Posted in curhat, Puisi

Puisi Untukmu

Selamat malam, Puisiku.

Malam ini, sekali lagi aku sendiri dengan kebimbangan di hati.

Kau tau, kebimbangan ini bagai lingkaran yang mengurungku demikian rupa.

Aku pun tak tau tersebab apakah semua ini.

Entah bagaimana aku harus menjelaskannya padamu.

 

Rindu, aku rasakan jarak kita semakin jauh.

Meski kusadari betul jarak lah yang mematikanku.

Membunuhku perlahan-lahan dan mengutukku untuk berhenti.

Waktu yang terentang di antara kita pun kurasakan semakin panjang.

Dan kuakui, selama rentang jarak itu, aku masih juga merinduimu.

Bahkan banyak hal yang kusimpan sendiri disini, di hatiku, yang rasanya tak bisa tersampaikan padamu, meskipun jika kutuangkan dalam retorika.

 

Saat ini, seringkali aku kesepian sendiri.

Berkali-kali aku hanya mampu menghadirkan bayanganmu dalam anganku.

Berusaha mengurai satu persatu kenangan seperti yang aku lakukan saat ini di sini.

Dalam setiap tulisan-tulisanku.

Mengurai kenangan kita dan berharap mampu menjawab tiap kali aku merindu.

Awalnya, sempat kukira dapat membunuh sepi di hatiku.

Dapat memenuhi relung kosong di sudut hatiku.

Nyatanya tidak.

Hatiku tetap sepi.

Malah semakin merobek-robek dan menambah pedih hati ini.

 

Selama ini, aku menganggap kau selalu ada di sini.

Di dekatku.

Kurasa seakan tanganmu erat menggenggam jemariku.

Merasa seakan dirimu menemaniku tiap kali aku menulis.

Hingga aku merasa benar-benar bahagia saat menuliskannya hanya untukmu.

Seolah tiap kalimat yang kutulis dan kurangkai selama ini,  seperti aku langsung berkata padamu.

Di hadapanmu.

Jika sudah begitu, untuk sejenak aku seolah dapat merasakan hangat bersamamu.

Seolah, aku berada dalam pelukanmu.

Aku dapat merasakan debar jantungmu, meski sebentar saja.

Dan lagi, itu hanya sekedar mimpi.

 

Rindu, selama penantianku ini, aku tak pernah bisa merindukan orang lain.

Tak pernah bisa memimpikan selain dirimu.

Karena kuakui, kau orang pertama yang pernah memberi rasa tentram dalam hatiku.

Kehilanganmu, bagiku sudah sungguh menyakitkan.

Membuat segalanya menjadi mudah saat ini, sungguh sesuatu yang sulit buatku.

 

Cinta, aku masih di sini.

Berdiri menantimu.

Namun kau tak juga meraih jemariku yang menantimu dengan penuh harap.

Meski hanya untuk kau genggam, Sayang.

Betapa ingin aku mendengar kau katakan rindumu padaku.

Dengan demikian aku bisa merasa tak pernah sendiri menanggung semua ini. 

Hingga aku dapat berbagi rindu ini denganmu.

 

 

Kau memang tak pernah melihat bagaimana aku terengah-engah meraih rindumu.

Pernahkah hatimu tergetar mendengar jeritan isyaratku?

Tak terdengarkah pekikan dan tangisku tanpa suara yang senyapnya melebihi sunyinya malam?

 

Itulah yang kulakukan, Rindu.

Hanya bisa berteriak-teriak memanggil namamu dalam hati dan berusaha meyakinkanmu bahwa aku tetap ada disini, menantimu.

Tapi kau tetap diam.

Kau seolah hanya menatapku dan tak berkata apapun.

Sejenak menatapku kemudian memalingkan wajahmu.

Namun begitu, aku bisa membaca sedikit makna yang tersirat di sana.

Sedikit, hanya sedikit.

Dan itu bisa berarti apapun.

Bisa saja bukan rindu seperti yang kuharap selama ini darimu.

 

Berkali-kali aku ingin berusaha beranjak dari kebimbangan ini.

Meninggalkan kehidupanku selama ini.

Menjalani kehidupan seorang diri tanpa siapa pun.

Aku merasa mungkin dengan demikian aku tak lagi bisa menyakiti hati siapa pun.

Karena aku terlalu lemah untuk menyakiti dan tersakiti.

Dengan begitu aku bisa menebus segala salahku mungkin padamu, padanya, dan mereka.

 

Aku sadar, cintaku yang terpendam tetap tak dapat meluluhkan keras hatimu.

Kau tetap tak akan memilih.

Kau tetap tak akan menjadikan aku seseorang yang berarti dalam hidupmu.

Kau tak kan pernah menjadikan aku sebab untuk apa selama ini kau bekerja keras.

Bahkan keberadaanku mungkin tak pernah kau sertakan dalam setiap mimpi-mimpi kehidupanmu.

Dan juga, tak kan pernah ada bayi-bayi mungil yang kau titipkan akan lahir dari rahimku.

 

Meski terluka, namun karena rasa cintaku yang terlalu besar padamu, aku akan mengalah.

Namun izinkan aku sampai detik ini tetap merindumu.

Maaf, jika aku tetap menjadikanmu sebagai sosok orang yang aku cintai dalam malam-malam menjelang tidur malamku.

Juga dalam tiap-tiap mimpiku.

Maafkan aku.

Sungguh maafkan aku yang meski sadar tapi tak pernah bisa berhenti.

 

Puisiku, aku mencintaimu.

Sangat.

Kau perlu tau itu…

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

2 thoughts on “Puisi Untukmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s