Posted in curhat, Pesan Ayah

Lihatlah Lebih Dekat

Mungkin banyak di antara kita sering terperangkap dengan keadaan salah paham. Manusia, termasuk saya sendiri, dengan berbagai pemikirannya masing-masing, kerap kali terperangkap dengan penilaiannya dan asumsinya sendiri. Dengan fenomena yang telah terjadi, tanpa komunikasi terlebih dahulu, tanpa tedeng aling-aling sebelumnya, dengan serta merta menilai sesuatu dan membentuk asumsinya sendiri. Padahal, komunikasi, penjelasan, dan keterangan lebih lanjut perlu dilakukan agar tidak timbul penilaian, asumsi, sangkaan yang berlebihan hingga bahkan menimbulkan kesalahpahaman.

 

Meskipun kesalahpahaman ini sering terjadi. Saya pribadi, tak pernah jera, bahkan takut untuk dekat dengan orang lain. Saya juga tak pernah mencoba menutup hati karena pernah terluka, Kalau bicara tentang luka, saya sendiri tak bisa menjudge bahwa dia lah yang paling terluka, atau saya lah yang paling terluka. Semua orang pasti terluka. Semua orang pasti pernah merasakan luka. Hanya saja, ada orang-orang yang dapat menyembuhkan lukanya dengan menambal luka-luka tersebut lewat mengingat kembali memori-memori indah yang pernah terbangun. Namun, ada pula orang yang tidak ingin menyembuhkan lukanya sebab selalu mengingat kenangan buruk tersebut.

 

Jika disuruh memilih, mungkin saya akan memilih untuk menambal luka-luka saya dengan kenangan indah yang pernah terbangun. Hidup ini terlalu singkat jika harus terhambat dengan kenangan buruk masa lalu. Jika memang saya pernah terluka oleh sebab dibohongi, saya tidak akan berhenti untuk percaya pada orang lain. Tidak akan menutup diri dengan orang lain dan mungkin akan lebih terbuka dengan orang lain. Jika memang saya pernah terluka karena kesalahpahaman, maka saya tidak akan berhenti untuk mencoba mengerti. Mencari tahu duduk perkara sebenarnya. Bertanya dan menjelaskan bahwa penilaiannya terhadap saya salah. Menekan ego sekecil mungkin agar semuanya tuntas.

 

Saya berpikir, misalnya, hubungan pria dan wanita, atau wanita dengan wanita yang pernah memiliki hubungan dekat dengan orang lain. Seperti kekasih, sahabat, dan teman. Sangat dekat bahkan rapat. Lalu hancur karena kebohongan dan kesalahpahaman. Kemudian menjauhi satu sama lain dan memutus semuanya. Jika dilihat lebih bijak, tidak seharusnya berakhir dengan demikian. Ingat lah, dulu pernah saling bersama. Ingat lah, dulu pernah saling berbagi canda tawa. Ingat lah dulu pernah bermain bersama. Ingat lah, dulu pernah saling membantu satu sama lain. Ingat lah, dulu pernah saling menguatkan. Ingat lah dan lihat lah lebih dekat.

 

Komunikasi itu perlu. Jangan terperangkap dengan penilaian dan asumsi sendiri. Sepintar apapun orang dalam menganalisa, seberapa luas pengetahuan yang diketahui tentang sesuatu, tak akan bisa tergantikan dengan komunikasi. Berkomunikasi lah dengan baik. Apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Boleh jadi seseorang melakukan begini, tetapi maksudnya begitu. Setiap orang memiliki alasan tersendiri dalam bertindak. Setiap orang memiliki sebab musabab melakukan sesuatu. Tugas kita hanya mencoba mengerti dan memahami. Mencoba mengkondisikan posisi kita menjadi dirinya. Maka kau akan mengerti.

 

Karena tiap pertemuan bukan untuk disesali, dibenci, atau dimusuhi. Setiap pertemuan, setiap orang yang dikirim olehNya, pasti memiliki alasan tersirat di dalamnya. Lihat lah lebih dekat dan jadikan pelajaran.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s