Posted in curhat, Sedikit Ilmu

Sebuah Dedikasi

Gedung satu FIB UI tampak ramai oleh sekerumunan orang. Tampaknya ada sesuatu yang menarik banyak perhatian. Ternyata di sana sedang diadakan beberapa acara untuk memperingati dies natalis FIB UI ke-72. Hari itu, Senin, 3 Desember 2012 sedang diadakan seminar dan juga pameran tekstil. Beberapa orang berbaju batik mondar-mandir di sebuah ruangan tempat pameran tekstil berlangsung. Dalam pameran itu, terlihat berbagai macam corak tekstil dengan ciri khas masing-masing yang menggambarkan begitu beragamnya budaya Indonesia. Pameran itu diselenggarakan oleh Museum Tekstil Jakarta yang berlokasi di wilayah Jakarta Barat. Pameran yang hanya diselenggarakan di sebuah ruangan berukuran kurang lebih sepuluh kali sepuluh meter tersebut memuat koleksi yang terdiri dari kain batik, kain tenun, kain campuran, dan busana tekstil kontemporer. Melalui pameran itu, kita, terutama mahasiswa, dapat mengenal lebih jauh tekstil khas bangsa. Selain itu, dalam pameran tekstil itu juga terlihat wajah-wajah puas orang-orang berbaju batik. Entah siapa pun mereka, sepintas dari raut wajah, sepertinya hasrat untuk mengenal lebih jauh tentang corak tekstil Indonesia tertunaikan.

Beralih dari ruang pameran tekstil, beberapa orang sedang berkerumun di depan pintu auditorium gedung satu FIB UI. Ada sebuah seminar yang diadakan oleh Forum Budaya dan Penghargaan Kebudayaan FIB UI. Seminar ini mengambil  topik Menggali Potensi Budaya Bumi Sriwijaya. Seminar ini terdiri dari dua sesi, yaitu diskusi ilmiah mengenai potensi budaya dan pemberian penghargaan pada orang-orang yang seringkali terabaikan akan jasanya. Dalam  seminar itu ada beberapa orang yang menjadi pembicara, yaitu Poppy Safitri M.Hum selaku direktur desain dan interior pariwisata ekonomi dan kreatif, kemudian Dr. NinieSusanti M.Hum sebagai dosen arkeologi FIB UI, ditambah dengan Sutrisman Disah sebagai wartawan senior Harian Sriwijaya Post.

Di antara dua sesi dalam seminar, ada sesi menarik mengenai pemberian penghargaan. Dalam sesi ini, terdapat dua orang yang mendapat penghargaan atas pengabdian dan jasanya selama ini. Jasa-jasa yang acapkali terabaikan oleh pemerintah. Penghargaan sebagai bentuk kepedulian FIB UI pada mereka. Penghargaan ini diberikan oleh ibu Hasanah dan pak Ki Kajali.

Ibu Hasanah berasal dari Palembang. Ia adalah penenun kain songket Palembang. Kabarnya ibu dengan penuh dedikasi ini tinggal di sebuah kampung Ki Gede di sudut wilayah Palembang. Ibu yang memiliki lima orang anak ini mulai membuat songket sejak gadis. Kemampuan ini diwarisi ibu Hasanah dari keluarganya yang sudah turun-temurun. Meskipun saat ini ia sudah tua renta, tetapi dengan dedikasi yang tinggi ia tetap membuat songket. Namun, keterbatasan modal membuat karya-karyanya tidak begitu dikenal karena ia hanya seorang penenun upahan. Terlihat guratan-guratan kehidupan begitu keras tergaris di wajahnya. Saat ini, menyadari keterbatasannya sebagai penenun kain songket makin berkurang, ia pun mewarisi kemampuannya kepada anak-anaknya juga menantunya. Ia tetap ingin kain songket lestari di Palembang. Meski ia berpikir usaha ini masih sangatlah kurang, tetapi ia tetap mencoba mempertahankan songket di tanah Palembang.

Keberadaan ibu Hasanah dan keluarganya itu membuat FIB UI memberikan penghargaan kepadanya. Hal ini merupakan bentuk kepedulian FIB UI dalam mempertahankan ciri khas tanah Palembang. Kain songket dinilai dapat digunakan sebagai alat diplomasi bangsa, produk dari hasil asli karya bangsa Indonesia, dan memiliki potensi ekonomi yang baik. FIB UI percaya, dengan memberikan bentuk apresiasi penghargaan ini, sama halnya dengan membantu mempertahankan jati diri budaya bangsa.

Penghargaan lain juga diberikan oleh Ki Kajali. Baginya, “Hidup untuk wayang, wayang untuk hidup.” Pria yang sudah separuh baya ini terlihat sederhana dan bersahaja. Pria yang setiap hari mengayuh sepeda ini tinggal di wilayah Banten, Serang, Kecamatan Carenang. Pria ini berumur 64 tahun . Pria yang selalu berpakaian safari ini menggeleluti pekerjaan sebagai seorang dalang kesenian Wayang Garing. Pekerjaan yang sudah digelutinya sejak tahun 1964.

Kesenian Wayang Garing dibentuk dari boneka kulit tanpa digenapi dengan suara gamelan. Inilah bentuk kesederhanaan yang menjadi ciri khas Wayang Garing. Wayang yang dikenal selama ini selalu diiringi oleh sinden dan suara gamelan, tetapi berbeda dengan Wayang Garing. Pak Ki Kajali hanya memainkan wayang-wayangnya dengan diiringi suara kecrek yang ditempelkan di kotak kayu dan ditendang-tendang dengan kaki kanannya seraya duduk bersila. Pria yang sudah berumur ini tampak apik dengan memegang ketokan kayu yang ditumbukkan pada kotak kayu sebagai penanda dialog antara tokoh wayang yang sedang berpentas. Namun sayangnya, kemiskinan membuat wayang-wayang kulit ini hanya diperbarui dengan dicet ulang. Wayang-wayang inilah yang menjadi sandaran hidup Ki Kajali.

Oleh karena usaha Ki Kajali, FIB UI memberikan penghargaan untuk menghargai jerih payah Ki Kajali yang terus mempertahankan Wayang Garing. FIB UI menganggap Ki Kajali sangat luar biasa karena mampu mempertahankan Wayang Garing di antara budaya populer yang ada sekarang ini. Sangat penting bagi kita semua untuk menghargai karya anak bangsa. Tidak hanya sesuatu yang terlihat mewah dan bagus, tetapi juga memiliki nilai yang luar biasa yang dapat menjadi inspirasi bangsa.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

11 thoughts on “Sebuah Dedikasi

      1. Pengennya kak :’) Saya mahasiswa baru tahun ini hehe. Tadinya lwt jalur undangan saya milih UI FIB ilmu perpus, tp yah.. ga keterima :’) saya pgn bgt masuk UI kak hehehe :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s