Posted in curhat, Pesan Ayah

Mengajar dan Keinginan

Setahun yang lalu, ayah pernah bertanya padaku, “Setelah ini mau jadi apa? Kepengen apa?”

Aku diam. Hanya memandang wajah beliau sekilas. Sebenarnya aku paling takut jika ditanyakan hal ini.

“Jadi abis kuliah mau gimana?”

“Rencananya mau bikin sekolah TK,” jawabanku sebenarnya menggantung. Aku sendiri masih belum yakin dengan jawabanku. Rasanya sedikit aneh mengingat jam terbang mengajarku belum banyak. Pengalaman tentang pendidikan dan manajemen sekolah pun tak punya. Mau bikin sekolah? gimana?

Kulihat ayah tersenyum simpul diikuti anggukan kepalanya. “Emang kamu bisa ngajar?”

Pertanyaan ayah membuat feromon otakku kembali ke masa awal saat aku mengajar anak TK untuk pertama kalinya. Pertama kali ngajarin anak-anak yang lucu-lucu dan imut-imut itu membuat seketika ku jatuh hati. Rasanya seperti ingin berkali-kali membersamai mereka. Mengajar satu per satu huruf hingga menjadi suku kata dan kata. Belajar bersama. Tertawa bersama. Bercanda bersama. Semua itu yang membuatku ingin memiliki sekolah kecil suatu hari nanti. Namun, ketika ayah menanyakan hal ini entah kenapa keraguan sepintas lewat. Seakan tak punya kepercayaan diri.

“InsyaAllah bisa kok.”

“Terus persiapanmu apa aja? Bikin sekolah gak gampang, nak. Jadi guru itu musti cerewet loh. Musti bla bla bla.” ayah mengingatkan. Ayah mungkin sudah tau tentang karakterku yang pendiam.

Emang sih aku ini tergolong pendiam. Kalau ibuku pernah bilang, “Kamu tuh musti diajak ngomong dulu baru mulai. Jarang liat kamu ngomong duluan.” Sementara teman-temanku sering berkata, “Lo tuh kalo ngomong sama dua atau tiga orang aja, nanti kalo ada orang keempat dan kelima dateng, lo langsung jadi pendengar yang khusuk. hahaha”

Inilah yang membuatku meragu. Karakterku yang pendiam apakah bisa menyatu dengan berbagai anak yang memiliki berbagai macam karakter? Namun, entah kenapa aku tetap ingin memiliki sekolah dan ingin mengajar, minimal bimbel lah. Berbaur dengan mereka. Itu kenginanku, boleh kan?

Nah, baru-baru ini kenginanku mengajar alhamdulillah tercapai. Aku ngajar sambil kuliah. Biasalah mahasiswa mengajar bimbel anak-anak SD, SMP, dan SMA. Kali pertama mengajar tentunya ada perasaan grogi. Beda dan sangat beda ketika ngajarin anak TK yang masih imut-imut meski nakal. Dari mulai penyampaian bahasa yang kita gunakan, contoh-contoh yang kita sampaikan sampai candaannya pun jelas berbeda. Karena anak-anak yang kali ini aku ajarin udah lewat masa ‘keimutannnya’. Makanya rasa gemas, sayang-sayangan sama main-mainnya aku kurangin…hehehe. Meski begitu, aku tetap suka dan semangat ngajarin mereka. Aku tetap sayang sama mereka. Aku merasa ada ‘kehidupan berbeda’ jika sedang mengajar. Mengajar dan belajar terasa erat banget kaitannya. Aku jadi banyak belajar terutama menyelami karakter tiap anak. Gimana sih rasanya supaya aku ngajarin mereka biar gak ngebosenin, biar gak ngebetein, biar tetep santai tapi jalan terus, ngebangun suasana hepi tapi tetap kondusif. Inilah ilmu baru yang membuatku ingin belajar. Mengajar sambil belajar. Membuatku belajar lebih banyak lagi.

Setelah beberapa hari aku mengajar, baru lah aku berani ngomong ke ortu kalo sekarang aku kuliah sambil ngajar. Meski jurusan kuliahku bukan keguruan. Awalnya ortu sedikit gak setuju, mengingat aku masih kuliah semester lima, tapi aku mengingatkan mereka tentang obrolanku dengan ayah setahun yang lalu. Dari situlah ortu mulai mendukung, asalkan tidak mengganggu kuliahku. Semenjak itu, ayah banyak memberi saran, “Kalo nanti ngajar, jangan hanya ngajar aja, tapi tangkap segala ilmunya.” Mengingat  keinginanku adalah punya ‘sekolah’, ayah bilang supaya aku memperhatikan manajemen tempat bimbelku. Aku antusias sekali. Rasanya senang dengan dukungannya.

Setidaknya, kenginanku untuk memiliki sekolah kecil atau lembaga pendidikan itu satu langkah lebih maju. Tidak hanya sekedar keinginan, tapi juga digerakkan oleh actionku saat ini. Dua hal yang paling aku sukai ketika mengajar. Pertama, mereka mampu mengubah suasana moodku jadi lebih tinggi dan lebih baik. Mereka, dengan segala tingkah pola dan candaannya mampu membuatku tersenyum tulus meski dalam keadaan sedih dan tertekan sekalipun. Kedua, melihat mata mereka, seperti melihat cerminan masa depan. Di tangan mereka lah hal-hal baru akan tercipta. Meski, saat ini aku hanya sekedar menjadi ‘tentor’, tapi mungkin kerja kerasku mengajar mereka akan ‘sedikit’ meski sedikit saja menuntun keberhasilan mereka. Aku senang, senang, senang. Hal inilah yang membuatku makin berazam untuk memiliki sekolah.🙂

InsyaAllah dengan diiringi doa dan kerja keras, hal ini bisa terwujud. Aamiin.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s