Posted in curhat, Sedikit Ilmu

Pentingnya Rasa Aman

Kemarin saya mengajar anak-anak SMP dan ini pertama kalinya buat saya ngajarin anak SMP. Di antara mereka ada satu anak yang mencoba berulah. Cari masalah. Ribut ingin pulang. Awalnya saya merasa sedikit kesal dalam hati, tapi saya coba sabar. Setelah itu, saya justru mendekatinya. Saya elus rambutnya sambil senyum. Eh, dia nanya, “Kenapa kakak malah giniin saya?”. Saya senyum sambil jawab, “Kasar itu dilawan dengan lembut, gelap dilawan terang, dan benci dilawan dengan cinta.” Setelah itu, si anak entah kenapa tiba-tiba langsung diam dan duduk manis lagi. Nah, setelah kejadian itu, saya jadi mikirin dia. Terus terang itu pertama kali pengalaman dukanya mengajar. Kita dituntut untuk ekstra sabar menghadapi berbagai macam kepala. Selama ini saya hanya menemukan anak-anak yang cerewet, rajin, pendiam, pemalu, dan cuek tapi kemarin saya nemuin lagi jenis anak yang “pemberontak”.

 

Sekarang saya jadi mikirin, kenapa anak itu berulah? di rumah dia bagaimana? orangtuanya dan keluarganya bagaimana? pergaulannya bagaimana? Nah, mikirin anak itu membuat saya memutar kembali ingatan semasa kecil. 

 

Gambar

 

Kita semua pasti pernah merasakan jadi bayi. Pernah kan suatu hari, saat kita kecil dulu, kita punya satu barang yang sangat-sangat berharga? sehingga ketika barang itu diambil, dengan cepat kita langsung merengek dan nangis kejer minta dikembalikan lagi. Mungkin dulu ketika kecil, kita punya boneka Teddy Bear, mobil-mobilan, buku, bantal, atau bahkan empeng yang sangat kita sayangi? dan ketika barang kesayangan kita diambil, diumpetin, atau direbut langsung kitanya nangis? pernah kan lihat bayi atau balita yang ditinggalin ibu atau bapaknya pergi buat kerja. Lalu apa yang terjadi? mereka juga nangis kejer gak karuan.

 

Kenapa bayi, balita, dan anak kecil itu nangis kalo barang kesayangannya atau orangtuanya hilang? karena mereka telah kehilangan rasa aman. Bagi mereka, barang-barang dan orangtuanya lah tempat mereka memercayai rasa aman mereka. Ternyata, rasa aman itu sangat penting dalam kehidupan loh. Rasa aman dan nyaman diperlukan oleh setiap manusia. Bagi si bayi, boneka Teddy Bear dan orangtuanya yang begitu lembut itulah tempat ia bersandar, bermain, dan menghabiskan waktu sehingga ketika boneka dan orangtuanya tidak ada, ia pun merasa tidak aman dan merasa terganggu. 

 

Hal ini pun sama dengan sebuah hubungan, entah itu pertemanan, persahabatan, atau percintaan. Rasa aman sangat penting dalam sebuah hubungan. Jika kita mulai resah dengan sesuatu, merasa takut, depresi, ataupun frustasi. Kita akan cenderung mencari-cari orang yang menurut kita aman untuk dapat membantu kita. Setelah kita merasakan aman bersama orang tersebut secara otomatis keakraban akan tercipta. Kita percaya padanya dan merasa orang itu dapat diandalkan, merasa orang itu dapat diajak bermain dan bersandar sehingga itulah sebab akan pentingnya rasa aman satu sama lain. 

 

Balik lagi tentang bayi tadi. Nah, begitu pentingnya rasa aman, sehingga orangtua perlu menemani dan membimbing anak-anaknya agar ia merasa aman. Saya pernah dengar, apabila seorang anak itu pemalu, pendiam, pembangkang, atau perusak adalah karena hasil didikan orangtuanya. Seorang anak menjadi pemalu dan pendiam merupakan hasil “produk” dari orangtua dan lingkungannya. Begitu pun dengan anak pembangkang atau perusak.

 

Saya pribadi cenderung berpikir, si anak yang pemalu, pendiam, perusak, atau pembangkang ini, mungkin ketika kecil kurang menemukan rasa aman pada orangtua ataupun dalam lingkungannya. Misalnya, anak yang pemalu dan pendiam. Kenapa mereka seperti itu? karena di masa kecilnya mereka cenderung ditekan. Gak boleh ini itu, jangan begini begitu, tidak boleh begini dan begitu. Mereka cenderung sering ditakuti dengan hal-hal aneh sehingga membentuk pola pikir paranoid dan ketika beranjak dewasa mereka jadi gak percayaan dan kurang sekali merasa aman. Begitu pun dengan anak yang pemberontak atau perusak. Mungkin karena dulu orangtua atau lingkungan kurang memperhatikan mereka alias cuek. Mereka jadi banyak tingkah untuk menutupi ketakutan dan kekhawatiran mereka sendiri. Inilah cara yang mereka tunjukkan. Pemberontakan yang mereka lakukan itu adalah salah satu wujud untuk menunjukkan kemandirian mereka agar tetap merasa aman. Meski sebenarnya apa yang mereka lakukan itu kurang tepat.

 

Oleh karena itu, ketika nanti kita menjadi orangtua. Jadilah orangtua yang bijak. Orangtua yang penyayang. Orangtua yang pintar. Orangtua yang dapat memberikan rasa aman yang tepat untuk anak-anak kita kelak. Agar kelak anak kita jangan terlalu pemalu atau penakut oleh karena didikan kita yang terlalu menakuti mereka dengan hal-hal yang rumit dan aneh. Walaupun sebenarnya kita berniat untuk menjaga mereka. Jangan pula terlalu membiarkan dan tidak menemani anak-anak. Sebab mereka mungkin akan menggunakan sikap yang kurang baik agar dapat memeroleh rasa aman yang seharusnya mereka dapatkan saat kecil dulu. 

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

One thought on “Pentingnya Rasa Aman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s