Posted in Uncategorized

Kisah Pohon Magnolia

Gambar

Aku  hidup  di  depan  sebuah  rumah  bercat  putih.  Rumah  itu  tidak  terlalu  besar  dan  tampak  sederhana,  bahkan  kelihatan lebih  tua.  Padahal  umur rumah  itu  lebih  muda  daripada  umurku.  Aku  sudah  menetap  di  sini  sejak  berpuluh-puluh  musim  yang  lalu.  Mungkin  bungaku  sudah  berguguran  lebih  dari  sepuluh musim,  rumah  itu  baru  dibangun.  Aku  tahu  dari  awal  proses  pembuatan  rumah  itu. Sejak  rumah  itu  dibangun  hingga  sekarang,  salah  satu  penghuninya  masih  saja  tak kunjung  ramah  padaku.

Nyonya  yang  tinggal  di  sana  selalu  saja  protes  dengan  keberadaanku, “Pohon itu  kelihatannya  tidak  cocok  ada  di  depan  rumah,”  katanya  sambil  duduk  di  beranda rumah.

“Bukannya  bagus?  Saat  bunganya  yang  putih  bermekaran,  kau  bisa  rasakan angin  yang  membawa  bunga-bunga  itu  berterbangan  seperti  kawanan  kupu-kupu.  Kau juga  dapat  mencium  wangi  harum  jika  berada  dekat  pohon  itu.  Apanya  yang tidak  cocok?”  suami  Nyonya  itu  kelihatannya  lebih  memihakku.

Sementara  si  nyonya  tetap  saja  tidak  setuju  dengan  pendapat  suaminya, “Apanya yang  bagus?  Kau  tahu,  kalau  daun-daunnya  yang  berguguran  itu  seringkali  mengotori halaman  rumah  kita?  Lagipula  pohon  itu  tidak  berguna!  Tidak  memiliki  buah.”

Aku  tersenyum  jengkel.  Masih  saja  nyonya  itu  mengejekku.  Mengatakan  kalau  aku  tidak  berguna, “Kalau  pohon  mangga,  pohon  rambutan,  pohon  nangka masih  bisa  memberi  manfaat.  Coba  lihat pohon itu!  Telanjang.  Kering.  Tak berdaun.  Hanya  menghalangi  pemandangan  saja.”

Suami  si  nyonya  itu  menggelengkan  kepala.  Ia  hanya  tersenyum  tipis. Mungkin  ia  mengerti  bahwa  aku  akan  memberi  manfaat  untuknya  saat  tiba  waktunya.  Dua  bulan  setelah  kemarau  yang  telah  merontokkan  daun-daunku  pun berganti  dengan  turunnya  hujan.  Alhasil  batang-batangku  yang  mulai  rapuh  kembali merasa  segar. Demikian  dengan  akar-akarku  yang  ada  di  dalam  tanah.  Terasa  nikmat. Kesejukkan  kembali  datang.  Air-air  dari  tanah  mulai  naik  ke  atas  batang  dan  ranting-rantingku  seperti  darah  yang  mengalir  di  tubuh.  Mulai  lah  putik-putik  daun kecil  mengintip  keluar  dan  beberapa  hari  setelahnya  muncul  daun-daun  hijau  muda tumbuh  di ranting-ranting  yang  pipih.  Aku  merasa  seperti  pengantin  yang  sedang bersolek.  Aku  merasa  sangat  cantik.

Tuan  rumah  yang  ada  di  depanku  itu  tersenyum  memandangiku, “Ternyata musim  hujan  telah  membuat  pohon  itu  segar  kembali.  Lihat  lah  daun-daun  yang bertumbuhan  itu.  Sebentar  lagi  pasti  akan  tumbuh  bunga  yang  indah.  Pohon  itu memang  pantas  ada  di  depan  rumahku.”

