Posted in Cerpen

Aku Mencintaimu, Ayah

Tanggal 25 Juli nanti, usiamu genap menjadi 52 tahun. Semakin jelas betapa tiap kerut di kulitmu dan putih di rambutmu adalah gambaran kerja keras. Aku bisa melihatnya setiap petang. Saat kau pulang dari kantor, puluhan tahun mengabdi untuk sebuah tanggung jawab. Dan bagi keluarga, tak ada batasan waktu. Karena kedekatan bagimu adalah soal hati.

 

Ayah, usiamu semakin meninggi, atau malah, makin merendah karena satu per satu penyakit bermunculan. Ginjal, jantung, rematik, segala keluhan khas orangtua. Tidak bisa berlama-lama menyetir mobil karena pundakmu seringkali pegal-pegal. Tak seperti dulu, masih bisa mengayunkan aku dengan satu tangan, atau menggendongku di atas bahu.

 

Tipikalmu keras hati. Sangat. Kalau boleh aku jujur, terkadang aku tak mengerti bagaimana berkompromi denganmu. Tapi pelan-pelan aku mencoba, sadar bahwa apa-apa yang kau lakukan adalah demi kebaikanku.

 

Dulu sekali aku ingat. Kau tak pernah mengizinkanku untuk pergi kesana kemari seorang diri. Selalu kau minta aku untuk menunggumu hingga kau antar aku ke tempat tujuanku. Hingga ketika SMA kelas tiga beranjak, aku jengah di antar-antar dan nekad pulang sendiri ke sekolah naik motor.

Hingga akhirnya kau paham dan membebaskanku untuk pulang sendirian.

 

Hari ini, saat aku hendak kembali ke sini, kau berusaha pulang secepatnya. Sekali lagi, kau bilang “Tunggu aku… Kali ini mungkin terlambat. Tapi kau harus tunggu aku.” Padahal kulihat sesekali kau mengelus pundakmu yang kesakitan.

 

“Dinar bisa sendiri, cuma butuh naik angkot sekali, mama sama papa gak usah nganter juga gak apa-apa”

“gak bisa gak bisa, kamu tuh mau balik ke Depok, bahaya anak gadis sendirian!”

 

Aku juga ingat, saat kau tahu bahwa aku tengah berusaha untuk mandiri. “Kamu tak perlu bekerja. Belum saatnya. Saat ini papa masih bisa menanggungmu. Papa masih punya tanggung jawab padamu. Kau hentikan kerjaanmu itu, dan fokus pada pendidikanmu.” Walau saat itu, ada goresan kekecewaan dalam hatiku. Namun, aku tahu maksud baik hatimu.

 

Akhirnya aku mengalah, dan kau tetap dengan tanggung jawabmu sebagai seorang ayah.

 

Ayah, aku ingin bercerita banyak, tapi aku tak sanggup karena aku terisak tiap kali hendak menulis. Tidak sanggup tiap kali mengingat sebuah momen yang tak akan pernah bisa aku tulis di sini. Satu momen yang setiap aku mengingatnya entahlah mengapa aku menangis.

 

Aku hanya ingin mengatakan padamu, sungguh aku cinta.

Sabar Ayah…

Sabar…setiap ujian pasti ada hikmahnya….

 

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s