Posted in Sedikit Ilmu

Dongeng Kesetiaan

Muncul kenangan yang selalu aku ingat. Setelah membaca itu, bayang-bayang dalam deretan kata selalu menggantung di pikiranku. Entah mengapa, aku tak pernah mengerti. Pertanyaan itu telah melukis lengkung senyum di wajahku. Tiap mengingatnya selalu berhasil buatku tersenyum. Meski sudah sekian lama. Mengerti bahwa ada sesuatu yang pernah terjadi dalam ruang hatiku. Tersentuh begitu lembut dan halus. Tetapi setelah lama kupandangi pertanyaan itu, mataku beralih pada deretan pertanyaan yang berbeda. Meski tetap di tempat yang sama. Kusadari sudah tak selalu indah cinta. Aku hanya dapat terdiam. Deretan kata setelahnya membuatku bisu. 

Lama setelahnya, peristiwa itu hampir saja terlupa.Tapi datang angin syahdu yang menghembus lagi. Masih dari dirimu. Menelisik relung-relung hati. Lewat kaca bening nan menyilaukan. Hingga sejenak desir-desir kalbu menghangatkan jiwa. Dari balik kaca bening nan menyilaukan yang menusuk hingga ke jantung hatikulah. Sejak itu aku hidup. Hidup dalam kesetiaan. 

Jantungku mulai kuat detaknya, nadiku seperti berdenyut tak karuan. Semua tersembunyi dalam rangka terdalam. Aku tak berdaya menghadapimu. Mengusik dan mengusik. Apakah hatimu tak terusik oleh rasaku yang mendera?

Aku memilih untuk tetap menyetiaimu. Meski ternyata, memelihara kesetian itu luka. Luka yang memiliki banyak goresan.Tiap kebenaran terungkap memberikan satu goresan. Sakit. Sudah berapa goresan yang saat ini kumiliki? dan goresan itu mengantarkanku pada sebuah dongeng. Dimana aku bisa memilih untuk tetap merasakan kebahagiaan dan keindahan. Sementara kita tahu semuanya absurd.Kesetiaan ini, selalu kutimang-timang lewat ribuan kilometer jarak kita. Namun, aku selalu membangun kembali kastil di taman bunga. Dengan hijaunya rumput terbentang luas dipayungi birunya langit.

Kesetiaan itu, bukan sesuatu yang mudah untuk dibangun. Ia begitu manis hingga menciptakan cabang-cabang kesunyian dan kesepian dalam diri kita. 

Manusia-manusia lain berkata bahwa aku ini bodoh.Hanya memikirkanmu, masa lalumu, dan kenangan dulu. Tapi mereka tak tahu apa arti cinta dan kesetiaan. Hanya aku yang tahu. Kau juga tak tahu bukan? Mengenangmu, hanya ada rasa terhampar dalam dada. Menyetiaimu, hanya ada degup jantung yang berbeda dari biasanya.Kau tahu, tak ada lagi rasa yang kupunya selain setia dan cinta untukmu. Cinta yang berbalut setia. Setia yang diselipi rindu. Rindu yang berselimut sakit. Sakit karena dirimu. Maka berikan hidupmu untukku. Sakitmu untukku. Cintamu untukku.

Seringkali kisah terungkap kemudian tenggelam. Dalam keadaan itu aku tetap terpikat oleh dirimu yang semakin mengabur. Aku takut jika waktu semakin lama semakin mengaburkan bayangmu dari imajinasiku. Meski kenangan dan kebenaran lagi-lagi memaksaku untuk undur dari hatimu dan semakin aku tahu, begitu sulit kau memulihkan jiwa. Mengobati perihnya lukamu di masa lalu. Aku yang ingin menghapus lukamu. Mengobatinya dengan obat kepercayaan dan kesetiaan padamu. Tapi aku merasa tak bisa. Aku tak pernah mampu untuk hanya sekedar menyentuh bagian luka itu. Dan kau yang tak memberi celah untukku bersamamu. Kau yang selalu menjadi misteri untukku. Lalu aku berpikir untuk pamit pada kekokohan hati yang mungkin akan terisi oleh jiwa lain. Tentu saja aku tak dapat memaksa untuk menyentuh relung hatimu yang dalam, benar kan?

Pencarian akan bayangmu dan kelembutanmu. Sosok yang selalu aku cari tetap akan menjadi misteri alam karena tak ada jaminan aku akan menjamahnya. Namun rasa yang selalu datang mengabur. Meski tak pernah mengerti akan pilihanku, tapi sebuah isyarat mimpi selalu mengingatkan. Aku masih tetap harus menyetiamu. Percaya bahwa kesetiaan ini akan tetap indah. Dengan hamparan tanah luas yang akan indah pada waktunya. Bunga-bunga akan bermekaran dan semerbak mewangi akan muncul. Membangun kastil di tengah hamparan permadani hijau dengan bentangan langit biru menggantung. Awan-awan menyertai, berarak, dan membentuk pola lengkung cekung sambil berkata.”Lihatlah! dia tetap menyetiaimu.” 

 

Gambar

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s