Posted in Cerpen

SangPemalas!

Dua tahun yang lalu aku pernah melihat sesosok manusia. Manusia itu berpakaian putih dengan celana hitam ngatung di atas mata kakinya. Manusia itu, entah apa istimewanya sanggup membuatku menoleh. Biasanya aku suka cuek sama mahluk cowok, aku lebih suka melihat mahluk cewek apalagi kalo cewek itu cantik. Meski aku cewek, tapi aku suka sekali melihat cewek cantik.Ya, daripada liatin cowok, mending liatin cewe deh. Tapi, manusia berpakaian putih itu telah membuat sesuatu yang berbeda!Ih, kenapa aku bisa menoleh hanya karena dia lewat? Manusia itu, selain dia memakai baju putih dan bercelana hitam, ia juga memakai kacamata.  Huah, jangan-jangan aku kena sihir dari balik kaca bening itu!  Ia mampu membuatku menoleh hanya karena dia lewat. Sihir itu sepertinya telah mengutukku! Setelah pertemuan itu, aku selalu terbayang-bayang wajahnya. Oh my! Ada apa denganku? Aku kena kutukan! Entah apa, entah kenapa, entah bagaimana. Kutukan itu selalu membuat irama tak beraturan pada nadi jantungku setiap kali melihat dia.

Waktu berlalu mengantarkanku mengenal sosok manusia itu. Ternyata namanya Rizuke, tapi orang-orang biasa memanggil dia SangPemalas. Dia mengakui bahwa dia adalah SangPemalas! Meski terkesan negatif, panggilan SangPemalas! buatku menunjukkan sebagian dari dirinya. Biasanya, orang-orang selalu menutupi kekurangannya atau kejelekannya. Namun, dia berbeda. Dia justru mengakui keburukannya itu. Walau sebenarnya aku juga kurang setuju jika panggilan itu justru membuat dia benar-benar menjadi SangPemalas!.  SangPemalas! ini punya karakter misterius dalam dirinya. Semakin mengenalnya, semakin aku tahu kalau dia itu tipe introvert. Sangat introvert. Menurutku, itu lah yang membuat kepribadiannya misterius dan ternyata melankolis! Wajar tidak kalau laki-laki itu melankolis? wajar banget, namanya juga manusia. Tetapi terlalu melankolis juga gak baik untuk kesehatan hati. Jangan terlalu melankolis ya!

Satu hal yang membuatku sering uring-uringan dibuatnya adalah karena dia seringkali memendam semua masalahnya sendiri. Menyalahkan dirinya sendiri. Menghukum dirinya sendiri. Semakin aku perhatikan, raut wajahnya, semakin aku tahu bahwa sesungguhnya dia menyimpan luka. Kesepian dan seringkali merasa kehilangan segalanya. Aku lihat dia jarang sekali tertawa. Bahkan tersenyum pun seperti barang mahal buatnya. Seakan dia memiliki sebuah beban berat yang selalu dibawanya kemana-mana. Lihat saja setiap kali di foto, senyumnya itu kemana? Dia memang memiliki bentuk bibir yang cukup lebar, tapi apa salahnya kalau tersenyum. Senyum dong…. bukannnya kalian semakin manis, cantik, dan tampan jika tersenyum? Tersenyumlah, setidaknya hatimu bisa ikut tersenyum.

“Maaf, aku tak bisa memahami setiap maksud hatimu. Aku yang seringkali tak mampu membaca dan mengerti maksud isyaratmu. Maaf juga aku yang tak bisa memberi dan membantumu di saat kamu terpuruk,” ucapku dalam hati ketika berjalan di belakangnya sambil memandangi punggungnya

Ingin sekali aku memeluknya dan berbisik, “Percalah padaku. Kau butuh seseorang,” tetapi aku pun tak pernah berani. Aku hanya mampu melihatnya dari jauh.

