Posted in curhat

Sebuah Percakapan

“Hey, kamu bahagia kah?”

 

“Kenapa?”

 

“Aku khawatir kamu keliatan seneng di dunia maya tapi ternyata kamu sedih.”

 

Ada sesuatu berdesir di dada.

 

“Kau lihat senyumku?”🙂

 

“Syukurlah. Kau tahu, beberapa hari yang lalu anak teknik itu menanyakanmu. Sepertinya dia masih mengkhawatirkanmu.”

 

“Lalu kau jawab apa?”

 

“Aku jawab biasa. Kamu senang dengan rutinitasmu sekarang ini.”

 

“Baguslah.”

 

“Kau mau mendengarkanku?”

“Aku selalu setia mendengarkan kamu. Ada apa?”

 

“Rasanya sakit. Tiga kali dan rasanya sakit.”

 

“Ada apa dengan yang ketiga? Bukankah kau bahagia dengannya.”

 

“Kau tentu berpikir aku bodoh. Maaf, aku tak bisa menjaga diriku sendiri. Maaf aku tak pernah bisa mendengar perkataanmu.”

 

“Ada apa?”

 

“Aku pun iri denganmu.”

 

“Iri karena?”

 

“Kau tak pernah merasakan apa yang aku rasa. Untuk ketiga kalinya, aku sakit. Sakit sekali. Dendam rasanya. Kenapa harus aku? Untuk ketiga kalinya aku jatuh dan aku terperosok juga. Kau lebih baik tak pernah merasakan sepertiku. Kau tahu, sakit rasanya. Berhari-hari mengeluarkan benda dari pelupuk mata itu menyakitkan.”

 

Terdiam dan merenung.

 

“Kamu ridha dengan takdirmu?”

 

“Aku ridha, bahkan jika Allah tak memberiku satu pun. Kau tahu, aku iri padamu. Ada beberapa orang menanyakanmu, tapi kau tak pernah jatuh. Kau kuat. Dan kau tahu sekarang? aku benci. Benci.”

 

“Benci karena?”

 

“Benci karena aku telah jatuh. Benci jika mungkin aku jatuh lagi dengan mahluk hidup yang tidak tepat.”

 

“Namamu artinya cahaya loh, kamu harus percaya bahwa kamu itu cahaya. Mungkin bukan untuk orang yang kamu sayangi saat ini, tapi kelak dan untuk orang-orang yang menyayangi kamu sekarang maupun nanti. Aku pun menyayangimu. Jangan kau hidupkan rasa benci hanya karena jatuh.”

 

“Kau belum pernah merasakannya.”

 

Aku? belum pernah merasakannya. Kau hanya tidak tahu. Aku pun sama sepertimu. Jatuh. Sakit. Rindu. Bahagia. dan sakit. Kita sama. Hanya saja ini untuk kali pertama. Kau tahu, seharusnya, untuk kali pertama, Rindumu itu terbalaskan sedangkan aku tidak. Namun, aku tahu. Allah menyayangiku. Dia menitipkan cinta untukku, walau bukan di waktu yang tepat. Allah menitipkan sesuatu padaku, walau mungkin bukan dengan orang yang tepat. Namun, setidaknya, Dia pernah memperkenalkanku dengan perasaan itu dan aku mensyukurinya. Aku bersyukur telah mencintainya. Aku bersyukur mencintainya. Aku bersyukur esok pernah mencintainya. Aku bersyukur. Aku bersyukur. Aku bersyukur. Karena Allah telah mempertemukan aku dengannya. Aku bersyukur telah mengenalnya. Aku bersyukur melihat wajahnya. Aku mencintainya dan aku bersyukur. Walau hanya aku sendiri saja yang merasakannya. Lalu kenapa harus berubah benci?

 

“Aku akan selalu sayang dan menyayangimu.”🙂

 

“Malas ngomong sama kamu, bawaannya pasti menangis.”

 

“Kau masih cantik walau menangis.”

 

“Maaf kan aku yang tidak bisa jaga diriku baik-baik. Aku ingin ketika kita bertemu nanti, kau masih mau kan memelukku erat?”

 

“With my pleasure.”

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s