Posted in curhat, Sedikit Ilmu

Kartini dan Anak

Pagi ini saya melihat banyak sekali status teman-teman yang mengucapkan “Selamat Hari Kartini, semoga perempuan semakin cerdas.” atau “Happy Kartini’s Day, mari menjadi perempuan mandiri dan mapan.” atau ada lagi “Selamat Hari Kartini untuk wanita Indonesia, mari lanjutkan dan maknai peran ibu Kartini dengan karya-karyamu.” Ada sekian banyak status yang isinya gegap gempita mengucapkan Selamat Hari Raya Kartini. Apalagi ada banyak kata perempuan, mandiri, bangkit, karya, cerdas dan lain sebagainya. Pemilihan kata-kata tersebut menurut saya,  erat kaitannya sama isu kesetaraan gender.

Pemahaman masyarakat pada umumnya, kesetaraan gender erat kaitannya sama perempuan yang bisa melakukan segala bentuk aktivitas yang juga dilakukan oleh laki-laki. Semua hal yang dapat dilakukan oleh laki-laki kemudian bisa dilakukan pula oleh perempuan artinya perempuan itu sudah mencapai tahap kesetaraan. Jika berbicara soal gender, pasti tidak jauh dengan isu kesetaraan gender.

Nah, mari kembali ke ingatan masa lalu, pasti ada di antara kita yang ketika kecil sering merayakan Hari Kartini. Ada banyak kegiatan yang dilakukan untuk memaknai hari bermakna ini. Ada yang memakai baju adat lalu arak-arakan keliling jalanan; ada yang ikut lomba pakaian tradisional kartini; dan mungkin ada pula yang lomba menari dan lomba baca puisi dengan pakai baju kebaya. Saya sendiri dulu pakai baju kebaya warna hitam dan kain hitam dengan sanggul di kepala saya. Lalu didandanin pakai bedak dan bibir merah.

Pertanyaannya, apakah anak-anak yang ikut merayakan Hari Kartini itu mengerti pemaknaan kesetaraan gender? Nah, akan menarik jika orangtua dan guru juga memberikan pemahaman tentang gender. Anak-anak dengan pengetahuan yang masih terbatas dan dengan asupan-asupan informasi yang masih sedikit kiranya perlu diajarkan tentang apa sih itu gender? apa sih kesetaraan gender?

Pada anak-anak perlu diajarkan dan ditanamkan sebuah persepsi. Melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan dari bermacam hal. Persepsi ini berkaitan dengan isu gender. Nah, saya sendiri sering melihat atau mendengar percakapan-percakapan yang terkait dengan masalah gender. Misalnya, “Elo kan cowo, gue kan cewe, ya ngalah dong.” (Kasus ini di dalam bus, sepertinya si cowo sedang sakit, sedangkan si cewe kelihatan sehat.) atau ada lagi “Nyapu kan kerjaan perempuan, masa laki-laki sih yang ngerjain.” (Dalam kasus ini, si cewe sedang sibuk dengan hal lain.) Nah, pemahaman-pemahaman seperti ini yang musti diajarkan dan diarahkan sejak kecil bahwa gender itu tidak berarti pemisahan antara pekerjaan laki-laki atau perempuan itu atau pembatasan kalau laki-laki itu musti begini, sedangkan perempuan musti begitu.

Jika pemahaman nilai-nilai gender pada anak sejak kecil tidak diarahkan, akan terjadi yang namanya diskriminasi gender. Coba lihat dari percakapan di atas, jika melihat situasi, tidak perlu ada yang namanya stereotip kalau perempuan itu yang harus duduk di dalam bus sementara laki-laki harus mengalah untuk berdiri. Akan lebih baik jika ada toleransi. Seberapa pun kuatnya seorang laki-laki, dalam kondisi sakit tentu dia yang harus didahulukan. Lalu melihat dialog kedua, stereotip yang melekat kalau menyapu adalah pekerjaan seorang perempuan. Padahal, secara mandiri laki-laki itu bisa saja menyapu, tetapi karena pola pikir yang sudah tertanam bahwa menyapu adalah pekerjaan perempuan justru membuat dia tidak mau menyapu. Persepsi-persepsi inilah yang perlu diluruskan dan diberikan pemahaman kepada anak-anak. Edukasi yang jelas tentang kesetaraan gender perlu ditanamkan sejak dini agar terbentuk pola pikir sistematis. Hal ini mungkin akan berguna untuk pergaulan  anak-anak di masa depan.

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

4 thoughts on “Kartini dan Anak

  1. laki-laki dan perempuan jelas berbeda dan tidak bisa sama memiliki kedudukan yang lebih dominan semua itu karena kodratnya. sebagai wanita kita harus menanamkan didiri kita masing-masing bahwa “wanita tidak boleh lari dari kodratnya”. thanks nice artikel ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s