Posted in Cerpen, curhat

Memaafkan Masa Lalu

Lelaki itu duduk memeluk betisnya. Ia duduk bersandar pada sebuah dinding. Wajah penyesalan kembali ditundukkannya. Raut muka penuh kekhawatiran dan kecemasan tergambar di wajah. Berkali kali ia mencengkram kepalanya dengan kedua tangannya sendiri. Ia tutup kedua matanya.

Kenangan itu muncul lagi. Kebahagiaan semu itu terlukis lagi. Aaah! dia tak hendak mengutuki kenangan itu, tapi hatinya berkata lain. Ada sesuatu yang entah apa selalu membuatnya berhenti. Kenangan itu mungkin tak terus menerus datang. Hanya memori yang selalu saja mengingatkan. Ia yang mukanya pernah merah padam ketika melihat perempuan yang dicintainya bersama lelaki lain. Mereka berdua tertawa bersama. Sementara lelaki itu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat. Alisnya terangkat naik sementara darahnya terpompa begitu cepat. Aaaah! rasanya sudah lama sekali! tetapi masih tetap terasa hingga saat ini!

Meskipun begitu, ada sebuah ruang kecil yang menyentil ruang batin kita. Nyatanya, rasa kecewa, marah,menyesal, dan takut masih tinggal di sana karena kita tak bisa memaafkan diri sendiri. Penyesalan. Sejatinya, kita patut bersyukur pada Allah karena melalui penyesalan kita ditemukan jalan ‘sadar’.

Lelaki itu berdiri dari duduknya. Lantas ia mengambil tas ranselnya lalu berangkat ke kampus. Sampai di kampus, ia duduk kemudian memandang seorang perempuan berjilbab biru. Perempuan yang akhir-akhir ini sering membuat dia galau. Kegalauannya bukan karena perempuan itu. Namun, lebih kepada masa lalunya. Karena perempuan itulah akhir-akhir ini memori busuk kembali menariknya.

Seorang dosen agama masuk. Dosen yang cukup disegani oleh mahasiswanya. Dari beliaulah ketentraman itu terkadang datang. Dosen agama itu pun memberi tugas. Ia meminta para mahasiswa untuk mencari batu di halaman kampus. Batu-batu yang mereka cari sesuai dengan banyaknya orang yang mereka benci. Setelah itu, ada beberapa mahasiswa yang membawa hanya satu batu, dua batu, tiga, sepuluh, bahkan dua puluh batu. Sementara lelaki itu membawa dua buah batu, tetapi keduanya adalah batu yang besar. Lalu sang dosen meminta mahasiswanya untuk memasukkan batu-batu tersebut ke dalam tas mereka. Hampir semua mahasiswa mengeluh keberatan, pun begitu dengan lelaki itu. Ia merasa begitu berat menenteng tasnya yang berisi batu. “Apakah enak membawa batu-batu di dalam tas kalian?” sang dosen bertanya sementara mahasiswa menggelengkan kepala mereka. Tiba-tiba lelaki yang akhir-akhir ini sering dilanda kecemasan itu pun tersadar akan suatu hal.

Setiap jalinan peristiwa adalah bagian dari kehidupan belajar, setiap pertemuan dengan orang-orang pun adalah sebuah pembelajaran. Memaafkan memang sulit, tetapi hati yang penuh rasa kecewa, amarah, sakit, dan luka tidak akan menyelesaikannya. Penyesalan memang terlambat. Namun, langkah melapangkan hati adalah selanjutnya. Masa lalu itu ibarat pecahan gelas yang terkumpul di sampah. Tidak berarti apa-apa. Namun, ketika memasukkan gelas itu ke tempat sampah kita tergores atau terluka, mungkin akan membawa bekas. Luka goresan itu akan sembuh dengan diobati. Cara mengobatinya tak lain adalah dengan memaafkan dan berdamai. Memaafkan diri sendiri dan orang lain serta berdamai dengan hati.

Lelaki itu pun menundukkan kepala, tak lama kemudian ia kembali menaikkan kepalanya. Ia tersenyum. Rasa cemas dan takut yang melingkupinya itu hilang. Ia datangi perempuan yang akhir-akhir ini sering dipikirkannya.(*)

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s