Posted in Cerpen

Mencintai Bunga

Dulu, dua tahun lalu, pernah ada sosok yang secara tiba-tiba datang padaku di kala senja hampir turun di hari Minggu. Sosok berkaos putih dengan celana panjang hitam mengatung di atas mata kaki. Ia menyapa di saat langit tengah menampakkan wajah kemerahannya, angin berhembus sejuk, serta kawanan burung-burung yang hendak berbondong-bondong menuju sarangnya.  Aku hanya tertegun sendiri di depan rumah. Menunggu sesuatu. Entah siapa atau apakah itu dan ini sudah menjadi kebiasaanku. Sosok itu datang perlahan-lahan menghampiriku. Ia datang dengan keramahan lengkap dengan sesungging senyum di wajahnya.

“Gadis cantik, siapa namamu?”

Aku tersipu sekaligus kaget. Rasanya pertanyaan itu asing bagiku. Belum pernah ada seorang pun yang menanyakan sebuah nama padaku. Tapi dia? Bahkan untuk menyebut namaku sendiri saja aku asing. Bahkan keluargaku saja hampir tak pernah memanggilku dengan nama asli. Tapi dia? Dia bertanya siapa namaku? Terus terang aku malu sekali mengatakannya.

“Sebenarnya saya memiliki nama, tetapi orang-orang memanggil saya dengan dek Nut.”

Sosok itu tersenyum, “Apakah Nut itu kakakmu?”Aku hanya mengangguk. Bagaimana tidak, hampir semua anak perempuan di daerahku dipanggil dengan sebutan dek ditambahi dengan nama abangnya di belakang. Ini sudah menjadi tradisi. Turun-temurun. Keluargaku dan aku hanya mengikuti tradisi itu. Memang, abangku bernama Panut. Itu sebabnya aku dipanggil dek Nut. Rasanya lucu memang. Sebutan nama aku sendiri seakan tidak pernah ada.

“Kamu tentu punya nama yang indah,” ujarnya seraya mengembangkan senyum di wajahnya. Ia menatapku tajam. Mencoba menelisik sebagian dari diriku. Ada ketakutan menjalar ke seluruh tubuhku. Takut memberitahukan namaku. Sebab, sebelumnya tidak pernah ada seorang perempuan di daerahku yang memberitahukan nama asli mereka. Tetapi orang ini? kenapa ia begitu peduli dengan namaku? Ibuku saja tak pernah memanggil namaku, Lalu, bagaimana mungkin aku akan mengatakannya kepada seseorang yang belum aku kenal? Aku hanya tahu, sosok itu adalah pendatang baru dari daerah kota. Ia bekerja sebagai seorang jurnalis. Mungkin itu sebabnya, ia ingin sekali tahu namaku. Aku tahu dari teman-temanku yang bercerita ketika bermain kemarin. Kata mereka, sosok itu kelihatan teduh dan sederhana.

Aku memang belum pernah bertemu langsung dengannya. Aku jarang bermain keluar rumah jika tidak dipaksa untuk bermain. Lagipula, aku ini pemalu.

“Kenapa kamu diam saja? katakan apa yang ingin kau katakan. Jangan kungkung dirimu terlalu dalam. Saya akan menunggumu di sini sampai kamu memberitahukan namamu.”

“Nama saya Bunga,” ucapku dengan malu-malu. Sosok itu membalikkan badannya. Secepat kilat aku langsung lari ke dalam rumahku. Menutup rapat pintu rumahku dan menguncinya. Ia menyerukan namaku. Sekali saja. Aku hanya terdiam, mengintip dibalik tirai rumahku. Tak berapa lama sosok itu pun pergi.

***

Jurnalis itu adalah seorang laki-laki dengan wajah teduh dan penampilan sederhana. Sejak itu, ia jadi sering datang ke rumahku walau hanya lewat di depan saja. Sementara aku, seperti biasa duduk tertegun depan rumah. Seringkali ia berhenti tepat di depan mataku. Kemudian tersenyum dan melambaikan tangannya. Pernah suatu kali ia berkata padaku bahwa ia senang karena menemukan perempuan seberani aku yang mau memberitahukan nama aslinya. Bunga, menurutnya nama yang cantik dan juga indah. Ia merasa terkesan.