Seringkali aku melihatnya menyepi di sudut pojok kelas paling belakang sambil bertopang dagu memandang langit. Kadang ingin sekali bertanya, “Apa yang kamu pikirkan?” tapi lagi-lagi aku urungkan niatku karena aku tahu, pasti nantinya dia akan berbohong. Menjawab bahwa dia baik-baik saja. Aku katakan hal ini karena kuperhatikan kalimat itulah yang selalu dia ucapkan kepada teman-temannya. Dia seringkali menyembunyikan perasaannya sendiri. Bahkan dari raut wajah dan matanya itu bisa terpancar kesedihannya, tapi ia selalu saja menjawab dengan diam sambil tersenyum atau pun mengucap kalimat, “Gak apa-apa kok.”
Namun, ketika aku melihatnya di dunia maya, dia menjadi begitu berbeda. Dia tertawa begitu senangnya, seakan begitu menikmati dunianya. Dia benar-benar merasa enjoy dengan dunia berselimut ketidakpastian.  Aku sedih, sesedih-sedihnya. Begitu kesepian kah dia hingga dunia maya menjadi tempat pelariannya? Aku tak bisa membayangkan seandainya dia melepas kehidupan mayanya. Akankah dia begitu kehilangan? Akankah dia begitu merindukan?  Iya, kuyakin pasti jawabannya iya.

Hari ini dia ulang tahun. Aku berharap, di ulang tahunnya saat ini dia bisa menjadi orang yang bahagia.

“Hei, SangPemalas! berbahagialah! tersenyumlah! seperti tawa lepas yang pernah kulihat saat kau berbaju biru di hari ulangtahun ayahmu. Ya, tertawalah seperti itu! berbahagialah! Sesungguhnya, aku benar-benar senang melihatmu tertawa. Cobalah berbahagia dengan kehidupan nyatamu bukan karena di depan layar saja. Tersenyumlah, tertawalah, berbahagialah SangPemalas! Aku Percaya kau seorang berhati tulus. Berakhlak baik. Berbudi luhur. Meskipun pemalas.”

“Kurangi rasa malasmu ya! Percayalah bahwa kau disayangi. Jadilah orang baik, karena orang baik akan ada keterikatan langsung atau tidak langsung dengan orang baik pula dan aku ingin kau selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Percayalah SangPemalas! banyak yang mencintaimu, banyak yang menyayangimu. Jangan kau ragu. Percayalah bahwa hidup ini indah, tidaklah rumit. Hadapilah! dan terimalah!”

“Satu hal lagi, kau juga butuh seseorang untuk berbagi. Cobalah berbagi masalahmu, keluhanmu, perasaanmu, tawamu dengan yang lain. Berbahagialah SangPemalas! Di hari ulangtahunmu saat ini. Aku berdoa, aku berharap, aku menginginkan, agar kau berbahagia. Berbahagialah! Berbahagialah! Berbahagialah! Percayalah, banyak orang yang menyayangimu di sini. Keluargamu, saudara-saudaramu, teman-temanmu. Mereka semua menyayangimu! Jangan pernah merasa kesepian lagi ya!”

Mungkin penilaianku dan harapanku terlalu berlebihan, ya?

“Jangan lupa, kau bisa menjadi lebih bijaksana seperti keinginanmu dan kau harus berbahagia seperti senyum lepas Yoh Asakura. Selamat Ulang Tahun, SangPemalas!”U should be smile, like this!

210612

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

4 thoughts on “SangPemalas!

  1. “Dua tahun yang lalu aku pernah melihat sesosok manusia. “

    pernah..? berarti sekarang sudah tidak melihatnya lagi?
    salamin buat si pemalas..tapi bukan rizuke yah..hee
    buat si yoh asakura ajah..gimana kabarnya sekaarang?

    1. wah, kak Seni kenal sama si Yoh Asakura ya?? 😀

      Alhamdulillah, insyaAllah si Yoh sehat wal’afiat, kan udah dijagain sama Anna… :))
      tapi dia masih suka bersantai2an alias bermalas2an kak… ahohohoho :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s