Posted in Sedikit Ilmu

Poin-Poin Mengkritik

Sebenarnya bingung juga sih nulis tentang apa. Pokoknya pengen nulis aja. Hmm, oke deh. Kali ini saya coba review lagi ilmu yang kemarin saya dapet di kampus. Pelajaran tentang mengkritik. Poin-poin apa sih yang perlu dimiliki jika kita ingin mengkritik sesuatu? Dalam hal ini adalah sebuah karya. Karya itu bisa dilihat dari apa aja. Bisa film, buku, bahkan lukisan. Nah, sekarang ini saya coba buka poin-poin yang perlu kita ketahui jika ingin mengkritik film atau buku ya. 

 

 

Buku atau film sebenarnya sama. Hanya saja film divisualisasikan sedangkan buku berisi rangkaian kata. Keduanya itu punya satu kesatuan. Berisi cerita. Nah, kalo kita mau mengkritik film atau buku ini sebenarnya bisa dari sudut pandang mana aja. Tergantung mau pake “pisau bedah” apa yang ingin kita pakai. 

 

 

Sekarang saya hanya ingin mereview apa yang kemarin saya tangkep seputar mengkritik sebuah karya. Poin pertama yang perlu diperhatikan seputar mengkritik yaitu, katarsis. Jadi gini, ketika kita membaca ataupun menonton sesuatu, baik buruknya sebuah karya dapat dilihat dari bagaimana ia bisa memberikan katarsis untuk sang konsumen. Katarsis di sini maksudnya pemulihan jiwa, penyucian jiwa, ato penyembuhan jiwa. Maksudnya adalah bagaimana sebuah karya itu dapat memberikan pengaruh pada konsumennya. Mungkin bisa dibilang “plong” setelah mengonsumsi karya tersebut. Nah, di sinilah kita bisa mengkritik sebuah karya, apakah karya itu dapat memberikan kita katarsis? kalo iya kenapa, kalo gak kenapa? 

 

 

Poin kedua adalah Mimesis. Mimesis di sini maksudnya proses peniruan. Sebuah karya, baik itu buku, film, ato lukisan bisa dilihat dari bagaimana karya tersebut dapat menunjukkan kenyataan sosial. Misalnya gini, apakah isi yang ada dalam karya tersebut merupakan bentuk sebuah realitas kehidupan? apakah benar ada hal-hal dalam hidup yang memang memiliki unsur yang sama dalam karya tersebut. Apakah karya tersebut dapat mewakili realita kehidupan atau tidak? Meski memang sih, realitas kehidupan yang ditampilkan dalam sebuah karya tidak mungkin persis sama. 

 

 

Poin ketiga adalah kepekaan. Ketika kita ingin mengkritik sebuah karya, kita bisa menggunakan sisi sensitifitas diri. Misalnya, cobalah kita melihat apa yang tidak “nampak” atau tersirat dari isi karya tersebut. Hal yang tidak nampak pada tokoh, latar, plot dll. Dengan kata lain, cobalah melihat asumsi dari berbagai sisi yang tersirat dalam karya tersebut. 

 

 

Poin keempat itu tentang persoalan bentuk dan isi. Sering kan melihat sebuah cover buku yang keliatan bentuknya menarik, tetapi isinya nol. Nah, begitu pun dengan mengkritik sebuah karya. Jika kita ingin mengkritik, coba lihat adakah hubungan bentuk dan isi dari karya tersebut. Hubungan antara perawakannya dengan isinya. Mewakili atau tidak? Apakah dalam karya tersebut memiliki harmonisasi atau tidak? Apakah ada keterkaitan antara bentuk dan isi? bisa saja kita mengaitkan bentuk karya tersebut biasa saja, tapi isinya epic atau isinya biasa saja tapi bentuknya luar biasa. 

 

 

Poin kelima itu istilahnya poin WOW BANGET! gimana ya membahasakannya? pokoknya gini deh, ketika ada sebuah karya yang bisa bikin kita berkata “WOW ini sih saya banget!”. Kita bisa ngasih kritikan juga sama karya itu. Kalo di anime atau buku misalnya, karakter tokoh tersebut mewakili sebagian besar diri kamu. Nah, bisa tuh ngasih kritikan, bagian mana sih yang bisa buat kamu berkata “WOW! ini saya!” atau merasa takjub dengan karya itu. Apa sih yang paling mengesankan di dalam karya itu buat kamu?

 

 

Terakhir adalah poin ketelitian. Kalo kita mau mengkritik sebuah karya. Kita kudu wajib konsentrasi dan teliti mencari hubungan-hubungan dalam karya tersebut. Apakah karya tersebut hubungannya cerai berai alias gak masuk akal atau gak jelas. Pokoknya absurd. Atau mungkin karya tersebut memiliki keterpautan yang saling mendukung. Jadi kalo sebabnya begini, akibatnya jadi begitu dan hubungannya itu sesuai. Makanya kita perlu yang namanya “close reading”. Artinya membaca sesuatu dengan lebih cermat. 

 

 

Oke, kayanya hasrat menulis saya sudah tersalurkan. Kalo yang saya tangkep, kritik itu perlu, sebab membuat kita jadi lebih cerdas menyikapi sesuatu dan lebih dekat dengan persoalan.Jadi, kalo ada yang mengkritik sesuatu tentang diri kita. Tanggapi positif. Karena itu artinya dia mencoba membaca kita sebagai sebuah “karya” secara lebih dekat alias perhatian gitu. Jadi, mengkritik, boleh kan? nyambung gak sih? hahaha

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

One thought on “Poin-Poin Mengkritik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s