Aku tentunya masih malu. Apalagi kalau membayangkan ia berkata, “Bunga, kamu cantik hari ini.” atau mungkin dia berkata, “Bunga, belajarlah mencintai dirimu sendiri. Mencintai dirimu apa adanya. Kau tentu bisa kan?”. Terasa aneh dan kaku. Mungkin karena aku terbiasa untuk dipanggil dek Nut. Sebetulnya, ada keinginan jika orang-orang memanggilku dengan sebutan Bunga. Tentu aku akan senang. Namun, keluargaku pun tak pernah memanggilku Bunga. Bagaimana bisa aku berharap ada orang lain yang memanggilku Bunga, selain dia?

Sebagai perempuan, apakah kau ingin menjadi bunga yang ditemani banyak kupu-kupu yang datang menghampirimu?

“Kau bahagia Bunga?” ia bertanya di suatu senja saat kami berdua mengitari taman dekat rumah.

“Tidak ada seorang pun selain kamu yang memanggil saya Bunga. Bahkan keluarga saya sendiri.”

“Apa itu artinya kamu lebih suka dipanggil dengan sebutan dek Nut?”

“Kamu tentu tahu apa yang ada dalam hati saya.”

Kemudian aku pun bergegas pergi meninggalkannya. Sedikit berlari meninggalkannya. Samar-samar namaku dipanggil. Ia meraih tanganku. Aku pun berbalik. “Kalau begitu, belajar lah mencintai namamu sendiri. Belajar lah mencintai apa yang ada dalam dirimu.” katanya, seraya memberikan setangkai mawar putih. Kemudian berbalik memunggungiku.

Aku mencintai namaku sendiri. Setiap perempuan tentu akan senang mendengar nama mereka dipanggil. Sejak saat itu, sepertinya banyak perempuan di daerahku yang dipanggil tidak dengan sebutan dek lagi. Mereka cenderung meminta orang-orang yang memanggil mereka dengan sebutan nama. Suatu perubahan terjadi.

***

Lelaki berwajah teduh itu berkata padaku bahwa belakangan banyak yang mendatanginya. Semakin hari semakin banyak gadis yang memiliki abang tidak ingin dipanggil dengan sebutan dek lagi. Banyak orang-orang yang tidak suka dengan caranya merubah kebiasaan di daerah kami. Mereka marah dengan perubahan ini.

Aku tertegun.

“Bagus sekali Bunga jika mereka marah. Itu tandanya baik. Saya tahu mungkin keberadaan saya akan sulit di sini. Hanya saja kita tidak boleh berdiam diri. Saya lelaki yang menghargai perempuan, Bunga. Sampai kapan perempuan bebas menentukan pilihannya sendiri? Sementara untuk memperjuangkan sebuah nama saja mereka tidak berani. Saya menghargai perempuan Bunga, itu sebabnya saya ingin kamu dan perempuan-perempuan di sini bisa lebih berani.”

Aku hanya menatapnya lamat-lamat. Tak sepatah kata pun bisa kuucapkan. Hanya saja aku merasakan desir-desir hangat dalam dadaku saat ini.

“Kau hanya diam. Begitukah cara yang diajarkan kaummu di sini? Hanya diam dan patuh? tanpa kata?”

“Saya hanya malu. Malu aa…. ”

“Malu sampai kapan?”

“Entahlah.”

***

Setahun setelah itu. Tak pernah kudengar lagi kabar lelaki berwajah teduh dan sederhana itu. Ada yang bilang ia pergi dari daerahku karena pengaruhnya yang tidak diterima. Sementara aku merasa kehilangan sekali. Sosok yang pertama kali memanggil dengan sebutan nama yang aku sukai. Sosok yang belum sempat kuceritakan betapa cintanya aku saat ini dengan bunga. Bunga mawar putih.

Aku pergi ke taman tempat biasa kami berbicara. Di taman itu terhampar begitu banyak bunga. Aku berdiri di dekat bunga-bunga itu dan membayangkan wajahnya hadir. Tiba-tiba seekor kupu-kupu melintas. Hinggap pada kelopak mawar putih. Mawar-mawar itu, selalu saja, setiap kali mekar, aku merasa seperti melihat wajah sosok itu. Wajah teduh dengan penampilan sederhananya.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

One thought on “Mencintai Bunga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s