Posted in curhat, Pesan Ayah

Apel dan Kupu-Kupu

Suatu sore di pelataran rumah..

X : “Yah, ayah tahu bagaimana cara yang baik untuk mengutarakan rasa cinta kepada seseorang ?”

Y : “Nak, kamu tahu kan semua yang ada pada dirimu itu milik siapa ?

X : “Semua yang ada pada diri ini hanya titipan dari Allah, tentu hanya Dia yang berhak memilikinya..”

Y : “Nah, begitupun dengan rasa cintamu itu..”

X : “Lalu ?, saya masih belum mengerti apa yang ayah maksudkan ?”

Y : “Sekarang kita berpikir secara logis. Andai kamu dititipkan sebuah apel oleh seseorang, apakah kamu memiliki hak untuk memberikan apel itu kepada orang lain tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu dengan si pemilik apel tersebut ?”

X : “Tentu tidak berhak, saya harus meminta persetujuan dari si pemilik terlebih dahulu..”

Y : “Seperti itu lah rasa cinta. Jika kamu ingin memberikan rasa cinta itu kepada seseorang, mintalah persetujuan terlebih dahulu kepada Sang Pemilik (Allah), tentunya melalui do’a-do’amu. Toh, kalau memang Allah menyetujuinya, Dia akan mempermudah jalannya..”

X : “Oh begitu ya yah. Lalu bagaimana dengan hakikat jodoh ?, banyak orang bilang kalau jodoh itu harus dicari..”

Y : “Kamu tahu nak.., jodoh itu seperti kupu-kupu. Sekarang ayah ingin bertanya terlebih dahulu kepada kamu, jika kamu melihat kupu-kupu yang sedang terbang bebas dan kamu ingin memilikinya agar dapat melihatnya setiap hari, apa yang kamu lakukan ??”

X : “Tentunya saya akan berusaha menangkapnya..”

Y : “Itu hanya tindakan yang sis-sia nak.., jika kamu berusaha untuk menagkapnya, sudah pasti kupu-kupu tersebut akan menghindar dan terbang menjauhimu..”

X : “Lalu, apa yang seharusnya saya lakukan yah ?”

Y : “Jika ingin terus melihat kupu-kupu itu terbang di sekitar rumahmu, mulailah untuk menanam bunga. Jika bunga-bunga itu sudah bermekaran dengan warna nan elok, harumnya semerbak, dan memiliki naktar yang banyak, tentunya akan menarik perhatian si kupu-kupu. Sehingga kupu-kupu itu akan dengan sendirinya mendekat dan terbang di sekitar rumahmu tanpa kamu harus bersusah payah menangkapnya..”

X : “Nah.., kalau kupu-kupu itu dianalogikan sebagai jodoh, bunga-bunga yang ditanam itu dianalogikan sebagai apa yah ?”

Y : “Bunga-bunga yang kamu tanam dapat dianalogikan sebagai kualitas terbaik yang ada pada dirimu, baik itu dari segi akhlak maupun kepribadianmu..”

X : “Jadi kesimpulannya, jodoh itu akan datang dengan sendirinya, jika waktunya telah tiba ?. tugas diri ini hanya meningkatkan kualitas akhlak dan kepribadian yang dimiliki agar bisa menjadi pribadi yang pantas untuk jodoh saya nantinya.., benar begitu yah ?”

Y : “Tepat sekali, semakin pintar saja kamu nak..”

X : “Iya dong, siapa dulu ayahnya..”

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s