Beberapa  hari  kemudian  muncul  lah  putik-putik  bungaku.  Kemudian  bunga-bunga  itu  akan  mekar.  Aku  berdiri  seperti  terang  lampu  yang menyala-nyala.  Bungaku  yang  putih  ini  akan  mekar  semua  dan  akan  menutupi ranting-rantingku  yang  kurus.  Sebagian  orang  yang  lalu  lalang  di  depanku  tersenyum melihat  rupaku, “Pohon  ini   sangat  cantik  dan  indah  dipandang.  Hanya  saja  tidak mudah  untuk  menjangkau  bunga-bunganya  karena  letaknya  yang  terlalu  tinggi.”

Maka  aku  pun  ikut  tersenyum  seraya  menjatuhkan  setangkai  bungaku  dan mereka  mengambilnya.  Kadang  di  antara  mereka  ada  yang  menyelipkan  bungaku  di sela-sela  telinganya.  Mereka  tertawa  puas  dan  pergi.  Banyak  orang  dari  berbagai  latar  profesi  pernah  memujiku.

“Bungamu  sangat  indah.  Besok  aku  akan  datang  kemari  untuk  melukis keindahanmu.  Keindahanmu  terletak  pada  kesederhanaan  bentuk  dan  keperkasaan batangmu  yang  berbalut  kelembutan.  Bunga-bunganya  yang  jatuh  tertiup  angin, ranting-ranting  yang  melambai-lambai,  dan  daun-daun  yang  bergerak  menambah  elok rupamu,” ucap  seorang  pelukis  sambil  memandangiku  takjub.

“Bagi  seorang  penyair,  letak  yang  paling  indah  pada  dirimu  adalah  kumpulan ranting  dan  batang  yang  kuat  serta  bersahaja  itu.  Kelembutan  warnamu  memiliki  nilai  lebih.  Membuatku  tak jemu  memandangmu,”  sahut  seorang  penyair  menimpali pujian  si  pelukis.

Sementara  aku  begitu  tersipu-sipu  mendengar  ucapan  mereka.  Mereka  begitu mengagumiku.  Aku  merasa  istimewa.  Lalu  kuanggap  hujan  adalah  rahmat  dan anugerah  dari  Allah  untukku.  Dia  memberiku  kebahagiaan  dengan  siraman  hujan. Hujan  telah  membuatku  basah,  tetapi  menumbuhkan  keindahan-keindahan  pada  diriku.

***

Selain  di  depan  rumah  bercat  putih.  Tempat  tinggalku  juga  dekat  dengan sebuah  bangunan  tinggi  yang  biasanya  diperuntukkan  untuk  pernikahan.  Letaknya  di samping  kanan  rumah  bercat  putih.  Tiap  akhir  pekan  banyak  orang  yang  berkunjung ke  gedung  itu.  Banyak  di  antara  mereka  yang  menoleh  ke  atas  dan  memujiku. Kuanggap  mereka  adalah  orang-orang  yang  menghargaiku.  Namun,  tak  jarang  ada pula  yang  mengutukku, “Huh!  Bunganya  jatuh  membuat  rambutku  berantakkan  aja!”

Tidak  salah  jika  mereka  yang  pergi  ke  pesta  perkawinan  ingin  rambutnya tampak  rapi, pakaiannya  anggun,  dan  wajahnya  cantik.  Itu  wajar.  Aku  tak  marah  dan keberatan  jika  dikatakan  seperti  itu.  Memang,  di  dunia  ini  hidup  dua  tipe  manusia. Pertama,  manusia  yang  memiliki  akhlakul  mahmudah  pada  mahluk  hidup.  Mereka  bisa menikmati  dan  menghargai  alam.  Kedua,  manusia  yang  memiliki  akhlakul  mazmumah  pada  mahluk  hidup.  Mereka  tidak  peduli  pada  lingkungan  dan  hanya  peduli  pada benda-benda  material  saja.

