Posted in Uncategorized

Memberi

Dulu, saat aku kecil, ayahku seringkali memberikan coklat untukku. Tidak hanya coklat, tetapi juga makanana-makanan lain yang manis. Ayahku suka sekali memberikan sesuatu. Aku sangat senang. Aku bersyukur memiliki ayah sepertinya.

Setelah aku beranjak remaja. Ayahku tetap tak pernah berhenti memberi. Kali ini tidak hanya aku, tetapi juga orang lain. Saat remaja, kupikir, ayahku memang dermawan. Suka memberi. Setiap lai kebun rumahku berbuah, ayahku tak pernah lupa mengantongi beberapa buah untuk tetangga-tetangga sekitar rumahku. Keluargaku sederhana, biasa saja, tak kaya, bahkan terkadang kekurangan. Namun, ayahku suka sekali memberi. Karena terlalu sukanya memberi, pernah aku dibuat kesal olehnya.

Ketika ulang tahun ayahku yang ke-45, kami sekeluarga pergi jalan-jalan ke sebuah mall.
Kami sebenarnya jarang sekali jalan-jalan ke mall kalau tidak untuk belanja kebutuhan bulanan.
Tetapi karena hari itu istimewa buat ayahku, kami sekeluarga memutuskan pergi ke mall sebentar dan makan bersama. Setelah makan bersama, ayahku melihat sebuah jaket kulit yang bagus. Jaket kulit impor berwarna coklat tua. Aku sendiri suka dengan model jaket itu. Dengan uang yang pas-pasan, ayah pun membeli jaket itu. Kebetulan, jaket ayahku cuma dua biji. Ayah pikir tidak ada salahnya jika nambah satu lagi. Ayahku kelihatan senang sekali membeli jaket itu. Aku ingat, binar matanya memancarkan kepuasan, kebahagian, dan kesenangan. Aku pun ikut senang melihat senyum merekah di wajahnya.

Keesokkan harinya, ayahku pergi ke tukang cukur rambut. Ia pergi ke sana memakai motor bebeknya sembari menggunakan jaket kulit kesayangannya. Namun, pulang dari tukang cukur rambut,  kudapati ayahku tak lagi menggunakan jaket coklat kulitnya. Aku bertanya-tanya, kemana jaket itu? Ternyata, ayahku telah memberikan jaket yang baru diberinya kemarin pada tukang cukur itu. Aku dan ibuku terbengong-bengong mendengar penjelasan ayahku. Kata ayahku, tukang cukur itu suka dengan jaketnya sehingga ia pun memberikan dengan cuma-cuma. Saat itu, aku tak habis pikir dan tak tahu apa yang ada di pikiran ayahku itu. Aku dan ibuku pun kesal seharian karena kelakuan ayahku itu.

Menjelang dewasa, aku semakin sering memperhatikan ayahku. Ia memang hobi sekali memberi. Dari mulai hal-hal yang kecil, hingga hal-hal yang besar. Dari mulai perhatian hingga nasihat dan bentuk materi pun akan ia beri. Pernah suatu kali aku bertanya pada ayahku, kenapa ia suka sekali memberi?Ayahku menjawab, katanya, “Memberi sama saja kita telah menolong orang, dengan menolong orang artinya kita telah mengubah masa depannya. Dengan memberi, kamu akan bahagia. Bahagia karena melihat orang lain bahagia.”

Saat itu aku belum mengerti maksud ayahku itu. Dimana letak bahagianya?

Suatu ketika, aku menonton sebuah acara televisi. Dalam acara itu ditayangkan seorang anak SD dari keluarga yang tidak mampu. Ia tinggal bersama neneknya yang sudah tua renta. Awalnya, acara televisi itu terlihat biasa bagiku.Sampai suatu ketika, anak SD laki-laki itu membelikan sebuah baju dari hasil jualan sate tusuknya. Kemudian membelikan sebuah baju berwarna biru kepada neneknya. Anak itu pun datang ke pangkuan neneknya dan memberikan baju sederhana yang baru ia beli. Saat-saat itu, entah kenapa ada pelupuk air mata di mataku. Ketika melihat senyum neneknya mulai mengembang. Tanpa sadar aku mulai menjerit kemudian menangis sesenggukkan. Air mataku entah kenapa tumpah begitu saja melihat nenek itu tersenyum sumringah lalu memeluk cucunya. Mereka berdua saling tersenyum dan berpelukan. Erat sekali. Aku terenyuh.

Pada dasarnya, orang baik akan selalu memiliki semacam keterikatan tak terlihat dengan orang baik pula. Begitu pula dengan orang yang gemar berbagi, juga akan selalu memiliki satu-hati-satu-rasa dengan orang yang tak menahan diri untuk tak memberi.

Kini aku sadar, apa yang pernah dikatakan ayahku. Aku pun mulai belajar memberi. Tidak hanya materi, tetapi juga immateri. Tidak hanya uang, benda, tetapi juga perhatian, kasih sayang, nasihat.
Memberi lah! Niscaya kamu akan merasakan bahagianya hidup ditengah kehidupan manusia.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

4 thoughts on “Memberi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s