Posted in curhat

Patah Hati

Patah hati? siapa yang belum pernah merasakannya? kamu yang membaca tulisan ini mungkin pernah merasakan hal seperti ini. Yap, patah hati adalah hal lumrah yang mungkin pernah dialami oleh setiap insan (?). Patah hati sebenarnya masuk dalam kategori frase verbal sehingga saya artikan sebagai keadaan dimana pekerjaan yang ada di dalam tubuh manusia dan dianggap sebagai tempat segala perasaan batin menjadi berhenti. Aneh ya definisi saya? Itu karena saya pikir sebelum patah hati kita mengalami yang namanya jatuh cinta. Jatuh cinta adalah juga frase verbal. Kenapa frase verbal karena frase verbal menggambarkan keadaan dan proses. Jadi, ketika kamu jatuh cinta, cintalah yang membuatmu meluncur bagaikan bermain di perosotan. Pernah berpikir kenapa disebut jatuh cinta? orang-orang sering bertanya kenapa gak bangun cinta aja? Kalo menurut pendapat saya pribadi, ini karena keadaan seseorang yang sedang mengenal cinta itu ibarat meluncu dari permainan perosotan. Kata jatuh sendiri berarti meluncur ke bawah dengan cepat sampai kepada orang yang kita cintai.Nah, buat yang udah pernah jatuh cinta? bener kan kalo jatuh cinta itu prosesnya cepet banget? suiiiing…. meluncur begitu saja sambil kita nikmati. Makanya ada juga istilah cinta pandangan pertama. Bahkan kata Tangga, “Cinta tak mudah berganti, secepat saat aku jatuh hati. Jatuhkan hatiku kepadamu.”  Mungkin Tangga menulis lirik lagu karena ya itu tadi,  proses meluncurnya secepat kecepatan cahaya (?) lebay banget -_-

Udah, itu soal jatuh cinta, balik lagi ke patah hati. Nah, kalo jatuh hati prosesnya cepet banget, patah hati berbanding terbalik. Seseorang yang sedang patah hati biasanya butuh proses yang lama.  Ya itu tadi, karena patah hati adalah proses menghentikan atau mungkin diberhatikan. Susah ya melakukan pekerjaan yang kita sukai bahkan kita nikmati, tetapi harus dan terpaksa berhenti. Saya pernah mengalami yang namanya patah hati dan jatuh cinta dalam waktu bersamaan. Pertama kali jatuh cinta, saya menyadari bahwa saya sedang ‘jatuh’ di saat yang bersamaan saya pun ‘patah’. Keadaan seperti ini sering saya alami malah. Sering banget. ‘Jatuh’ hanya dengan satu objek yang sama. Satu orang saja. Dan hanya orang itu.

Saya juga gak ngerti kenapa bisa berkali-kali. Padahal kalo dilihat dari pengertiannya harusnya sekali aja cukup ya. Tapi entahlah yah, semakin dipikirkan semakin bingung. Semakin mencari alasan semakin sulit menemukan. Jujur, sebenarnya terkadang saya menangis seorang diri karena patah hati. Udah mirip soundtrack lagu Bad Guy aja ya, “Sometimes I Cry Alone”. Tapi ya gitu, ketika patah hati, saya nangis sebentar, abis itu saya tidur dan bangun tidur udah lupa deh. Besoknya saya jatuh cinta lagi sama orang itu. Nah, karena proses penyembuhan patah hati saya itu cepat. Hanya dengan tidur saja. Ini membuat saya mulai terbiasa.Tapi lama kelamaan kok capek juga ya? Mungkin udah saatnya bergerak kali ya? Tapi gimana caranya? Jangan-jangan nanti jatuh patah, jatuh patah, jatuh patah terus.

Pernah denger Ayu D*** kan? itu loh MC di acara dahsyat yang sekarang sedang hamil. Pernah denger kan kisah percintaannya ama ‘pak Bupati’. Niatnya udah mau nikah. Udah di depan mata. Tapi kandas karena sang ‘bupati’ memutuskan secara sepihak. Jadilah Ayu D*** patah hati. Ia terpaksa menghentikan laju meluncurnya. Gimana caranya berhenti di saat-saat kita sedang meluncur? susah kan? Tapi dia punya caranya. Ibaratnya, dia punya obat untuk menghentikannya. Apa sih obatnya? katanya nih, obat yang dia pakai adalah surat Al-quran. Surat al-ikhlas. Pernah denger kan kalo Al-quran itu adalah obat penawar hati. Obat jiwa. Nah, Ayu yang dari luar itu keliatan selengek-an, tapi ternyata punya sisi ‘mantap’ dengan sikapnya. Daripada nangis terus-terusan, berlanjut gak jelas alirannya. Ia lebih memilih untuk mencoba berhenti dengan membaca surat Al-Ikhlas setiap hari. Ia meminta pada Sang MahaKuasa untuk segera menghentikan perasaannya. Akhirnya? Berhenti deh. Bahkan setelah berhenti dia justru jatuh cinta dengan orang yang lebih baik. Mendapat yang lebih baik. Menikah dengan yang lebih baik.

Sama halnya dengan sepupu saya. Dia jatuh cinta pada seseorang. Lalu mereka berdua hampir menikah. Sudah pesan gedung segala. Namun, apa yang terjadi? mereka berdua tidak jadi menikah. Satu pihak membatalkan.  Patah hati? Pastilah. Sedih? iyalah. Namun, gak berkepanjangan. Dia coba berhenti dengan membaca surat Al-quran. Katanya baca surat Al-fatihah setiap kali ingat someone itu. Setelah itu? Setahun kemudian ia menikah dengan orang yang lebih baik dari sebelumnya. Lebih cerdas, lebih beragama. Pokoknya lebih deh.

Nah, setelah mengingat dua cerita itu. Saya kok berpikir untuk melakukan hal yang sama ya? Saya pikir perasaan saya sudah saatnya berhenti. Obat yang saya pake adalah dengan membaca surat Al-quran. Karena saya suka dengan surat Ar-Rahman, saya pilih untuk menyembuhkannya dengan membaca surat itu.  Alhamdulillah, setiap kali saya mengingat orang itu. Kemudian saya membaca surat Ar-Rahman, air mata yang tadinya udah ngantri di pelupuk mata mendadak gak jadi.  Hati saya merasa tenang. Gak galau. Gak gelisah. Gak sedih. Saya ikhtiar baca surat ini. Percaya bahwa Allah adalah Dzat MahaKuasa yang menggenggam hati.
Mungkin saja, suatu hari nanti saya akan temukan sahabat sejati. Tidak sekarang, mungkin nanti dan itu pasti.
Selamat menjemput kebahagiaan.🙂

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s