Posted in Cerpen, curhat

Ikatan

Mungkin kah mengikat sesuatu tanpa ada pengikatnya?

Tidak.

Begitu pula dengan Cinta.

dan

Pengikat cinta adalah pernikahan.

Maka ikat lah erat cinta itu.

atau

Lepaskan lah.

Jika memang engkau mengaku cinta.

 

Saat kutulis catatan ini, banyak hal yang sedang kurasakan. Berbagai macam perasaan ada di sini, di hati. Antara kecewa, sedih, kaget, bingung, senang, bersalah, dan entahlah masih banyak rasa yang tak tersampaikan oleh kata. Rasa ini bukan tanpa sebab, melainkan karena satu hal. Kamu. Siapa pun kamu, apa pun kamu, bagaimana pun kamu, seperti apa kamu. Kamu tetaplah seseorang yang pernah datang dalam kisahku. Kamu bukan orang yang istimewa, tapi kamu cukup berharga bagiku. Tak ada seseorang yang cukup mengerti aku selain kamu. Tak ada orang yang senang dibuat pusing oleh ku selain kamu. Kamu, orang yang aku segani dan hormati. Bagiku, kamu merupakan orang yang dewasa. Lebih dewasa dibanding aku.

Malam itu, saat kuterima sms darimu. Aku sudah tau apa isinya, aku sudah mengira dari kata yang tertulis. Tapi tetap kutanya apa maksudnya padamu. Aku hanya ingin meyakinkan padaku bahwa tulisan itu benar-benar sesuai dengan perkiraanku. Entah, aku tak tau perasaan yang kamu rasakan di sana. Tapi, saat itu, ketika kuterima balasan darimu, aku menganggap kamu dalam keadaan senang bahkan bangga dengan keputusanmu. Aku mungkin salah, tapi beginilah perasaanku. Terdiam sebentar saat kubaca kata ja****. Bingung. Entah apa yang menyebabkan aku bingung. Bingung karena kamu telah berubah atau bingung karena aku tidak menyadari perubahanmu?. Aku tahu, manusia pasti berubah, tidak ada manusia yang tetap. Tapi…..oh, mungkin bukan bingung. Aku hanya sedikit terkejut dengan keadaan. Pasalnya, kamu yang aku tahu adalah seseorang yang memiliki prinsip. Tapi, aku mulai ragu dengan prinsipmu. Entahlah.

Kamu tahu tidak, saat ini boleh dikatakan bahwa aku dalam keadaan dilema. Di satu sisi aku senang karena kini kamu (dengan alasan apapun itu) telah menemukan sesuatu yang cukup berharga bagimu. Namun, di sisi lain, aku tahu bahwa ini tidak sesuai dengan ketetapan dan ini salah.

Aku mungkin tidak bisa memberikan satu solusi yang dapat diterima olehmu. Aku hanya bisa memberikan pilihan padamu. Teruskanlah atau hentikanlah. Aku pikir, kamu sudah cukup mengerti akan maksudku. Teruskanlah jika kamu benar-benar yakin bahwa pilihanmu ini tidak salah dan kamu bisa mempertanggungjawabkannya. Hentikanlah jika kamu merasa bahwa dengan ini kamu bisa menyelesaikan masalahmu tanpa harus melakukan kesalahan lain.

Sekali lagi, aku bukan orang yang religius sepertimu, yang tahu banyak kalimat-kalimat Ilahi. Tapi, aku cukup mengerti. Aku hanya tak mau kamu ikut-ikutan bodoh seperti aku.

Aku hanya ingin menyampaikan sebuah opini yang bisa jadi akan menyakitimu.

Tapi, ingatlah.

“Seberapa yakin kamu dengan nya ??”

maaf jika agak kasar,

hmm…

Tau kan bedanya ngontrak rumah sama punya rumah sendiri??

Walaupun sama-sama kita tinggali, tapi rumah kontrak tetaplah bukan rumah kita.

Bayar setiap bulan.

Bisa saja pindah bulan depan.

Seperti itulah ikatan itu.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

One thought on “Ikatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s