Aku  juga  senang  saat  anak-anak  kecil  berjalan  di  depanku.  Tidak  jauh  dari tempatku  ada  sebuah  taman  kanak-kanak.  Di  sana  banyak  anak-anak  yang  belajar sekaligus  bermain.  Setelah  mereka  pulang  sekolah,  banyak  di  antara  mereka  yang jalan  di  depanku.  Setiap  kali  mereka  lewat,  aku  sering  menggoyangkan  kepalaku  dan berpuluh-puluh  bunga  putih  berjatuhan  ke  bawah.  Mereka  begitu  gembira  sambil berteriak-teriak, “Hujan  bunga!  Hujan  bunga!”

Aku  merasa  senang  dan  terhibur  melihat  tingkah  mereka.  Mereka  berlari-lari dan  mencoba  mengambili  daun-daun  yang  berserakan  di  tanah.  Terkadang  mereka membuat  kipas-kipasan  dengan  kumpulan  daun  itu.  Mereka begitu lucu. Aku  tertawa dibuatnya.  Aku  merasa  hidupku  ini  tak  sia-sia.  Biar  saja  ada  yang  mengejekku. Biar  saja  ada  yang  berkata  aku  ini  tidak  berguna dan membuat  kotor.  Biar  saja!

***

Suatu  hari,  aku  mendengar  percakapan  burung-burung  kecil  yang  sedang hinggap  di  dahanku.  Mereka  bilang,  sebagian  dari  daerah  ini  akan  kena  gusur.  Akan ada  perumahan  elit  dan  mewah  yang  akan  berdiri  di  lahan  ini.  Rumah  bercat  putih yang  ada  di  depanku  itu  akan  kena  gusur.  Begitu  pun  dengan  gedung  pernikahan dan  taman  kanak-kanak.  Semuanya  akan  kena  gusur  dan  jalan  aspal  akan  diperlebar. Awalnya  aku  tak  percaya  dengan  percakapan  burung-burung  itu,  tetapi  tak  lama kemudian  tuan  rumah  bercat  putih  mendatangiku.

“Keluargaku  akan  pindah  dari  sini.  Kau  jaga  diri  baik-baik.  Terima  kasih karena  telah  memberi  pemandangan  indah  selama  aku  tinggal  di  sini,”  ucap  tuan rumah  sambil  mengelus-elus  batangku. Ia  memperlakukanku  selayaknya  manusia sambil  memandangiku  seakan  tak  ingin  meninggalkanku.

Beberapa  hari  kemudian,  daerah  ini  terasa  sepi.  Tak  ada  lagi  tuan  dan  nyonya  rumah  yang  biasa  duduk  di  depan  beranda  rumah  mereka.  Tak  ada  lagi  lalu-lalang  orang-orang  yang  diundang  ke  pesta  perkawinan. Yang  lebih  menyedihkan, tak  ada  lagi  canda  tawa  dari  anak-anak  kecil  yang  lucu-lucu  itu.  Aku  merenungkan semua  itu  dan  merasa  seorang  diri.  Aku  merasa  ada  yang  hilang.  Suasana-suasana indah  itu  menguap  entah  kemana.

***

Sebulan  kemudian,  banyak  laki-laki  yang  muncul  di  daerahku.  Sebagian  besar dari  mereka  berpakaian  kotor  dan  sebagian  yang  lain  bertelanjang  dada.  Tubuhnya kekar  perkasa.  Kupikir  mereka  adalah  kuli-kuli  bangunan  yang  akan  bekerja membangun  rumah-rumah  real estate  itu.  Banyak  truk  dan  container  yang  mondar mandir  melewatiku.  Menimbulkan  suara  yang  bising.  Aku  merasa  terganggu. Terkadang,  waktu  siang  saat  matahari  berada  tepat  di  atas  kepalaku.  Para  pekerja yang  sebagian  besar  kuli  itu  berteduh  di  bawahku.  Mereka  beristirahat  dan  bergurau bersama.  Banyak  di  antara  mereka  yang  juga  merusakku.  Membuang  puntung  rokok di  bawah  batangku  dan  menyiram  sisa-sisa  makanan  dan  minuman  ke  arahku  dengan sembarangan.

