Posted in curhat

Flying Without Wings

Dua minggu terakhir ini saya selalu saja tertuju pada lagu nostalgia yang paling jadi favorit mama dulu. Waktu kecil sering banget di puter tuh lagu, sampai – sampai hafal para penyanyinya yah Betharia Sonata yah Obbie Messakh, ada satu liriknya yang bunyinya

“Bukan perpisahan yang kutangisi tapi pertemuan yang kusesali…”

Mungkin bukan sepenuhnya lirik ini benar, hanya saja kadang saya suka kesal sama perpisahan, bikin mewek bikin cengeng. Masih kebayang – bayang gimana perpisahan kemarin di DAQU sama anak – anak, mereka nangis setengah jam lebih yang ekspektasi saya perpisahan paling ceria. Yah kelas saya secara anak kelas satu gak kenal pertemuan atau perpisahan. Orang – orang dewasa (cie udah dewasa ceritanya) yang lewat di hidup mereka yah lewat aja, ternyata mereka jauh lebih menyentuh dan bikin saya nangis juga. Ngediemin anak – anak kecil lebih susah daripada anak kelas lima atau kelas tiga, dan mereka hanya bisa diam waktu……

 

anak – anak : (capek nangis dari jam setengah sepuluh sampe jam sepuluh lewat)

saya : “Udah nangisnya? capek ya? ayo atuh minum dulu…”

anak – anak : (minum disuapin satu satu)

saya : “Ayo diem ya, kakak mau pulang kok malah nangis, kalo diem kakak bikinin bintang yang gedeeeeee banget” (mengambil karton)

anak – anak: (secara ajaib mereka mendadak diem)

saya : O.O (waaaw) #bikin bintang gede dari karton

anak – anak : “Kakak…. kakak mauuuu ” (berebutan)

 

Setelah semua dapet….

 

anak – anak : “Dadah kakak..” (dan mereka pergi)

 

Seolah setengah jam tadi saat mereka nangis terhapus begitu saja, kalo di komik mungkin latar saya saat itu ada efek angin dan daun yang tertiup dibelakangnya *hening* =.= Yang jelas perpisahan kemarin di akhiri dengan tangisan….Setelah balik naik motor…anak – anak ngiring dan muka terakhir yang saya liat itu muka Nuri yang nangis dan Nazar (mirip Baim) yang kebingungan polos..

Sebelumnya pernah juga….

 

Kakak ini buat kakak….


Sipa : “Kakak suka bunga matahari?”

Saya : (girang) “Suka banget!!”

Sipa: “Di sini ada bunga matahari, nanti kita ambilin.” nyengir

mereka menghilang ntah kemana waktu balik

“Kakaaaaaaaaak ini bunganya, kalo kakak mau lagi nanti si Mini ambilin lagi.” mereka bersemangat.

 

Seperti biasa, saya gak pernah mengharapkan lebih dari adik-adik. Saya tau, ga akan menerima hal yang nampaknya bagi orang ‘so sweet’ karena hal manis itu mereka tunjukkan lewat perbuatan sederhana mereka.

 

Adik-adik kecil mungilku suka berdiri di depan jendela kamar ngajak berangkat bareng

Adik-adik mungilku menjadikan aku tempat mengadu kalau tadi ada temennya yang nakal

kalau tadi di jalan ada anjing yang bertingkah aneh, kalau kemarin mereka main bola di lapangan

Adik-adik kecil berebutan ngegelayutin punggungku, tanganku, minta pangku

ga mau main kalo aku gak main, kalo aku duduk mereka ikut duduk dan sama – sama kita ngeliatin apa pun yang melintas di depan

 

Yah teorinya sebenernya anak – anak bukan tidak mengerti, hanya saja mereka memiliki cara masing – masing untuk bereaksi terhadap kasih sayang yang kita berikan.ย  Satu yang pasti, mereka akan selalu mudah menangkap cinta yang kita tebarkan untuk mereka dan membalasnya dengan sangat manis. Mungkin kadang mereka seperti mudah melupakan namun sebenarnya mereka menyimpan ingatan itu dengan cara yang berbeda, dengan perubahan sikap yang tertanam seumur hidup.

Sekecil apapun yang kita berikan untuk mereka, sederhana tapi diberikan dengan tulus dan kasih sayang mereka akan merekam semua itu dan sampai ke hati mereka. Hal ini semakin membuat saya bersemangat untuk mewujudkan impian dunia yang terbesar dalam hidup saya.

 

“Memiliki sekolah anak-anak”

 

Mereka yang membuat saya belajar mencintai dengan tulus ย dan belajar dicintai dengan tulus.

Mereka yang membuat saya rasanya benar – benar disayangi seumur hidup saya.

Saat saya lelah dengan dunia orang dewasa yang kadang penuh dengan teka teki ekspresi, mereka lah obatnya.

Karena mereka lah yang membuat saya bisa memberikan senyum terbaik di wajah dan menyulamnya dengan tulus.๐Ÿ™‚

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

6 thoughts on “Flying Without Wings

  1. kaka..kakaaa…
    buatin pesawat doooooooong dari keltaaas, kaan bial bisaa telbaaang ke langitt.
    yaaa..yaaa..yaaa…pliiis kaakaaa

    #muka-melaas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s