif yang tidak mengubah kelas kata.

–          Proses pembentukan kata “nyanyiin” dalam majalah Kort terbentuk dari akar kata “nyanyi” yang ditambah dengan sufiks -in.

Penggambaran : bentuk dasar “nyanyi” + sufiks –in => nyanyiin

Makna dalam kata “nyanyiin” adalah sedang menyanyikan suatu kalimat.

Fungsi sufiks in- dalam kata “nyanyiin” sebagai pembentuk verba dan membentuk kata transitif.

Dalam kata “nyanyiin” tidak terdapat perubahan kelas kata. Dimulai dari bentuk dasar “nyanyi” yang merupakan kelas kata verba kemudian ditambah dengan sufiks -in. Artinya sufiks –in merupakan afiks derivatif yang tidak mengubah kelas kata.

–          Proses pembentukan kata “dengerin” dalam majalah Kort terbentuk dari akar kata “denger” yang ditambah dengan sufiks -in.

Penggambaran : bentuk dasar “denger” + sufiks –in => dengerin

Makna dalam kata “dengerin” adalah sedang mendengarkan sesuatu.

Fungsi sufiks in- dalam kata “dengerin” sebagai pembentuk verba dan membentuk kata transitif.

Dalam kata “dengerin” tidak terdapat perubahan kelas kata. Dimulai dari bentuk dasar “denger” yang merupakan kelas kata verba kemudian ditambah dengan sufiks -in. Artinya sufiks –in merupakan afiks derivatif yang tidak mengubah kelas kata.

 

Setelah melihat uraian di atas, dapat diketahui bahwa dalam artikel majalah Kort terdapat tiga macam afiksasi informal, yaitu simulfiks ng-, prefiks nge-, dan sufiks –in. Dari Ketiga macam afiksasi tersebut dua diantaranya dapat membentuk sebuah kelas yang berbeda dari kata dasarnya atau bisa disebut membentuk afiks infleksi. Afiksasi yang dapat membentuk kelas kata yang berbeda adalah simulfiks ng- pada kata “ngasih” dan prefiks nge- pada kata “nge-drop”, “nge-hook”, ­“ngerasa”. Seperti pada kata “ngasih” merupakan kelas kata ajektiva kemudian ditambah dengan simulfiks ng- dan mengalami perubahan menjadi kelas kata kerja. Namun, pada sufiks –in tidak ditemukan adanya perubahan kelas kata. Dari ketiga kata bersufiks –in yang ditemukan dalam artikel majalah Kort, sufiks –in tetap sebagai pembentuk kelas kata verba sehingga sufiks -in adalah afiks derivatif.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

5 thoughts on “Fungsi dan Makna Afiks Informal Bahasa Indonesia Pada Majalah Kort

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s