Dari  sekian  banyak  orang  yang  merusakku.  Ada  salah  satu  pemuda  yang memperhatikanku.  Pemuda  itu  sering  memakai  kaos  biru.  Pakaiannya  kotor  dan bolong  di  dekat  kerahnya.  Tetapi  aku  dapat  merasakan  perhatiannya.  Ia  selalu menoleh  ke  atas  sambil  memandangiku  dengan  senyum.  Ia  bilang  aku  ini  indah. Senang  rasanya  ada  yang  memperhatikanku  lagi.  Lalu  kujatuhkan  bunga  putihku  ke atas  kepalanya.

“Hahaha…. Sepertinya  aku  akan  kejatohan  rezeki,”

“Hahaha,  ada-ada  saja  kau  Mo…  Baru  kejatohan  bunga  saja  sudah  berpikir seperti  itu.  Belum  lama  sejak  pernikahan  Surti  kau  sudah  bisa  tertawa.  Ia  menikah dengan  orang  kaya  dan  kau  berpikir  akan  dapat   rezeki  hanya  karena  bunga itu?” ejek  temannya  sambil  menepuk  pundak  si  pemuda.

Pemuda  itu  tersenyum.  Ia  kembali  menoleh  ke  arahku. “Uang  tak  bisa membeli  segalanya.  Biar  saja.  Surti  memang  bukan  jodohku,”  pemuda  itu  menghela nafas  panjang.  “Aku  yakin  dengan  ketetapan  Allah,  mungkin  Dia  telah  memilihkan bidadari  yang  lebih  baik  dari  Surti.”

“Kau  pura-pura  saja  Mo.  Lima  tahun  kau  menjalin  kasih  dengan  Surti,  cepat  sekali  kau  bisa  mengikhlaskan  dia  hanya  dalam  seminggu?  Hahaha…. sabar ya!”ejek  temannya  dengan  logat  khas  Batak.

***

Di  saat  matahari  bersinar  terik,  angin  kering  berhembus  menusuk  pori-pori batangku,  dan  beberapa  helai  daunku pun  berguguran.  Dari  kejauhan  terlihat  seorang pemuda  yang  sedang  berjalan  menuju  arah  ku.  Ia  memegang  secarik  kertas  di  tangan  kanannya.

“Tadi  malam  aku  tidak  bisa  tidur,  aku  iseng  membuat  sebait  puisi  untukmu. Kau  mau  mendengarnya?” tanya  pemuda  itu  diiringi  dengan  sesungging  senyumnya. “Puisi  ini  memang  tak  bagus,  tetapi  cukup  mewakili  perasaanku,  dengarkan  ya.”

Ambillah  bunga  ini  sebanyak  kau  inginkan 

Bunga  tercantik  yang  pernah  kulihat

Bunga  tersegar  yang  pernah  kudapatkan

Dan  kau  bisa  mencumbui  wewangian  yang  melingkupinya

Ambillah  bunga  ini,  selipkan  antara  daun  telingamu

Seakan  menerbangkan  hatiku,  walau  tak  bersayap

Dan  kuakui,  kesetiaan:  mengesampingkan  rasa  sakit

Dan  tak pernah  mampu  menggoyangkan  keyakinan

Tapi  bunga  putih  dan  aku   memiliki  perbedaan

Coba  perhatikan  bulan  malam 

Seribu   bulan   telah   melihat   cinta  dan  kesetiaan 

Yang  tak  pernah  berhenti  dan  beristirahat 

Semoga  Allah  memberinya  penjagaan 

Dan  biarkan  bunga  ini  mekar  selamanya

Aku  terharu  mendengarnya.  Seandainya  aku  manusia,  mungkin  aku  akan menangis.  Baru  kali  ini  ada  seseorang  yang  secara  istimewa  membuatkan  puisi untukku.  Walau  aku  merasa  puisi  ini  mewakili  perasaannya  pada  perempuan  itu, tetapi  aku  senang.

