Posted in curhat, Puisi

Teh

Seandainya dia teh,

mencintainya sama seperti minum teh

: manis di lidah; hangat di hati.

Mencintainya juga sama seperti minum teh

: terlalu banyak gula akan membuatku sakit.

Aku suka sekali teh,

tapi aku ingin sehat.

Siapa Dia?

Aku tidak tahu harus kusebut apa dia.

Dia bukan teh, bukan juga sirup.

Tapi sama manisnya.

Kepadanya,

aku tidak takut menambahkan gula

sebab aku dan dia punya penawarnya.

 

Setahun Kemudian

 

sebenarnya,

kamu mau bikin teh manis atau tawar sih?

kalau kamu mau bikin teh manis,

kenapa setelah kamu memberi gula

kamu tidak mengaduknya?

kamu baru mengaduknya sesekali

saat aku meminta

kalau begitu caranya,

kapan gula itu larut?

kapan teh itu akan manis?

kapan?

atau jangan-jangan,

kamu memang sengaja tidak membuat teh manis?

kamu tahu setiap teh akan berakhir dengan rasa pahit…

karena itu,

kamu sengaja biarkan butir-butir gula pasir

mengendap di dasar cangkir

agar nanti teh ini berakhir manis…

begitukah?

kamu pasti tidak tahu

mau tawar mau manis

ataupun setengah di antaranya

aku selalu suka teh buatanmu

 

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s