Posted in Cerpen, Pesan Ayah

Mengingat Kebaikan Ayah

MAGI .The.Labyrinth.of.Magic.600.1841150

“Mah, masa waktu Dinar ke RH kemarin ada mbak-mbak yang nanya, ‘Kaka rutin ya datang ke sini, biasa dianterin pacar atau suami?’ Gitu mah.” Kata saya di suatu pagi sambil sesekali meneguk segelas susu.
“Hahaha masa dia nanya gitu? terus kamu jawab apa?”
“Yaaa Dinar cengengesan aja sambil jawab, ‘Dianterin papa mba’ Gitu mah.”
Mama tersenyum kemudian menyelesaikan tegukan terakhir minumannya.
Saya masih menunggu jawaban mama sambil memandangi mama.Mama kemudian mendekati saya, duduk di samping. Kami berdua duduk di bangku meja makan bersama. “Din, dulu alm. mbah kakung juga sering begitu sama mama. Mama ingat dulu dia sering banget nganterin mama ke kantor kalo gak ada papa. Mama dulu ke pasar dianterin; ke rumah temen dianterin; ke rumah sakit juga.”
“Terus?”
“Terus mama baru ingat itu semua setelah mbah kakung udah meninggal.” Jawab mama sesekali memandang saya kemudian melempar lagi pandangannya ke luar jendela dapur.
“Jadi kenapa?”jujur saya masih belum sadar maksud omongan mama.
“Jadi ingat kebaikan orangtua. Sejelek apapun orangtua pasti punya kebaikan. Mama dulu terlambat mengingatnya. ”

Mendadak hati saya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan bersama papa. Terlebih untuk satu tahun ini. Banyak sekali waktu yang saya habiskan bersama papa. Papa yang sering menemani saya kesana kemari. Saya merasa waktu yang saya habiskan bersama papa itu biasa saja, tetapi seharusnya itu menjadi waktu yang luar biasa untuk saya. Terkadang saya bertanya kenapa sekarang musti saya? ada dua orang anak laki-laki dalam keluarga, tetapi kenapa papa bergantung pada saya? Kadang hati merasa berat seakan mau keluar dan pergi saja, tapi ternyata Allah memiliki maksud lain. Saya mampu.

Ketika saya bertemu dengan teman-teman, mereka seringkali melihat ke arah papa. “Bokap lo ikut? nungguin?” memang keliatan aneh kalau anak berumur 20 lebih masih dianter papanya? Kadang risih jika mendapat pertanyaan itu. Seakan bukan itu yang hendak ditanyakan. Lalu ditambah lagi dengan pertanyaan, “Emang bokap lo gak kerja?” kalau mendapat pertanyaan seperti itu, saya hanya menjawabnya dengan senyum, lalu membalas “Oh, papa udah pensiun sekarang support aku, aku dibantu papa.” jujur jengkel juga dapat pertanyaan seperti itu. Saya sendiri tau rasa jengkel yang saya rasakan asalnya dari sensitivitas saya sendiri.

Mendengar ucapan mama, saya jadi merasa menyesal sendiri. Seharusnya banyak waktu yang saya habiskan bersama papa itu adalah waktu yang istimewa, tapi saya hanya menganggap biasa aja. Terlebih untuk satu tahun ini, tiap minggu, tiap hari, semua dilewatkan pergi kemana-mana bersama papa, tapi sayanya malah gak pernah mikir kalau itu adalah kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh papa.

Papa sekarang sudah 55 tahun, sudah jelas banget banyak kerutan di kulit wajahnya. Rambutnya makin banyak uban. Tubuhnya makin kurus. Iya, itu gambaran kerja kerasnya di masa lalu. Pulang kerja tiap sore dan tiap hari pergi keluar rumah demi pengabdian untuk keluarga. Papa itu sekarang usianya sudah meninggi, tapi masih mau dan sanggup mengantarku kemana-mana. Sanggup membantuku apa saja dan masih mau menasihati kejelekanku.

Kemarin, ketika bersama papa makan di luar. Hanya saya berdua sama papa saat itu. Meskipun agak bingung dan kikuk harus mengatakan apa, saya beranikan diri untuk mengatakannya. “Pah, makasih ya udah sering nganterin dan nemenin Dinar, hehe.” Saya ucapkan kalimat itu dengan cengengesan saja meskipun dalam hati rasanya kok bergetar ya. Ternyata saya baru sadar, selama ini saya masih jarang mengucapkan terima kasih pada orangtua sendiri. Pada mama dan papa. Duh, kenapa rasa gengsi itu seringkali mengalahkan ya? Saya pikir jawaban papa akan mengharukan. Papa sekilas memandangi saya. Mengusap kepala saya terus tersenyum, syukur-syukur dipeluk. Eh, ternyata jawabannya, “Makanya kamu cepetan dapat jodoh biar ada yang nemenin.” Dor~~~ papa memang tidak pernah serius. -________-

Papa, aku ingin bercerita banyak, aku ingin menghabiskan waktu bersama papa lebih banyak lagi. Sebelum ada yang menggantikan. Kebaikan-kebaikan papa memang tak bisa kuuraikan satu per satu karena di tiap kali aku mengingatnya, aku selalu terisak. Tidak sanggup tiap kali mengingat sebuah momen yang tak akan pernah bisa aku tulis di sini. Satu momen yang setiap aku mengingatnya entahlah mengapa aku menangis. Seperti saat ini. Aku hanya ingin mengatakan padamu, mungkin aku terlalu malu dan gengsi untuk mengatakan ini langsung padamu, tapi pah…. sungguh aku cinta dan sayang. Maaf karena tiap momen bersamamu seringkali aku anggap biasa. Sungguh kebaikanmu selama ini tak pernah bisa kuhitung. Pah, tetaplah bersabar, setiap ujian pasti ada hikmahnya….

Penulis:

Hanya seseorang dalam rangkaian kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s