Posted in Cerpen, curhat

Surat (tertunda) Untukmu

Assalamu’alaikum

Apa kabar? seperti biasa, aku selalu mendoakan segala kebaikan untukmu. Kamu di sana bagaimana? apakah bahagia?

 

kau tahu, aku di sini sedih. Terlebih ketika senja tadi aku, sekali lagi, harus menerima kenyataan. Kenapa? karena aku tahu sekaligus sadar, ternyata teman yang aku sayangi justru terganggu dengan kehadiranku.

 

Jujur, aku pernah nge-add FB kamu lewat FB ibuku. Ketika dahulu musim kamu sering deact. Aku nge-add FB kamu lewat FB ibuku. Dan tadi, ketika aku buka FB ibu. Ada sebuah nama asing muncul di beranda, tapi aku merasa kenal dengan nama itu. Kubuka profil itu, dan kudapati ternyata itu FB kamu! kupikir selama ini kamu hanya deact seperti sebelum-sebelumnya, ternyata aku diblocked. Entah apa yang pernah kubuat hingga kau memutuskan untuk menghilangkan jalinan silaturahmi kita. Tidak hanya FB ini, juga FB duta ku.

 

Padahal kamu sendiri yang bilangm aku boleh menyapamu secara free di masing-masing FB duta kita. Apa kamu terganggu dengan keberadaanku? jawablah! jujurlah! kenapa kamu selalu berkata manis di depanku, tetapi sama sekali berbeda dengan lubuk hatimu. Kenapa? kau takut?

 

Dulu, ketika aku tahu kebenaran jati dirimu, aku tetap memaafkanmu meski aku telah dibohongi. Meski aku terlihat begitu bodoh. Aku tak mengerti apa bedanya bodoh dengan memberimu banyak kepercayaan. Aku berusaha untuk tetap biasa saja. Meski hati ini perih. Meski sakit. Aku tetap berpura-pura tak tahu. Berpura-pura sepertimu. Dan aku, tetap menyangimu sebagai temanku.

 

Tak lama setelah peristiwa itu, kudengar dari seseorang, ternyata kau tidak menyukai kedekatanku dengan dia. Kau pikir, aku akan mengganggu. Kau pikir, aku akan merebutnya. Kau takut, kau cemburu, kau marah. Kau tahu? sedih, kecewa, yang aku rasa. Ternyata teman yang kusayangi merasa demikian padaku. Aku sakit. Aku sakit karena telah melukai orang lain. Oleh karena itu, aku meninggalkan kalian selama beberapa bulan. Menjauh. Memberi jarak antara kita. Hingga suatu saat aku kembali, berharap semua akan berjalan seperti semula. Tetap tersenyum. Tetap berpura-pura. Tetap melindungimu. Hingga ternyata, semua memang tidak bisa seindah sedia kala.

 

Sampai suatu saat, aku ingat ulangtahunmu. Meski aku tidak diingatkan mesin FB. Aku tetap mengingat. Meski berkali-kali aku kecewa. Aku tetap mengingat hari spesial kelahiranmu. Karena aku bersyukur, telah bertemu denganmu. Kukirim sebuah surat, bersama sebuah boneka di dalamnya. Sebagai hadiah. Setelah sebelumnya suratku tak pernah kau balas. Aku tetap mengirim. Aku tak lagi berharap dan tak meminta suratku akan kau balas. Aku hanya ingin memberi. Memberikan kenangan. Memberikan sesuatu yang meyakinkanmu bahwa aku ada. Aku nyata. Mengucap syukur karena telah mengenalmu. Itu saja.

 

Bersamaan dengan itu, aku juga mengirim surat untuknya. Berkata bahwa aku bahagia jika melihatnya bahagia. Meminta agar kenang-kenangan yang telah kuberikan padanya disimpan hingga ia menemukan pelabuhan terakhirnya. Merelakannya. Melepasnya. Yang kuharap pelabuhan sejatinya adalah kau! kau! temanku! Kuharap kalian bisa bersama seperti dulu. Merajut indahnya hubungan kalian seperti dulu. Karena aku tahu. Aku sadar. Aku jauh sedang kau dekat. Bukan hanya dengannya, tetapi juga dengan keluarganya.

 

Apa lah artinya aku baginya? apa lah pentingnya aku untuknya?. Aku hanya mampu berdoa. Berucap, semoga dia menemukan sosok indah, untuk kehidupannya, agamanya, keluarganya. Kau tahu, menemukan sosok yang indah.

 

Sebulan yang lalu, aku mendapat balasan suratmu. Surat yang selama ini, sebenarnya, sangat aku rindukan. Kau tahu, betapa senangnya aku menerima surat kecil itu. Kau tahu, betapa lebarnya senyumku ketika aku melihat fotomu? Kau tahu, betapa gembiranya aku memperlihatkan fotomu di hadapan ibuku? kau tahu?

 

Kau tahu, betapa bahagianya aku merajut sulaman demi sulaman hanya untuk mengukir namamu? hanya untuk membalas kembali suratmu itu? kau tahu, betapa aku tersenyum puas melihat hasil sulamanku tertulis namamu?

“Wichan jangan lupa ya, balas suratku.” begitu, katamu.

Kalimat itu yang aku ingat. Aku berusaha untuk membuatmu puas dengan kedatangan suratku berikutnya. Aku berusaha untuk memberikan kenangan baik dimatamu. Namun ternyata……

 

Senja ini. Kulihat sesosok nama asing. Berada di beranda FB ibuku dengan gaya mirip seperti orang yang kukenal. kulihat profilnya. Ternyata itu kamu! Kupikir kamu deact seperti sebelum-sebelumnya. Ternyata aku salah. Aku diblocked. Dua FB ku tak bisa melihatmu. Melihat kedua FBmu. Kau memutus tali silaturahmi kita. Aku mulai sadar. Aku mulai paham. Bahwa sesungguhnya, kalimat-kalimat dalam balasan suratmu kemarin hanya bohong. Sama seperti hal-hal yang sebelumnya kau lakukan padaku. Permintaan balasan suratmu hanya omong kosong. Hanya basa-basi. Hanya manis buatan. Dan bahwa sesungguhnya, meski aku berusaha mempertahankan persahabatan kita. Aku tak pernah bisa menjadi baik di matamu.

 

“Tidak ada persahabatan yg sempurna di dunia ini. yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.”

 

dan aku gagal mempertahankannya.

 

Surat tertunda untukmu, sepertinya tak akan kukirim. Kusimpan hanya untuk kenanganku saja. Terima kasih telah mengajarkan banyak hal padaku.

 

 

Salam,

Wichan.

 

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s