Posted in Cerpen

Siapa Dia?

Setiap pagi, seperti biasa Diana membantu ibunya di dapur. Di dapur seringkali dua orang ibu anak itu saling bercerita satu sama lain. Bercerita tentang kehidupan, sesuatu yang tak pernah habis sampai akhir.

“Din, kamu gimana sekarang?” tanya ibu sembari menarik kursi makan. Kemudian duduk.

“Gimana apanya?” Diana balik bertanya, mata dan tangannya tak lepas dari cucian piring yang kini dipegangnya.

“Kok sampe sekarang kamu gak punya pacar?”

“Hah!?” Diana berhenti dari aktivitas mencuci piringnya. Ia sejenak menoleh”Maksudnya apa bu?”

“Iya, kenapa sampai sekarang kamu gak keliatan punya temen cowo. Kenapa tho?” keluh ibunya sambil mengiris kulit buah semangka.

 

Diana tersenyum tipis kemudian melanjutkan kembali aktivitas mencucinya.

“Kamu kok malah diam? Itu…. yang kemarin-kemarin dateng ke rumah tuh siapa?”

“Ka Ipul…” ujar Diana sambil mengelap tangannya kemudian duduk di samping ibu.

“Itu dia ngapain? terus si Faisal itu gimana? siapa lagi yang lain? Eka gimana tuh?” pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari mulut ibunya.

“Ibu kenapa sih…”Diana sedikit heran. Tak biasanya bertanya semacam itu.

“Coba liat adik sepupu-sepupu kamu. Mereka semua udah punya pacar loh… masa kamu kalah sama mereka.”

“Lah biarin aja mereka punya pacar. Kok ibu yang repot?” ujar Diana sembari tertawa renyah.

“Soalnya, tante dan bude kamu nanyain ibu. Si Diana udah punya pacar belum? tuh liat, si Shasa udah punya, si Jessi udah… terus Diana gimana?” ujar ibu sambil mempraktekkan pertanyaan tante dan bude sebelumnya.

Diana hanya tersenyum tipis.

“Ibu kan malu juga, lagian kamu kan udah lumayan gede, masa gak ada yang bikin kamu gereget sih? Emang di kampus gak ada?” tanya ibu gemas.

“Gak tahu bu, gak perhatiin.” Diana jawab sekenanya. Kemudian mengambil semangkuk besar berisi ayam.

“Kamu ini gimana? masa di kampus gak ada? sebelah fakultas kamu kan ada teknik, FISIP, emang gak ada kenalan cowo apa?” tanya ibu sambil mencomot buah semangka yang sudah diirisnya.

“Gak tahu, gak ada yang menarik.hehe” Diana cengengesan.

“Terus si Ipul, si Faisal, si Eka, siapa lagi tuh… gimana sama mereka?”

“Cuma temen kok.” jawab Diana, santai.

“Kalau ibu jadi kamu, pasti ada temen kampus yang nyangkut sama ibu. Katanya kamu pengen nikah muda, lah sampe sekarang belum ada gandengan…..” ibu bersungut-sungut.

“Emang truk gandeng…hahaha” Diana masih mencoba untuk santai.

“Nak, ibu serius. Kan malu juga kalo tante-tante kamu nanyain.”

“Ibu….” Diana duduk di samping ibunya lagi. Ia merengkuh tangan ibunya. “Sebenarnya, Diana udah senang dengan orang lain,” Diana tersenyum.

“Siapa dia!?” Mata ibu berbinar-binar, ia begitu antusias mendengar perkataan anaknya barusan.

 

Diana merasa ada yang bergetar dalam dadanya, bibirnya pun sedikit mengikuti getaran hatinya.Ia mencoba menarik napas sejenak.”Tapi dia orang jauh bu, hehe” ujar Diana tetap ingin terlihat biasa saja di depan ibunya.

“Jadi selama ini pacar kamu orang jauh?” ibu keliatan sedikit bingung.

“Bukan….. bukan pacarku, dia juga cuma temen. hahahaha” kilah Diana sambil menutupi kegugupannya dengan  tertawa.

“Kamu ini gimana sih, semuanya dibilang teman.” Ibu manyun.

“Ya emang teman bu, mau gimana lagi…”

“Siapa dia? Orang mana? terus gimana orangnya? Umurnya berapa? kok kamu bisa kenal dia?” tanya ibu beruntun.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s