Sejak  saat  itu,  pemuda  yang  kutahu  bernama  Tomo  ini  sering  menemaniku  di  sela  istirahatnya.  Kadang  ia  memainkan  gitar  sambil  bernyanyi,  membacakan   puisi  untukku,  mendongengiku  dengan  kumpulan  cerpen,  menyirami tanah  di  sekitarku  dengan  sisa  air  putih  di  botolnya  dan  selalu  memperlakukan  aku seperti  teman  sejatinya.  Meski  banyak  teman-temannya  yang  mengejek  dan menganggapnya  gila,  ia  tak  peduli.  Ia  tetap  memperhatikanku.  Tetap  menemaniku.

***

Beberapa  hari  ini  ia  sering  membaca  buku  agama.  Sambil  menikmati  senja sore  di  bawah  rindangku.  Ia  bilang  ingin  belajar  lebih  dalam  tentang  agama.  Ingin tahu  bagaimana  agar  hidupnya  lebih  terarah,  rezekinya  berkah,  dan  dapat  jodoh  lebih baik  dari  Surti.  Ia  giat  membaca  kemudian  menerangkannya  padaku.  Sesekali  ia bertanya  dan  menjawab  pertanyaannya  sendiri.  Aku  bertasbih  pada  Allah  atas  semua nikmat  yang  telah  Dia  berikan  padaku.  Dia  masih  memberiku  kehidupan,  walau umurku  sudah  berpuluh-puluh  tahun  lamanya  dan  telah  mempertemukan  aku  dengan pemuda  ini.

“Allahumma ajirni min an-nar… Kalimat  ini  baik  diucapkan  setelah  solat  magrib  dan   isya.  Ah,  nanti  setelah  solat magrib  akan  aku  praktekkan,”  katanya  bersemangat sambil manggut-manggut.

“Mo..Tomo! Sini,  bantu  aku  bentar!”  teriak  temannya  dari  atas  sebuah bangunan.

“Iya…!!”  ia  meninggalkan  buku  di  tanah,  kemudian  berlari  ke  arah sumber  suara.

Sekilas  dari  kejauhan  aku  melihat  kumpulan  batang  kayu  berukuran  lima meter  seakan  bergetar.  Mereka  terlihat  melakukan  gerakan  kecil  seperti  ingin menjatuhkan  diri.  Tiba-tiba  saja  aku  sadar,  Tomo  berada  di  bawahnya!  Rasanya ingin  berteriak.  Memperingatkan  dia  bahwa  ada  bahaya  di  atasnya. Memperingatkannya  agar  segera  pindah  dari  tempatnya  berdiri  sekarang.  Tetapi, secepat  kilat.  BRUAAAK.

Para  kuli  segera  berbondong-bondong  membongkar  tumpukan  itu.  Berharap ada  jiwa  yang  masih  selamat.  Mereka  terus  menggali  dan  membongkar.  Sementara dari  dalam  tumpukan  itu  tak  terdengar  erangan  minta  tolong.  Hening.  Satu  jam kemudian.  Sesosok  tubuh  ditemukan  tak  bergerak.  Hanya  ada  darah  segar  mengalir dari  kepalanya.

Ada  yang  pergi.  Yang  membuat  pisah  antara  kita.  Ada  yang  pamit.  Yang menjepit  rindu  dan  pasti.  Yang  terjadi  bukan  menunggu  jadi.  Hanya  mengawasi  diri. Pergi  bukan  untuk  berpisah.  Tak  pernah  lagi  jumpa.  Pergi  untuk  kembali.  Entah dimana.  Karena  kita  dicipta  untuk  saling  berjumpa.

Begini  lah  riwayat  kisahku.  Aku,  Magnolia,  si  pohon  berbunga  putih.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

4 thoughts on “Kisah Pohon Magnolia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s