Posted in Cerpen, curhat, Puisi

Kakak Teh

Sudah kukatakan, setiap kali berhadapan mereka selalu ada perasaan baru yang menyelimuti hati. Lalu kali ini apa?

Aku menyayangi mereka dengan sederhana, sesederhana seperti ketika aku tersenyum saat mengingat mereka.
๐Ÿ™‚

Kali ini, mungkin aku dikerjai sama adek-adek manis. Mereka memintaku mengajarkan mengenai sastra. Lalu kuajar mereka unsur-unsur umum yang ada dalam sastra. Setelah pembahasan selesai, mulai lah kejahilan mereka. Aku tak pernah keberatan untuk dijahili, bahkan terkadang aku senang saja meladeni mereka. Ya, aku senang.

Sama seperti ketika mereka memintaku membuat sebuah puisi.

“Kak, ayo bikin puisi buat kita. Bikinin dong kak….bikinin….” Mereka merajuk. Aku tahu strategi mereka kali ini hanya untuk mengulur waktu. hahaha

“Gak mau ah,”

“Ayo dong kak, bikinin…. tulis aja di papan tulis. Kan kita tadi udah belajar teorinya, sekarang prakteknya.” Pinta salah satu anak sambil menarik-narik lenganku.

“Okelah,” Kemudian aku beranjak dari kursi, berdiri di sebelah papan tulis “Kalian mau puisi apa?”

“Percintaan kak….hahahhaha”

Aku hanya geleng-geleng melihat tingkah mereka. Memandangi mereka satu per satu dari depan membuatku mengingat masa SMA. Begini kah tingkah lucuku dulu?

“Iya deh….” perlahan kurangkai satu demi satu kata.

Teh

Seandainya dia teh,

mencintainya sama seperti minum teh

: manis di lidah; hangat di hati.

Mencintainya juga sama seperti minum teh

: terlalu banyak gula akan membuatku sakit.

Aku suka sekali teh,

tapi aku ingin sehat.

Siapa Dia?

Aku tidak tahu harus kusebut apa dia.

Dia bukan teh, bukan juga sirup.

Tapi sama manisnya.

Kepadanya,

aku tidak takut menambahkan gula

sebab aku dan dia punya penawarnya.

Meski teh telah tawar rasanya.

Meski teh telah memudar manisnya.

Aku tetap menyukainya.

Terangkai sudah puisi yang pernah kubuat dua tahun yang lalu. Entah kenapa puisi itu yang terlintas dalam ingatanku. Puisi kenangan. Ah, kalian, selalu bisa membuatku tersenyum.

“Cieee kakak, itu tehnya siapa kak? Itu masuk majas apa kak? itu ceritanya tehnya orang kan? cieee cieee….”
sorak sorai membahana seantero kelas.

“Kan kalian yang minta, ya kakak tulis aja…yeeee” lidahku melet, tak mau kalah. Aku pun ikut menyoraki mereka. Hahahaha. Kami saling meledek satu sama lain.

“Eh, kakak kita panggil kak teh aja ya? atau teteh aja deh.. cieee kak teh, cieee teteh…”

Aku tersenyum. Menggeleng-gelengkan kepala. Entah kenapa meski mereka jahil padaku. Aku makin menyayangi mereka. Ya, menyayangi mereka dengan sederhana, sesederhana ketika aku tersenyum dijuluki ka’ Teh olehnya.๐Ÿ™‚

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

2 thoughts on “Kakak Teh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s